Perlunya CEO Membangun Internal Branding

personal-brandKali ini penulis mengajak memundurkan waktu beberapa tahun kebelakang demi menarik secuplik ilmu, waktu di mana kita semua melihat sosok yang begitu fenomenal kala itu. Tentu ini bukan berarti tiada lagi ilmu yang berkembang dan manfaat serta bisa diserap penulis dan khalayak di masa sekarang, bukankah ilmu itu sendiri tak lekang oleh waktu?

Tentu kita masih ingat ketika jagad dunia maya dihebohkan dengan foto Ignasius Jonan yang kala itu masih menjabat sebagai Dirut PT KAI tertidur pulas di bangku kereta ekonomi saat musim mudik lebaran, pro dan kontra bermunculan menanggapi foto tersebut. Terlepas dari pro dan kontra yang ada, menurut penulis, Jonan merupakan sosok yang memahami bahwa ketika akan melakukan suatu perubahan besar, harus dimulai dari diri sendiri, sebagai CEO.

Sejatinya waktu itu ketika diminta untuk memimpin PT KAI, Jonan dihadapkan pada kondisi perusahaan yang ‘berdarah-darah’ dan mengalami kerugian besar. Tidak dapat disangkal kepiawaian Jonan berperan dalam membalikkan keadaan PT KAI dari rugi besar menjadi untung. Namun ada hal lain yang menurut penulis menjadi faktor kesuksesan Jonan dalam mentransformasi PT KAI, yaitu membangun internal branding.

Kita mungkin sudah tidak asing dengan istilah branding. Namun kita lebih sering menghubungkan branding dengan produk, iklan dan segala bentuk kegiatan komunikasi eksternal. Lantas, apa itu internal branding sesungguhnya? Apakah menyebarluaskan iklan perusahaan kepada karyawan merupakan kegiatan internal branding?

Menurut Steve McKee, dalam artikelnya yang dimuat di BloombergBusiness, internal branding merupakan bagian dari kegiatan komunikasi internal perusahaan yang merupakan proses sinambung untuk memastikan bahwa karyawan mengerti dan memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya. Singkat kata, dalam konteks bisnis, internal branding merupakan perubahan kultur dalam organisasi dimana karyawan diajak untuk lebih customer dan business oriented.

Dalam wawancara Jonan dengan Kompas, beliau mengatakan bahwa ketika menginjakkan kakinya di KAI, perubahan yang dilakukan pertama kali adalah membenahi kultur kerja. Saat itu karyawan KAI beranggapan bahwa yang ‘memberi makan’ mereka adalah pemerintah bukan pelanggan. Dan pola pikir inilah yang menjadi prioritas Jonan dalam mengubah PT KAI.

Foto Jonan tertidur di kereta menjelaskan bagaimana internal branding dilakukan. Seperti yang sudah disampaikan, bahwa internal branding merupakan bagian dari komunikasi internal. Ketika melakukan suatu perubahan besar, seorang CEO perlu membangun komunikasi internal yang bisa menyentuh seluruh lapisan karyawan. Dan CEO juga harus memiliki itikad untuk turun ke lapangan dan menemui karyawannya untuk memastikan bahwa proses perubahan atau transformasi dipahami dan dijalankan oleh semua karyawan.

CEO memiliki peran sentral dalam proses komunikasi internal, karena ketika CEO gagal dalam mengkomunikasikan apa yang menjadi dasar perubahan dan mengapa perlu dilakukan perubahan, maka karyawan akan kehilangan arah dan tidak termotivasi untuk ikut serta dalam perubahan. CEO perlu keluar dari ruangan untuk berkomunikasi langsung dengan karyawan sehingga akan memperkecil gap antara karyawan dan manajemen.

Dalam sebuah interview dengan stasiun TV swasta, bahkan Jonan pernah mengatakan bahwa sebelum ia masuk, karyawan KAI malu menggunakan seragam mereka. Untuk kembali membangkitkan rasa bangga, Jonan memberi contoh dengan menggunakan seragam kemana pun Ia pergi, bahkan dalam rapat-rapat di DPR. Dalam hal ini Jonan ingin menunjukkan kepada karyawan, bahwa Direktur Utama pun tetap bangga untuk menggunakan seragam.

Internal branding yang efektif akan mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan. Karena karyawan mengerti akan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, dan akan merasa dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan perusahaan. Sehingga kondisi ini akan membentuk komitmen karyawan secara otomatis untuk ikut memajukan perusahaan.

Efektivitas internal branding akan sangat dipengaruhi oleh solidnya departemen corporate communication dan human resources dalam meramu dan mengembangkan konsep internal branding yang memungkinkan CEO berperan aktif dalam membangun komunikasi dan hubungan dengan karyawan. Berbagai kegiatan komunikasi internal, seperti town hall meeting, employee gathering, kick off meeting, breakfast meeting, dll bisa dioptimalkan untuk meningkatkan peran CEO dalam internal branding.

Jadi, apakah CEO perlu melakukan internal branding? Selamat berefleksi.

*Tulisan dimuat SWA online, 20 November 2015 dengan judul “CEO Perlu Membangun Internal Branding.”

Husni_Fatahilah_Siregar ppm manajemenHusni Fatahillah Siregar, M.M.C. 
Corporate Marketing Manager PPM Manajemen
HFS@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Perlunya CEO Membangun Internal Branding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s