Tragedi Buah Apel: “Membuang” Karyawan Bermasalah

difficult-employeeHampir dapat dipastikan dalam sekeranjang apel pasti ada satu dua apel yang tidak terlalu baik kualitasnya, entah kematangan yang belum maksimal, bentuk yang kurang ideal, warna yang kurang cerah, atau bahkan busuk sebagian karena terserang hama penyakit.

Kenyataan yang sama juga kerap ditemui dalam lingkungan pekerjaan. Dalam satu divisi pasti ada satu-dua karyawan yang agak sulit dikembangkan, kurang dapat bekerja sama hingga  bekerja dengan standar acuan dirinya sendiri, sehingga sulit mengikuti arahan, dan akhirnya diberi label sebagai karyawan bermasalah, ‘Difficult Employee!’

Sayangnya di banyak kasus, tipikal karyawan seperti ini alih-alih dikembangkan dan dikembalikan ke jalan yang benar, kembali menjadi  karyawan yang berkinerja baik, organisasi justru ‘membuang’ karyawan seperti ini ke dalam situasi yang tidak membuatnya nyaman dengan harapan dia akan menyerah dan akhirnya memutuskan mengundurkan diri. Kejam? Namun percayalah inilah yang  lebih banyak ditemui ketimbang organisasi yang mengayomi dan mengembalikan sang karyawan ke jalan yang benar.

Penulis percaya bahwa setiap individu pasti memiliki kompetensi, dan tentunya potensi untuk dikembangkan. Jika tidak, pasti ada yang salah dengan sistem perekrutannya. Sebuah penelitian yang dilansir  Forbes.com  menyebutkan bahwa kurang baiknya kinerja karyawan disebabkan banyak hal, penelitian ini lebih jauh menyebutkan bahwa 48% karyawan di seantero jagad ini tidak menyukai pekerjaan mereka, bahkan di Amerika 80% karyawan mengaku stres.

Penelitian juga menyebutkan hanya 30% pekerja yang merasa selaras dan bersemangat dalam menjalankan karier mereka. Ketidaknyamanan ketika bekerja dan stres pada umumnya merupakan pemicu demotivasi yang kemudian dapat dipastikan berujung pada penurunan kinerja.

Kristi Hedges motivator kepemimpinan, pembicara dan juga penulis buku Power of Presence: Unlock Your Potential to Influence and Engage Others seperti yang dimuat Forbes.com Januari 2014 silam, setidaknya menyebutkan delapan hal yang ditengarai sebagai penyebab demotivasi karyawan, yang jika tidak segera dicarikan penawarnya, karyawan yang demotivasi  dapat terus terjerumus dan menjadi karyawan yang bermasalah. Kedelapan hal tersebut adalah;

 1. Micromanagement

Micromanagement adalah situasi dimana sang manajer sangat memperhatikan setiap detail pekerjaan anak buahnya sehingga anak buah merasa seperti diawasi oleh sipir penjara ketika mengerjakan pekerjaan mereka. Kondisi ini bagi sebagian besar karyawan membuat suasana kerja yang sangat tidak nyaman. Ada perasaan sang manajer seperti tidak mempercayai para bawahannya. Kebanyakan karyawan akan bertahan walaupun dengan penuh perjuangan, sebagian lainnnya memutuskan berhenti. Mereka berhenti bukan lantaran semata beban pekerjaannya melainkan karena dipicu oleh gaya kepemimpinan manajer mereka.

2. Tidak ada Perubahan

Walaupun dapat dikatakan motivasi seseorang bekerja bukan semata uang, namun karyawan juga sangat memperhatikan bahwa dengan bekerja mereka dapat menjalani kehidupan secara relatif lebih baik, dan merasa bahwa pekerjaan yang mereka lakoni adalah penting. Rumitnya rangkaian birokrasi yang kadang menghambat karyawan untuk menyampaikan gagasan  membuat karyawan kehilangan semangat.

Organisasi harus benar-benar memahami bahwa ada aturan yang seharusnya diterapkan seperti jam kerja yang lebih fleksibel, penggunaan internet bagi karyawan bahkan kebijakan untuk memberikan liburan.  Sebaiknya organisasi menciptakan lingkungan kerja yang dinamis, yang lebih menantang sehingga membuat karyawan merasa mereka lebih diperhatikan, dan merasa bahwa mereka ’penting’ bagi organisasi.

3. Ketidakpastian Masa Kerja

Ketika berada dalam organisasi yang akan terpuruk, semua karyawan pasti bersiap untuk menyelamatkan diri masing-masing. Karyawan biasanya hanya bekerja seperlunya, sementara sisa tenaga dan waktu mereka manfaatkan untuk mencari peluang dan mencoba peruntungan di tempat lain dengan menyusun CV dan mengirimkan lamaran.

Tentu sebagai seorang atasan sangat sulit mengontrol situasi seperti ini, mempertahankan talenta yang berkinerja baik, apa yang dapat dilakukan hanya melakukan komunikasi yang intensif dan berkesinambungan, serta mencoba untuk memberikan pemahaman mengenai kesetiaan dan kepercayaan, memang hal ini tidak serta merta membuat mereka bertahan, namun keterbukaan akan tercipta sehingga apa pun keputusan mereka tidak akan membuat Anda sebagai manajer terkejut.

4. Ketiadaan Kepercayaan Terhadap Manajemen

Dalam bekerja terutama menjalani peran sebagai anak buah, jangan sekali-kali kita menganggap para atasan tidak kompeten. Sekali saja kita kehilangan kepercayaan terhadap mereka maka sejurus kemudian kesetiaan kita akan menguap dengan sendirinya, dan kita akan mengalami kesulitan untuk mengikuti derap langkah organisasi, tanpa disadari kita telah menjelma menjadi pembangkang!

Kontributor Forbes, George Anders mengungkapkan hasil penelitiannya yang menekankan pentingnya kepemimpinan di lingkungan kerja, Anders menegaskan bahwa  “Para pemimpin perusahaan yang menginsipirasi, yang senantiasa menyemangati anak buahnya, dan yang  mengkomunikasikan visi masa depan organisasi, akan diberkahi dengan dukungan anak buah yang mau melakukan upaya apa pun demi organisasi.”

5. Kurangnya Penghargaan atas Pencapaian Kinerja

Dalam bekerja, wajar bagi seorang karyawan jika mengharapkan penghargaan atas kontribusi yang telah mereka berikan. Jika hal ini tidak terjadi, atau bahkan lebih buruk lagi ada karyawan yang prestasinya biasa-biasa saja diberikan penghargaan yang sama dengan penghargaan yang diberikan kepada karyawan yang kinerjanya di atas rata-rata, maka wajar jika kemudian karyawan yang kinerjanya baik akan menurunkan kualitas kerja mereka dan cenderung bekerja ala kadarnya.

Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk memiliki instrumen yang mampu memberikan penilaian secara adil dan akurat kepada tiap individu dalam perusahaan, sekaligus perangkat reward dan punishment-nya. Percayalah bahwa perusahaan yang tidak memanajemeni aspek kinerja karyawannya dengan baik, sama saja dengan membuat kinerja semua orang menjadi biasa-biasa saja.

6. Komunikasi yang Buruk

Kesimpangsiuran informasi dan ketidakpastian hanya akan membuat karyawan tenggelam dalam kebingungan, prasangka bahkan menyebabkan mereka frustasi. Jika tidak ada saluran komunikasi dua arah yang efektif, niscaya akan membawa pada situasi yang lebih buruk lagi. Oleh karena itu, komunikasi yang jernih, akan membuat lingkungan kerja yang lebih efisien, dan berdampak positif terhadap moral karyawan dan menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

 7. Rekan Kerja yang tidak Menyenangkan

Banyak karyawan yang sangat menyukai pekerjaan bukan lantaran gaji yang tinggi, atau lantaran pekerjaan yang menantang, namun banyak yang dengan gembira datang ke tempat kerja hanya lantaran rekan-rekan kerja yang menyenangkan. Penelitian menegaskan bahwa lingkungan kerja yang menyenangkan dan ‘guyub’ mendorong tingkat kepuasaan karyawan hingga 50%, dan karyawan yang memiliki sahabat karib memiliki tingkat engagement tujuh kali lebih besar ketimbang karyawan yang tidak memiliki sahabat.

8. Rasa Bosan

Para pekerja dari kalangan usia Gen Y yang dikenal suka gonta-ganti pekerjaan, mereka cenderung tidak selalu mempermasalahkan gaji. Namun ‘value’ dari pekerjaan itu sendiri lah yang mereka lebih prioritaskan. Fakta ini menunjukkan bahwa organisasi yang membosankan, konservatif tidak lagi menarik bagi para talenta muda. Maka perusahaan tidak ada pilihan selain membuat organisasi yang lebih menyenangkan, modern dan senantiasa berubah mengikuti perubahan bahkan jika mungkin menciptakan perubahan.

Kegagalan organisasi mengelola  mereka yang dianggap sebagai karyawan yang bermasalah, bukan hanya sekadar ‘dosa’ organisasi kepada anak-anak kandung mereka, namun juga kegagalan organisasi dalam memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur yang telah digariskan oleh para pendiri. Pilihan ada di tangan Anda, wahai pemimpin!

Selamat berefleksi!

*Tulisan dimuat Business Review online, 7 Desember 2015 dengan judul “Tragedi Buah Apel”.

????????????????????????????????????Suhendi Suaeb
Corporate Relation PPM Manajemen
NDI@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s