“Sudahkah Anda Bercermin Hari Ini?”

bercerminDari artikel ini penulis mengajak sedikit bernostalgia pada masa-masa penulis bersekolah di SMA berasrama di bilangan Lembah Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Di SMA itu kami siswa dan siswi dituntut untuk selalu berpenampilan rapi setiap saat. Karenanya, hampir di setiap sudut sekolah dan asrama terdapat cermin berbentuk persegi panjang kira-kira berukuran 1m x 0,5m yang siap digunakan untuk berkaca merapikan penampilan.

Di salah satu cermin yang tersebar di gedung sekolah itu, ada satu cermin yang diberi ‘label’ seperti judul artikel ini. Jika penulis tidak salah ingat, itu adalah cermin yang diletakkan di depan ruang Kepala Sekolah.

Hampir sepuluh tahun sudah penulis lulus dari sekolah tersebut. Bukan waktu yang singkat, pun belum bisa dikatakan panjang untuk ukuran orang dalam makan asam garam kehidupan. Fase mencicipi bangku kuliah, masa-masa berkenalan dengan banyak orang baru, terlibat dalam organisasi kampus, lalu menikah hingga akhirnya terapung-apung dalam lautan dunia kerja sudah dirasakan. Namun frasa ‘Sudahkah Anda Bercermin Hari Ini?’ kembali menyelinap masuk ke dalam pikiran di suatu malam. Apa sebenarnya makna dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan melalui frasa tersebut?

Dalam perenungan yang sering dilakukan secara tidak sengaja, misal saat menunggu kereta datang, saat di dalam kereta sambil melakukan observasi perilaku penumpang, di mobil menuju stasiun dimana kondisi jalan macet dan tidak bersahabat, serta di tempat-tempat lain yang tidak terduga. Acapkali penulis menemukan benang merahnya, ternyata banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari frasa tersebut.

Kebetulan saat ini penulis sedang tertarik dengan perkembangan keilmuan di bidang kepemimpinan. Hadirnya frasa tersebut, membuat bertanya-tanya, apakah para pemimpin kita dalam sektor industri apa pun sudah sering bercermin? Bercermin dalam hal ini berkaitan dengan melihat kembali apakah gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh para pemimpin sudah sesuai dengan karakter dan perilaku bawahan yang dipimpinnya? Apakah gaya kepemimpinan yang digunakan sesuai dengan situasi yang dibutuhkan saat ini?

Salah satu model kepemimpinan yang dipopulerkan oleh Hersey dan Blanchard (1969; 1982; 1996) mengenai Situational Leadership II memberikan gambaran bahwa seorang pemimpin perlu melakukan identifikasi terhadap perkembangan bawahan sehingga mereka dapat fleksibel dalam menerapkan gaya kepemimpinan kepada bawahannya disesuaikan dengan situasi yang ada. Bagaimana hal itu bisa dilakukan?

Di dalam model tersebut, dijelaskan bahwa model kepemimpinan Situational Leadership II menekankan pada kombinasi perilaku dirrective dan perilaku supportive  yang diaplikasikan oleh pemimpin dalam situasi-situasi tertentu. Setiap pemimpin diharuskan dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya kepada bawahan berdasarkan kompetensi dan komitmen yang mereka dimiliki.

Perilaku dirrective mengarahkan para bawahan dalam pencapaian tujuan melalui pemberian arahan, penentuan target dan metode evaluasi yang digunakan, menentukan periode menyelesaikan pekerjaan, menjabarkan peran dan menunjukkan kepada bawahan bagaimana target tersebut dicapai. Umumnya perilaku dirrective dilakukan melalui komunikasi yang bersifat satu arah atau sering dikenal dengan pemberian perintah.

Sedangkan perilaku supportive membantu para bawahan merasa lebih nyaman dengan dirinya, rekan kerjanya, dan situasi pekerjaan saat itu. Perilaku supportive dilakukan melalui komunikasi dua arah dan menunjukkan adanya dukungan sosial dan emosional terhadap bawahannya. Contoh perilaku supportive antara lain; memberikan input atas pekerjaan, membantu menyelesaikan masalah, berbagi informasi, dan mendengarkan.

Gaya kepemimpinan yang ada dalam  Situational Leadership II diklasifikasikan dalam empat kategori, yaitu :

S1 : Gaya kepemimpinan PENGARAH (directing) dimana pemimpin memiliki pengarahan tinggi – dukungan rendah.
S2 : Gaya kepemimpinan PEMBINA (coaching) dimana pemimpin melakukan pengarahan tinggi –dukungan tinggi.
S3 : Gaya kepemimpinan PENDUKUNG (supporting) dimana pemimpin memiliki dukungan tinggi – pengarahan rendah.
S4 : Gaya kepemimpinan PENDELEGASIAN (delegating) dimana pemimpin melakukan dukungan rendah dan pengarahan rendah.

Selain kombinasi perilaku dirrective dan supportive yang membentuk gaya-gaya kepemimpinan, model kepemimpinan situational leadership II juga memberikan gambaran mengenai tipe-tipe perkembangan bawahan yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan gaya kepemimpinan yang akan digunakan.

Dalam model ini, tipe-tipe perkembangan bawahan diklasifikasikan menjadi empat kategori, mulai dari tipe perkembangan bawahan yang rendah hingga tipe perkembangan bawahan yang tinggi, yaitu :

D1 : Bawahan yang memiliki kompetensi rendah – komitmen tinggi
D2 : Bawahan yang memiliki kompetensi sedang – komitmen rendah
D3 : Bawahan yang memiliki kompetensi sedang menuju tinggi – komitmen bervariasi
D4 : Bawahan yang memiliki kompetensi tinggi dan komitmen tinggi

Pendekatan kepemimpinan situasional ini terbentuk berdasarkan sebuah konsep bahwa bawahan kita mengalami perkembangan berkelanjutan yang ditunjukkan melalui peningkatan komitmen serta kompetensi. Agar dapat menjadi pemimpin yang efektif, hal yang penting untuk dilakukan adalah melakukan diagnosa dimanakah tingkat perkembangan bawahan Anda saat ini dan mengadaptasikan gaya kepemimpinan terhadap mereka, sehingga sesuai dengan tingkat perkembangan bawahan.

Dalam beberapa penelitian yang telah dipublikasikan terkait dengan implementasi model kepemimpinan Situational Leadership II mengatakan bahwa, model kepemimpinan ini memiliki celah untuk lebih disempurnakan kembali. Meskipun demikian, model ini tetap dapat menjadi konsep dasar yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin untuk bercermin dan berefleksi diri.

Apakah Anda sudah melakukan diagnosa terhadap tingkat perkembangan bawahan Anda? Apakah Anda sudah menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang Anda hadapi? Seluruh pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab oleh diri Anda sendiri.

Jadi, sudahkah Anda bercermin hari ini? Selamat berefleksi. 

*Tulisan dimuat Business Review online, 22 November 2015.

Titis SetyawardaniTitis Setyawardani, S.E., M.M.
Core Consultant, Jasa Pengembangan Organisasi PPM Manajemen
TSW@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s