Indonesia Berkabut Menyongsong MEA

kabut meaBeberapa pekan terakhir kabut asap Indonesia menjadi topik hangat yang mewarnai berbagai media nasional dan mancanegara. Bencana kebakaran hutan di bagian Sumatera dan Kalimantan ini bahkan mengusik negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Tentu saja bencana tahunan ini sedikit banyak menguras perhatian Presiden dan para petinggi negeri ini.

Demi mengatasi darurat asap yang sudah masuk kategori berbahaya, ya bagaimana tidak, darurat asap sudah mulai dirasakan hingga jantung ibu kota Jakarta. Hal yang berisiko karena dapat mengganggu stabilitas perekonomian dan iklim bisnis di penghujung tahun kambing kayu ini.

Tahun 2015 bisa dibilang menjadi ‘medan tempur’ bagi top management dalam menghadapi ujian dari dalam negeri dan global. Darurat asap hanyalah salah satu persoalan prioritas yang sedang dihadapi bangsa ini. Tapi sebut saja perlambatan ekononomi dunia, dampak krisis Yunani, anjloknya pasar saham Tiongkok, devaluasi Yuan, anjloknya harga beberapa komoditas, dan menguatnya US$ terhadap sebagaian mata uang dunia. Ujian tersebut menstimulus para pelaku usaha berinovasi agar mampu bertahan dan berkompetisi ditengah lambatnya laju ekonomi Indonesia.

Babak baru berikutnya yang harus segera dihadapi adalah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Seluruh perusahaan di Indonesia akan menjadi bagian mata rantai dalam perekonomian terintegrasi di kawasan ASEAN yang menciptakan pasar bebas di bidang permodalan, produk (barang dan jasa), serta tenaga kerja. Perusahaan harus bersiap diri untuk menerima aliran arus bebas produk, investasi, tenaga kerja, dan modal ke tanah bumi pertiwi ini. Perusahaan dapat menentukan pilihannya, memilih menjadi besar bersama MEA atau perlahan tenggelam dengan hadirnya MEA.

Ditengah kecemasan para pelaku usaha atas pemberlakuan MEA akhir tahun ini, para pelanggan justru tak sabar menantikan kehadiran MEA. Pelanggan sebagai penerima manfaat dari hadirnya MEA tentu ingin melihat pentas produk-produk inovasi di pasar ASEAN dalam berkompetisi. Kompetisi ini hanya akan dimenangkan dan menyisakan perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif.

Beberapa pekan terakhir kabut asap Indonesia menjadi topik hangat yang mewarnai berbagai media nasional dan mancanegara. Bencana kebakaran hutan di bagian Sumatera dan Kalimantan ini bahkan mengusik negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Tentu saja bencana tahunan ini sedikit banyak menguras perhatian Presiden dan para petinggi negeri ini.

Demi mengatasi darurat asap yang sudah masuk kategori berbahaya, ya bagaimana tidak, darurat asap sudah mulai dirasakan hingga jantung ibu kota Jakarta. Hal yang berisiko karena dapat mengganggu stabilitas perekonomian dan iklim bisnis di penghujung tahun kambing kayu ini.

Bagi perusahaan yang sudah membuka diri dan membiasakan dalam kompetisi global, tentu MEA menjadi hadiah akhir tahun yang menarik. MEA menjadi daya dorong perusahaan untuk memperkuat brand equity dan memperbesar skala ekonomi sehingga perusahaan mampu menjadi pemain utama dalam industrinya.

Hadirnya MEA harus dilihat dengan kacamata yang berbeda, hendaknya perusahaan memaknai MEA sebagai vitamin penyubur profit. Adapun yang harus menjadi perhatian perusahaan adalah:

Pertama, peningkatan transaksi di pasar virtual memberikan kesempatan bagi perusahaan  untuk membangun jaringan bisnis berbasis online di pasar virtual sehingga dapat memperluas rantai distribusi.

Kedua, perubahan perilaku konsumen yang makin rasional menuntut peningkatan standar kualitas dan inovasi perusahaan memberikan peluang terciptanya pasar yang tidak sensitif dengan harga.

Ketiga, Generasi Y yang diproyeksikan akan menjadi pemain utama dalam berbagai sektor industri dan pemerintahan 5 tahun mendatang memiliki karakteristik gaya hidup dinamis, cepat, dan social network. Potret masa depan ini menuntut perusahaan menciptakan varisi produk dan cara pemasaran yang tepat untuk segmen Gen Y.

Dan keempat, banyaknya variasi pilihan produk di pasar akan membuat siklus produk semakin pendek sehingga kemampuan proyeksi dan mengelola inovasi menjadi syarat dasar dalam persaingan. MEA akan membentuk suatu pasar yang semakin kompetitif dan  menciptakan pasar yang efisien.

Membangun Kesadaran “Cinta MEA”

Salah satu hal yang dapat dilakukan pemimpin perusahaan adalah merubah paradigma baru, “Cinta MEA”. Tentu kita masih ingat bagaimana ketika awal milenium ditahun 2000 salah satu gagasan yang dilakukan untuk menyiapkan diri dalam free trade adalah slogan “cinta produk dalam negeri”. Ya masyarakat diharapkan lebih memilih produk ciptaan dalam negeri. Mengamati fenomena perilaku konsumen saat ini yang lebih mengutamakan kualitas dan nilai inovatif, slogan “cinta produk dalam negeri” bukan menjadi pertimbangan utama dalam pembelian produk.

Paradigma baru ini bukan ditanamkan pada benak pelanggan.  Paradigma “Cinta MEA” dibangun dari semangat positif para pemimpin perusahaan kedalam seluruh level perusahaan. Seluruh karyawan diajak bersama-sama untuk mengoptimalkan sumberdaya untuk meningkatkan kemampuan inovasi perusahaan. Seluruh karyawan didorong berpikir dan bertindak inovatif dalam setiap aktivitasnya. Diharapkan semangat “Cinta MEA” akan menciptakan budaya inovasi yang melekat keseluruh lini perusahaan dan menjadi salah satu kekuatan perusahaan dimasa mendatang.

Publik menuntut perusahaan-perusahaan menunjukkan keunggulannya dalam berkompetisi di MEA. Bagi perusahaan yang membuka diri pada perubahaan, MEA adalah ladang untuk menyuburkan perusahaan menjadi lebih besar. MEA sudah hadir depan mata, ada perusahaan yang sangat jelas melihat MEA sebagai ‘sinar cerah’ dan bersiap menyambutnya dengan berbagai strategi berdaya saing. Namun, tidak dapat dipungkiri, ada kabut-kabut yang menutupi kehadiran MEA bagi sebagian perusahaan. Perusahaan masih buta akan MEA dan belum tahu cara menyambut MEA.

Apakah perusahaan Anda akan menggaungkan darurat MEA? Tak ada yang perlu dikhawatirkan perusahaan dalam menyambut MEA. Pada dasarnya perusahaan akan bertarung di rumah sendiri karena aktivitas MEA akan banyak terkonsentrasi di Indonesia.

Tentunya ini disebabkan negeri yang memiliki populasi 260 juta penduduk, diproyeksikan McKinsey dan IMF memiliki pertumbuhan perekonomian terbesar di ASEAN serta jumlah masyarakat middle class dan konsumtif akan terus tumbuh diatas 50%. Jadi, ada atau tidaknya MEA, Indonesia tetap menjadi destinasi aliran arus bebas produk, tenaga kerja, dan modal asing.

*Tulisan dimuat BUMN Insight online, 16 November 2015.

YNR 160x160Yanuar Andrianto, MM.
Core Faculty PPM School of Management | PPM Manajemen
YNR@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s