Keras vs Lembut Dalam Hubungan Industrial

Demo-BuruhKetika demontrasi buruh yang anarkis marak di Jabodetabek, sebuah pabrik di kawasan industri Cibitung tetap beroperasi normal. Bahkan pekerja yang seharusnya masukdi shift malam, datang ke pabrik pagi itu. Bukan untuk bekerja, tetapi menjaga pabrik dari para demonstran yang beberapa hari sebelumnya menebar ancaman akan menghentikan paksa pabrik-pabrik yang tetap bekerja pada pada hari demo besar-besaran itu.

Ketika seorang pekerja ditanya mengapa bersedia menjaga pabrik dari ancaman para pendemo, dia menjawab: “pemilik dan semua manajer di sini orang baik. Tidak ada yang boleh menggangu mereka.” Ketika diminta mencontohkan kebaikan yang dimaksud, dia mengungkapkan: “Setiap diundang oleh karyawannya yang melakukan hajatan, apapun posisi karyawan itu, sejauh apapun dan dalam keadaan apapun, pemilik dan manajer akan hadir. Kalau ada yang kesusahan, para petinggi perusahaan ini akan memberi bantuan. Kami adalah keluarga.”

Mungkin karena buah pemikiran Karl Marx, hubungan antara pengusaha dan pekerja hampir selalu diwarnai konflik tiada akhir. Seolah-olah pekerja dan pengusaha merupakan dua kutub magnet yang tidak bisa akur. Mereka memiliki kepentingan yang bertolak belakang. Pengusaha, yang oleh Marx disebut sebagai kaum kapitalis, berusaha menumpuk laba dari tetesan keringat pekerja. Sementara itu, pekerja yang ‘menjual’ tenaga menuntut ‘harga wajar’.

Karl Marx memperkeruh suasana dengan melontarkan pendapat bahwa kaum kapitalis yang memiliki kekuatan besar itu tidak akan menghentikan eksploitasinya apabila tidak ada perlawanan dari pekerja. Kaum pekerja, merupakan golongan lemah yang hanya memiliki ‘modal’ tenaga. Dengan meminjam konsep dialektika Hegel, Marx menyarankan sebaiknya kaum buruh bersatu,menggunakan kekuatan fisik, melakukan revolusi mengambil alih penguasaan modal.

Saya tidak akan mengajak pembaca untuk masuk ke ranah politik, tetapi dari sini kita mengetahui mengapa hubungan industrial menjadi bidang paling dinamis dalam khasanah manajemen SDM. Melalui serikat pekerja, pengusaha digambarkan sebagai orang-orang yang tidak kenal belas kasihan mengambil untung dari kerja keras karyawan. Sementara para pengusaha, dengan mengadopsi teori X (teori dari seorang ahli psikologi sosial MIT, Douglas McGregor) berpandangan bahwa umumnya pekerja itu malas, tidak memiliki motivasi bekerja. Pandangan itu dibungkus dalam ungkapan halus: pekerja tidak produktif!

Pemikiran inilah yang membawa pelaku (pengusaha dan pekerja) cenderung menggunakan kekuatan keras (hard power) untuk memperjuangkan pandangannya. Di tengah pertentangan ini, negara hadir dengan undang-undang dan peraturan, diperkuat oleh aparat penegak hukum, yang notabene juga merupakan kekuatan keras.

Hasilnya bisa kita lihat saat ini. Konflik muncul dalam bentuk PHK, demonstrasi, pemogokan, bahkan pengrusakan. Isu yang paling sering dikibarkan adalah upah dan kondisi kerja. Realitasnya masih sangat jauh dari tujuan hubungan industrial, yaitu membangun hubungan yang harmonis antara pengusaha dan pekerja.

Pada tahun 2004, Josph Nye dari Harvard University dalam buku Soft Power: The Means to Success in World Politics memperkenalkan konsep soft power (kekuatan lunak). Berbeda dengan hard power yang menggunakan kekuatan penegak hukum, militer, tenaga fisik, atau uang, soft power berusaha mempengaruhi dan membentuk pandangan orang lain melalui ‘rayuan’ dan daya tarik.

Dalam dunia politik internasional bisa dilihat dari pendekatan budaya untuk mempengaruhi negara lain. Komik dan film animasi Jepang berhasil membentuk dunia internasional bahwa Jepang merupakan negara yang unggul (konon, Komik Naruto pada tahun 2010 menjadi best seller di Amerika serikat). Dengan program ‘bantuan ekonomi’, Amerika Serikat berhasil membangun citra sebagai negara yang ‘baik hati’.

Ada beberapa keuntungan dari penggunaan soft power. Pertama adalah murah. Dalam kebanyakan konflik antarnegara, pengerahan kekuatan militer biasanya dijadikan pilihan terakhir, karena memerlukan biaya besar. Negara yang terlibat peperangan terpaksa menguras sumber daya ekonomi, alam, dan manusia untuk menyiapkan peperangan.

Kedua, softpower lebih nyaman bagi penggunanya. Dalam program pertukaran budaya (antarnegara), kedua pihak yang terlibat merasa senang. Masing-masing menampilkan ‘wajah’ ramah. Hal ini bertentangan dengan apabila pamer kekuatan militer atau kekuatan ekonomi. Hasil pendekatan soft power cenderung meredakan ketegangan dan melenyapkan konflik.

Dalam peperangan menggunakan hard power, pihak yang kalah merasa dendam dan memicu konflik berikutnya.Sebaliknya, apabila suatu pihak berhasil “merayu” pihak lain untuk mengikuti yang diinginkan, pihak yang dipengaruhi tidak merasa dikalahkan. Menang tanpo ngasorake (menang tanpa mengalahkan).

Bagaimana penerapan soft power dalam hubungan industrial? Baik pengusaha maupun pekerja (serikat pekerja) perlu meninggalkan pandangan pihak lain sebagai “musuh”. Keduanya adalah mitra. Bagaimana bisnis bisa berjalan tanpa ada bantuan pekerja? Demikian sebaliknya. Bagaimana mungkin pekerja bisa memperoleh pendapatan untuk mendapatkan penghidupan yang layak jika tidak berkontribusi pada bisnis pengusaha?

Baik pengusaha maupun pekerja harus memahami pandangan pihak lainnya terhadap diri mereka dan mengubahnya menjadi persepsi posisitif. Pengusaha perlu tampil sebagai sebagai pengusaha yang jujur, adil dan baik hati. Untuk mewujudkan citra diri semacam itu, tentu banyak cara. Misalnya, mengatur struktur imbal jasa dan mengomunikasikannya sedemikian rupa sehingga dirasakan oleh pekerja sebagai ‘lebih dari cukup’. Pengusaha dan manajemen bisa menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan membangun rasa kekeluargaan.

Pengusaha dan manajemen perlu meninggalkan peraturan hukum sebagai satu-satunya pedoman berhubungan dengan pekerja. Mereka perlu menggunakan pendekatan manusiawi. Itulah sebabnya, pengusaha dan manajer jangan hanya belajar bisnis, mengedepankan hitungan rasional semata. Mereka perlu mempelajari ilmu psikologi untuk memahami perilaku karyawan. Mereka akan menjadi kaya dengan membaca buku-buku antropologi yang mengupas alam pikiran karyawan. Tidak ada salahnya pula kalau mereka belajar sosiologi untuk mengetahui dampak latar belakang sosial terhadap cara berpikir dan perilaku pekerja.

Percayalah, kelembutan lebih kuat daripada kekerasan.

Ingin mengetahui lebih dalam pemanfaatan soft power dalam hubungan industrial? Klik http://goo.gl/ujdK4w

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s