Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dengan Politik?

tumbuh ekonomi dg politikSangat klasik untuk mengatakan bahwa kondisi politik yang stabil berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Nanti dulu. Ada yang tidak sepakat. Sebagian orang mengatakan, politik dan ekonomi terpisah dan tidak saling mempengaruhi, decoupling. Kalau terpisah, pertumbuhan ekonomi tidak dipengaruhi oleh gejolak politik. Bahkan ada yang lebih ekstrim berpendapat. Politik dianggap mengganggu pertumbuhan ekonomi. Artinya, politik justru dianggap menjadi beban ekonomi. Lah, yang benar yang mana?

Perlu jelas terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan gejolak politik. Kalau tahu istilah tersebut, berarti tahu juga pengertian sebaliknya, ketenganan politik. Perlu tahu juga apa dan bagaimana pertumbuhan ekonomi, dari sisi mana menyorotinya. Kalau memahamai keduanya, maka pendapat-pendapat tentang hubungan politik dan ekonomi bisa dengan mudah dipahami. Anda pun bisa menelaah, sejauh mana kondisi politik mempengaruhi usaha Anda, dan bentuk usaha atau ekonomi seperti apa yang cocok dengan kondisi politik saat ini.

Ada satu aspek lagi yang penting untuk diperhatikan terkait pertumbuhan ekonomi dan popitik. Kondisi politik bisa dianggap sebagai kondisi netral. Baik dalam situasi politik tenagg, bergejolak, maupun kondusif, semua bisa dianggap netral terhadap ekonomi, neral terhadap usaha Anda. Yang menjadikan politik berhubungan positif dengan ekonomi adalah sudut pandang Anda sendiri. Selama Anda mampu melihat celah usaha, maka semua kondisi politik adalah peluang. Begini ceritanya.

Yang sering dianggap dengan gejolak politik lebih pada hingar bingar Senayan dan Medan Merdeka. Bila banyak berita di media formal dan sosial tentang perilaku individu dan partai politik dari Senayan, orang cenderung menganggap politik sedng bergejolak. Seperti dalam setahun terakhir. Parta Golkar kisruh, yang sampai saat ini belum beres, dan belum terlalu jelas penyelesaiannya. PPP kisruh. Banyak politikus tertangkap tangan. Yang tertangkap kemudian bernyanyi sumbang di pengadilan. Potensinya, petinggi partai potensial terseret. Potensi selanjutnya, ada partai baru yang akan bergejolak juga.

Kalau itu yang dimaksudkan dengan gejolak politik, maka Anda mempersempit makna dari politik itu sendiri. Apa yan disebutkan di atas lebih pada gejolak internal partai. Penyebabnya adalah perebutan kursi pimpinan. Juga adanya usaha bersih-bersih oleh pihak pemerintah kepada orang-orang yang mengambil uang rakyat. Kalau bersih, beban korupsi mengecil, maka efektifitas ekonomi justru terbangun.

Dari mana terbangun? Biaya usaha, costs of doing business, menurun. Artinya, untuk menghasilan suatu produk, kebutuhan investasi menjadi lebih kecil dengan berkurangnya beban korupsi, dan ijin usaha juga menjadi lebih cepat. Kecepatan ini juga berkontribusi kepda rendahnya biaya melalui penghitungan time value of money. Kalau seperti itu, gejolak politik justru berhubungan positif dengan ekonomi.

Sorotan terhadap dunia politik justru dalam hal kinerja. Terutama rendahnya produktivitas di bidang legislasi. Hanya beberapa gelintir undang-undang yang dihasilkan dalam setahun terakhir. Lalu, apakah rendahnya jumlah undang-undang yang berhasil digelontorkan ke masyarakat mengganggu ekonomi? Tidak ada bukti empiris mengganggu atau menghambat. Apalagi masyarakat juga tidak tahu persis rencangan erundangan apa yang sekarang antri untuk masuk ke pembahasan dan pengesahan.

Esensi perpolitikan dari sudut ekonomi adalah seperti berikut. Politik berisiko dari sudut pandang ekonomi adalah bila kondisi politik mengganggu keberlangsungan usaha. Dan politik yang berisiko tidak selalu dalam kondisi bergejolak. Perilaku belanja oleh lembaga tinggi negara dan institusi pemerintah merupakan salah satu faktor politik penting. Beberapa negara berusaha mengarahkan masyarakat, baik melalui perundangan maupun kebijakan, untuk mengutamakan belanja produk domestik atau produk nasional. Karakter negara yang seperti ini mendorong produk lokal atau nasional, sekaligus memunculkan risiko bagi produk luar. Untuk menekan risiko, produsen asing harus mempertimbangkan untuk investasi di Indonesia supaya produknya bisa laku.

Bagi pengusaha domestik, perilaku seperti itu justru memunculkan peluang dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa aspek, banyak usaha untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri, melalui himbauan maupun kebijakan TKDN, tingkat kandungan dalam negeri. Bila itu efektif, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terdongkrak tahun ini.

Faktor kedua adalah perilaku masyarakat dalam berbelanja. Perilaku ini bisa karena secara esensi memang masyarakat berperilaku seperti itu, atau bisa juga dibentuk melalui perundangan, himbauan dengan komunkasi yang intensif, atau pemaksanaan. Perilaku yang dimaksud adalah apakah masyarakat cenderung berbelanja produk asing, asing minded, atau produk lokal. Sampai saat ini ada kecenderungan bahwa masyarakat kita menganggap, produk asing lebih bagus dari produk lokal.

Ini memunculkan risiko berusaha bagi produsen lokal, sekaligus memunculkan ide untuk meng-asing-kan produk lokal. Yang umum adalah dengan memberi nama atau label yang kesannya seperti dari luar negeri. Jadi kalau Anda ke sebuah mal, berbelanja pakaian atau makanan dengan nama asing, jangan langsung beranggapan bahwa itu dari luar negeri dan pasti berkualitas bagus. Berkualitas mungkin ya, dan seharusnya ya, tetapi dari luar tidak selalu.

Faktor politik lain memang kebanyakan bernada negatif. Termasuk di dalamnya adalah korupsi, lambannya birokrasi, ketegangan antar daerah, ketegangan denan Negara lain, dna perang dengan Negara tetangga. Beban negatif Indonesia yang masih dirasakan sampai saat ini adalah korupsi dan birokrasi. Tetapi tidak berarti buruk atau memburuk, bahkan beberapa pengusaha mengatakan dengan yakin bahwa trennya positif. Seorang pengusaha yang tidak berpolitik, sehingga pendpatnya bisa diakui netral, justru sangat optimis dan telah memetik hasil berbisnis dalam setahun terakhir. Usahanya di bidang property dan kesehatan, khususnya rumah sakit, berkembang pesat.

Sekarang kita beralih ke ekonomi. Perumbuhan ekonomi bisa dilihat dari dua sisi, sisi produksi dan sisi belanja. Dari sisi produksi, ekonomi dikatakan bertumbuh bila setiap sektor meningkatkan volume atau unit produk yang dihasilkan. Produsen tertarik untuk memproduksi lebih banyak bila biaya produksi semakin murah.

Turunnya biaya produksi bisa bersumber dari beberapa faktor, antar lain murah dan cepatnya perijinan, rendahnya biaya bunga atau cost of finance, stabilnya nilai tukar sehingga pemasok bisa menurunkan harga karena tidak perlu menambah harga untuk jaga-jaga kerugian karena nilai tukar, rendahnya pajak, teknologi yang semakin efisien dan produktif, dan rendahnya biaya distribusi. Semua itu bisa menekan biaya per unit yang akhirnya harga jual bisa dibuat rendah dengan tetap member keuntugan yang menggiurkan.

Faktor-faktor pendorong produksi saat ini sudah berada di jalur yang benar, sekalipun beberapa faktor masih mendapat perhatian. Ijin yang semakin cepat dan murah, pajak sektor usaha yang dikendalikan, teknologi yang semakin murah, semua itu menggiurkan sektor usaha. Beberapa faktor lain, terutama suku bunga dan kestabilan nilai tukar masih perlu mendapat perhatian.

Dari sisi belanja atau pengeluaran, asumsi dasarnya adalah bahwa produk yang dihasilkan setiap sektor, yang dihitung berdasarkan pendekatan di atas, dibeli oleh berbagai pihak. Dengan demikian, tingkat ekonomi yang dihitung berdasarkan produksi akan sama dengan yang dihitung berdasarkan pengeluaran. Pada prinsipnya, ada empat pihak yang melakukan pembelanjaan. Rumah tangga atau individu belanja untuk keperluan rumah tangga. Pemerintah belanja untuk keperluan investasi dan keperluan sehari-hari instansi pemerintah. Sektor usaha belanja untuk keperluan investasi dan produksi. Dan penduduk luar negeri belanja melalui mekanisme ekspor.

Setiap pembelanjan, termasuk individu dan rumah tangga, selalu mempertimbangkan untuk belanja atau investasi. Pada saat masyarakat kuatir karena ekonomi menurun, kemungkinan timbulnya PHK, masyarakat cenderung mengurangi keinginan belanja. Bila belanja turun, produk kurang laku, maka produksi pun akan menurun. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi melambat. Dalam konteks ini, peran pemerintah untuk meyakinkan masyarakat bahwa kondisi ekonomi terjaga baik menjadi penting, sekalipun Senayan sibuk dengan urusan sendiri.

Bila melihat hal-hal di atas, peluang ekonomi tetap terbuka. Apalagi pemerintah berusaha untuk membangun infrastruktur dengan gencar, listrik dengan gencar, penyederhanaan peraturan dengan gencar, semua memunculkan peluang yang baik di berbagai sektor.

Hal terakhir adalah sudut pandang. Apa pun kondisi politik menyedakan peluang usaha selama pengusaha memiliki sudut pandang yang tepat. Ada cerita menarik dari rekan saya. Peristiwanya terjadi saat terjadi perang Irak beberapa waktu lalu. Pada waktu terjadi perang, nyaris semua usaha tutup. Termasuk restoran di kota Bagdad banyak yang tidak berani beroperasi. Risiko politik terlalu tinggi, kata mereka. Tetapi ada pengusaha restoran Thailand yang berpikir sebaliknya. Pada saat semua, atausebagian besar restoran tutup, sedangkan masyarakat di Bagdad, termasuk para tentara, membutuhkan makan. Dia berpikir, siapa yang memenuhi kebutuhan mereka? Maka si pengusaha itu membuka restoran di Bagdad saat perang berkecamuk. Hasilnya, untung. Inilah sudt pandang yang meramu kondisi politik dan ekonomi menjadi usaha yang bertumbuh.

*Tulisan dimuat tabloid Inspirasi vol. 6 no. 133, 25 Januari 2016.

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro
Dosen di PPM School of Management & pengamat bidang manajemen, keuangan, dan ekonomi
BRM@ppm-manajemen.ac.id

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s