“Kok Saya Punya Karyawan Bandel Ya?”

karyawan bandelSebagai konsultan dan juga trainer, tentunya kami sering bertemu dengan klien yang mencurahkan kesulitannya dalam mengelola karyawan di perusahaan. Salah satu kata yang sering diucapkan oleh para manajer adalah karyawan saya ‘bandel’.

Kebandelannya tersebut tentu cukup beragam rentangnya namun tidak sampai pada tahap kriminal. Salah satu contoh bandel yang diceritakan adalah mempertanyakan segala hal terkait pekerjaan yang diberikan padanya, terkesan seenaknya sendiri, bekerja sesuai mood, dan lain sebagainya.

Biasanya yang mengemukakan keluhan-keluhan tersebut adalah para atasan senior yang bisa digolongkan kategori Generasi X ataupun Baby Boomers. Keluhan-keluhan tersebut dilayangkan kepada para karyawan yang tergolong Generasi Y. Melihat berbedanya generasi dari ‘pelapor’ dan ‘terlapor’ tersebut tentunya membuat hal yang menarik juga untuk dicermati.

Kebiasaan bekerja secara terstruktur, menurut pada atasan, dan taat terhadap aturan sepertinya telah terinternalisasi pada para karyawan yang tergolong pada Generasi X ataupun Baby Boomers. Bekerja adalah suatu pengabdian hingga masa pensiun, sehingga benar-benar harus patuh dan nurut. Sangat terbalik dengan para karyawan muda yang masuk pada kelompok Generasi Y (Gen Y) dengan ciri yang lebih terbuka, bebas, kreatif, dan sangat kritis.

Perbedaan nilai-nilai inilah yang terkadang membuat para atasan yang masuk dalam kelompok Generasi X/Baby Boomers menjadi memberikan penilaian ‘bandel’ ataupun susah diatur kepada para adik-adik Gen Y ini. Bila dihadapkan pada kondisi demikian, apakah kita dapat menentukan siapa yang benar atau siapa yang salah? Tentu jawabannya akan sangat subjektif, tergantung siapa yang diajak bicara.

Kita perlu melihat mengenai nilai-nilai generasi, Robbins & Judge mengemukakan bahwa saat ini perlu melakukan perbandingan pada perbedaan nilai antar generasi serta melihat nilai yang dominan pada pekerja-pekerja generasi sekarang. Bila kita bandingkan nilai kerja dominan para Baby Boomers dan Generasi X yang loyal terhadap karir serta relasi, dengan Gen Y yang selain loyal terhadap relasi juga memiliki loyalitas terhadap dirinya sendiri maka dari hal yang sedikit ini sudah berdampak cukup besar pada gaya bekerjanya.

Para pekerja dari Gen Y memang terlihat lebih percaya diri dalam bekerja sehingga jika kurang mengenal mereka, akan terlihat agak sok atau besar kepala. Hal tersebut bisa saja membuat mereka dinilai bandel oleh generasi-generasi sebelumnya. Belum lagi bila dilihat kebutuhan mereka untuk tampil lebih dan menunjukkan gaya khasnya dalam penampilan sehari-hari. Penelitian membuktikan 96% Gen Y ini lebih nyaman untuk bekerja dengan berpakaian casual dibandingkan dengan pakaian resmi, kecuali pada kesempatan-kesempatan tertentu.

Beberapa hal yang dipaparkan di atas, mungkin saja membuat para karyawan dari Generasi X ataupun Baby Boomers merasa bahwa ‘anak-anak muda’ ini bandel dan susah diatur. Padahal mereka hanya membutuhkan pemberian kebebasan dari perusahaan agar lebih dapat berkontribusi dengan inovasi mereka. Jika kita melihat ke dalam manajemen yang diterapkan perusahaan saat ini, mungkin saat-saat ini bisa menjadi momentum untuk melakukan penelaahan ke dalam untuk menghadapi gempuran para Gen Y ini.

Sistem pengelolaan manajemen sumber daya manusia misalnya, merupakan jembatan pertama dalam memastikan hubungan yang harmonis antara pekerja dari semua generasi. Dimulai dari proses rekrutmen serta seleksi yang lebih menarik, didukung dengan program pelatihan dan pengembangan yang dinamis, sistem remunerasi yang dapat memuaskan semua generasi, hingga karir yang lebih menarik. Pembenahan pada sistem manajemen sumber daya manusia tersebut menjadi penting karena inilah yang menjadi ujung tombak bagi pengelolaan harmonisasi perusahaan.

Oleh karena itu, bila saat ini Anda merasa bahwa karyawan-karyawan muda di perusahaan terkesan bandel. Anda perlu berkaca lagi, apakah memang mereka yang bandel ataukah sistem pengelolaan manajemen di perusahaan Anda tidak sesuai untuk mengelola para Generasi Y ini?

Selamat berefleksi!

*Tulisan dimuat SWA online, 11 November 2015.

zusty dewayani blogZusty Dewayani, M.M.
Konsultan, Jasa Pengembangan Organisasi | PPM Manajemen
ZTD@ppm-manajemen.ac.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s