Sharing Economy: Ancaman Pemain Lama?

sharingeconomyInnovation comes with a price.

Berkembangnya konsep bisnis sharing economy, di satu pihak memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Sementara di lain pihak, tidak hanya mengganggu omset perusahaan yang selama ini meraup banyak keuntungan namun mengancam keberlangsungan usaha mereka. Bagaimana menyikapinya?

Inovasi tidak bisa lepas dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya, seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya strata kehidupan masyarakat akan selalu meningkat.Secara tidak sadar keinginan untuk memenuhi kebutuhan menjadi lebih baik merupakan motor utama yang mendorong munculnya inovasi yang kemudian memunculkan iklim persaingan.

Saat ini, kondisi pasar dunia sudah tidak memungkinkan lagi adanya penguasaan absolut atas sumber daya atau konsep monopoli total. Karena itu, tidak mungkin sebuah perusahaan mampu mempertahankan diri untuk tetap memperoleh pangsa pasar dengan porsi yang sama dalam jangka waktu yang lama tanpa adanya inovasi demi menciptakan penawaran baru yang lebih baik.

Hal ini terjadi pada Pony Express di AS. Perusahaan pos dan kurir yang menggunakan kuda ini begitu berjaya pada masanya. Namun, bisnis mereka terus menurun dan mati ketika teknologi telegram muncul. Telegram yang mengirim berita terbatas berbentuk kode pun akhirnya harus menyerah pada teknologi telepon yang bisa mengantarkan suara secara langsung lewat media kabel.

Tidak berhenti sampai di situ, berawal dari adanya kebutuhan untuk bisa berkomunikasi dengan lebih mobile dan tidak ‘terikat’ kabel, maka diciptakanlah ponsel yang kemudian booming menjadi era gadget seperti sekarang ini. Dari alat komunikasi yang berkembang menjadi alat bantu pribadi, media hiburan dan kemudian berkembang menjadi media yang menguasai hampir semua aspek kehidupan manusia modern saat ini.

Dari paparan di atas, bisa dilihat bagaimana rangkaian inovasi bisa mengubah konsep, cara berpikir dan bertindak masyarakat, sampai pada level menciptakan sebuah era. Pengusaha sebagai penopang utama terciptanya berbagai macam inovasi harus memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan usaha sekarang ini yang tidak bisa dilepaskan dari kecepatan pasar dalam menerima dan mengakses informasi.

Sekarang modal, barang dan jasa sudah lebih mudah masuk lintas negara. Kesepakatan antar negara seperti MEA dan APEC, semakin menghilangkan batasan domisili dan kesempatan untuk berkuasa secara mutlak atas sebuah pangsa pasar.

Pesatnya teknologi dan semakin bertumbuhnya pengguna internet dan smartphone, menciptakan banyak wirausaha kecil dan membuka lapangan kerja yang luas. Lalu bagaimana dampaknya terhadap perusahaan yang sudah lama berdiri dan mulai tergusur pangsa pasarnya oleh pesaing-pesaing baru? Yang paling bijak adalah menganggapnya sebagai peluang, berpikir bagaimana bisa mengambil keuntungan dari perubahan ini.

Jika tidak menemukan jalan untuk bersaing secara sehat, kemudian melihat dan menghadapinya dengan reaktif namun tanpa solusi yang realistis, pada akhirnya hanya membawa pada hilangnya kesempatan untuk mengantisipasi perubahan pasar yang sangat cepat.

Dalam setiap hambatan pasti ada jalan, bukanlah jargon semata. Dengan membuka visi dan membiarkan beragam macam informasi dari berbagai sumber—dalam dan luar negeri—masuk yang bermuara pada berbagai kemungkinan yang bisa diaplikasikan. Menggunakan framework dan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk merancang strategi ke depan, yang sepenuhnya berorientasi pada apa yang diharapkan pasar. Think outside the box but make decisions within the frame of the box.

Sayangnya tidak banyak perusahaan yang mempunyai divisi khusus atau orang yang bertanggung jawab untuk melihat ke depan, seperti divisi inovasi atau manajemen strategi. Alasannya, divisi ini hanya menyumbangkan analisa bukan keuntungan, malah bisa jadi menambah beban biaya perusahaan. Meski demikian, harus ada orang dalam perusahaan yang punya orientasi ke depan. Setidaknya mereka yang berada di pimpinan pusat. Para direktur seharusnya bukan hanya bertanggung jawab mengelola bisnis, tapi mereka juga mampu melihat ke depan, sebagai seorang visioner perusahaan.

Mereka harus sadar bahwa mereka tidak boleh merasa cukup puas dengan pencapaian bisnis saat ini dan selalu memiliki proyeksi bisnis untuk 2-5 tahun ke depan. Fenomena transportasi umum berbasis teknologi internet yang begitu hebat di Indonesia merupakan contoh nyata perubahan iklim bisnis. Memang tidak bisa dikatakan betul-betul baru, taksi online seperti Uber Car sudah lama ada di belahan dunia lain. Go-jek meskipun mengandung unsur budaya lokal namun tetap berdasarkan atas konsep yang ada di Uber Car.

Di sinilah dituntut kemampuan dari perusahaan untuk melihat dan mencerna perubahan ini. Sebenarnya bukan sesuatu yang sulit dan mustahil bagi taksi konvensional mengaplikasikan teknologi yang digunakan taksi online pada armadanya. Terlebih fenomena ini telah lama muncul di banyak negara sebelumnya dan dampak nyatanya terhadap perusahaan yang sejenis serta antisipasi yang mereka lakukan.

Ada tolok ukur yang terkait dengan eksternal analisis dalam manajemen strategi yang bisa mereka gunakan,  misalnya dengan melakukan framework test. Adakah perubahan kebijakan politik yang memungkinkan, adakah perubahan signifikan pada statistik ekonomi, apakah perubahan gaya hidup yang menjadi pemicunya? Dan banyak hal yang bisa digali dari sisi data.

Yang pasti taksi online berhubungan dengan teknologi smartphone. Dengan mengetahui framework ini, mereka tahu ada perubahan teknologi dalam bentuk penggunaan smartphone dengan whatsapp dan berbagai aplikasi di dalamnya yang memiliki dampak terhadap bisnis mereka. Ditambah lagi kondisi jalan yang macet, kondisi angkutan umum yang belum memadai, lamanya waktu pesan dan relatifnya ongkos menjadi faktor-faktor penentu yang bisa dianalisa. Pada titik itulah seharusnya sudah mulai dipikirkan perubahan dari sisi mana yang bisa diakomodir untuk mengantisipasi tantangan tersebut.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Perusahaan taksi konvensional bisa memulainya dengan memperkuat entry barrier bisnisnya, misalnya mencoba memengaruhi pemerintah dan stakeholder yang terkait untuk memberikan playing field yang fair. Kemudian melakukan perbaikan di dalam untuk membuat mereka setara atau lebih baik dari pesaing.

Kemungkinan untuk bersaing dengan taksi online masih terbuka lebar, misalnya dengan menggunakan framework service quality. Ada beberapa dimensi di dalamnya, seperti dimensi courtesy, jaminan keamanan, dan kemudahan akses. Yang juga penting untuk dicermati yaitu kenali konsumen mereka.

Tidak perlu terlalu khawatir menghadapi fenomena ini karena taksi online pun memiliki kelemahan. Berperang dengan cara yang halus, tidak frontal dan secara sadar memperkuat posisi serta eksistensi perusahaan. Reaktif tapi harus tenang dan dengan kepala dingin. Pikirkan matang-matang terutama tindakan yang berindikasi ke citra  publik. Jangan sampai mempertaruhkan nama baik yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Oleh: Hendrarto K. Supangkat

*Tulisan dimuat majalah Manajemen, Mei-Juni 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s