WhatsApp dan Work-Life Balance

wa kerjaAdli menumpahkan kekesalannya saat istirahat makan siang bersama rekan kerjanya. Betapa tidak, ia merasa bahwa bosnya membuat hidupnya seolah-olah hanya untuk kerja dengan adanya WhatsApp.

“Males nih terima WhatsApp dari bos, apa-apa yang diomongin soal kerjaan. Emangnya hidup  cuma buat kerjaan kantor doang!” ujarnya ketus.

“Kan kerjanya bukan di kepolisian, atau bagian penanggulangan bencana yang emang butuh penanganan segera. Kenapa gak bisa sih nunggu besok atau pas waktu kerja. Emangnya kalo gak dikerjain saat itu juga perusahaan bakal kolaps apa? terus banyak pekerja yang bakalan mati?” lanjutnya masih dengan ketus.

Adli geram karena smartphone pribadinya sekarang menjadi alat kerja. Pulsa yang dia beli pun tidak diganti oleh kantor. Namun, bukan masalah materi itu saja yang mengganggunya, waktunya bersama keluarga dan teman di hari libur pun dirusak oleh pesan dari bos untuk melakukan kerja, tanpa ada hitungan lembur atau extra time. Yang paling menyebalkan, bahkan di waktu cuti dan sakit pun bosnya masih saja mengirimkan pesan urusan pekerjaan kantor untuk dikerjakannya.

Lalu bagaimana hidup dan kerja bisa nyaman, yang akan berdampak baik pada kinerja, kalau keadaannya seperti itu?

WhatsApp sebagai meja kerja

Aplikasi WhatsApp (WA) dan sejenisnya, seperti BBM, Line, WeChat, atau KakaoTalk pada awalnya digunakan untuk menggantikan peran sms dan dipakai sebagai media komunikasi grup pertemanan, keluarga, atau aktivitas sosial, bukan untuk kerja. Lihatlah berapa banyak grup yang Anda tergabung di dalamnya. Anda akan merasa senang dan nyaman dalam grup tersebut. Kalau pun tidak merasa nyaman, anda tinggal left atau keluar dari grup tersebut, tanpa merasa sungkan.

Namun, begitu WA digunakan untuk grup kerja, yang di dalamnya tergabung atasan Anda, bahkan beliau menjadi adminnya, apakah Anda dengan mudahnya dapat keluar dari grup tersebut? WA telah berubah dari media yang berisi komunikasi antar teman atau keluarga menjadi meja kerja. Jari-jari yang bergerak di atas smartphone bekerja demi perusahaan. Bukan hanya pada jam kerja kantor, bahkan lebih dari itu.

WA menjadi meja kerja saat di dalam kendaraan menuju kantor atau pulang kerja, bahkan saat akan istirahat tidur. Waktunya bukan lagi hanya di hari kerja, tapi juga di hari libur. Sayangnya, belum tentu perusahaan menyediakan smartphone sebagai alat kerja dan juga memberikan kuota internet untuk online sehingga karyawan juga dirugikan selain dari perhitungan waktu kerja juga pengeluaran untuk internet.

Work-life balance

Keseimbangan antara kerja dan kehidupan sehari-hari atau work-life balance adalah hal yang diinginkan para karyawan di perusahaan. Menurut Wikipedia, Work–life balance is a concept including proper prioritizing between “work” (career and ambition) and “lifestyle” (health, pleasure, leisure, family and spiritual development/meditation). This is related to the idea of “lifestyle choice.”

Menyeimbangkan hidup memang jadi tanggung jawab pribadi individu. Namun, begitu seseorang telah menandatangani kontrak kerja pada suatu perusahaan, pengelolaan keseimbangan hidupnya menjadi berpindah sebagian ke perusahaan. Tentu saja hal ini dikarenakan hampir sebagian dari waktu hidupnya akan didedikasikan pada perusahaan tersebut.

Menurut Mayo Clinic, dampak yang ditimbulkan dari tidak terjadinya work-life balance adalah kelelahan (fatique), kesehatan yang buruk, hilangnya waktu bersama teman, keluarga, atau orang-orang yang dicintai, serta ekspektasi yang meningkat. Tentunya dampak tersebut berpengaruh buruk pada kerja karyawan yang berefek tidak baik pada kinerja perusahaan.

Kasus Adli di atas menunjukkan bahwa sudah tidak ada lagi work-life balance baginya, di mana porsi kerja (work) lebih mendominasi hidupnya atas kehidupan pribadinya untuk kesehatan, keluarga, bersenang-senang dan sebagainya (lifestyle). Hal itulah yang membuat hidupnya terasa tidak nyaman, baik saat kerja maupun di luar kantor.

Lalu bagaimana untuk memecahkan permasalahan tersebut? Judy Martin dalam tulisannya “The Solution to Better Work-Life Balance” yang dimuat Forbes.com menekankan pentingnya waktu dalam keseimbangan antara kerja dan kehidupan sehari-hari memberikan solusi untuk waktu kerja fleksibel dan manajemen waktu (time management).

Berdasarkan kesimpulan hasil laporan Families and Work Institute (FWI) dan the Society for Human Research Management (SHRM) di AS jelas dinyatakan bahwa “Flexibility programs benefit employers [no matter the size or industry], resulting in increased employee job satisfaction, lower turnover and lower insurance costs. It becomes a strategic necessity to keep employees and employers working and living well.”

Tentu saja, pihak pekerja dan pemberi kerja/perusahaan yang menerapkan waktu fleksibel juga perlu menerapkan manajemen atau pengelolaan waktu. Namun, apakah hal itu bisa diterapkan di tempat kerja Anda?

Dalam kasus Adli, atau mungkin di Indonesia pada umumnya, masalahnya bukan hanya waktu tetapi juga berkaitan dengan materi. Jika WA sudah menjadi kebutuhan sebagai meja kerja, maka selayaknya perusahaan mempertimbangkan untuk memberikan smartphone atau tablet sebagai alat kerja, juga biaya yang dikeluarkan untuk tetap dapat terkoneksi internet dan bekerja.

Untuk itu, perlu diadakan pertemuan atau musyawarah antara pekerja dan pemberi kerja demi mendapatkan kesepakatan yang merupakan ‘win-win solution’ untuk masalah waktu kerja, lembur atau extra time, alat kerja, juga biaya yang dikeluarkan. Apabila kesepakatan tercapai maka dibuatlah surat keputusan dan diimplementasikan, sehingga kasus seperti Adli yang kontraproduktif tidak terjadi di perusahaan. Maukah Anda melakukannya?

*Tulisan dimuat Business Review online, 30 November 2015.

MappesangkaMappesangka Mustafa
Corporate Communication PPM Manajemen
ANK@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “WhatsApp dan Work-Life Balance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s