Corporate University Bukanlah Universitas

 

hamburger_universityKetika mengunjungi sebuah kampus corporate university  milik sebuah BUMN, saya teringat tulisan Martijn Rademaker dalam buku Corporate University: Drivers of the learning organization, “Keadaan terburuk pengembangan corporate university  adalah sekedar menjadi badan pendidikan dan pelatihan dengan nama yang megah”. Saya prihatin menyaksikan suasana kampus itu: sepi, gedung kelas tua dan kusam, penginapan peserta yang kotor dan kurang terawat.

Menurut petugas yang saya temui, aktivitas di fasilitas tersebut mulai ramai pada bulan September sampai awal Desember ketika peserta pelatihan berdatangan dari berbagai cabang di seluruh Indonesia. Di luar itu, keadaan sepi. Bahkan ruang kelas dan fasilitas yang ada disewakan kepada para penyelanggara pelatihan lain. Saya mendatangi tempat itu memang untuk menyewa ruang kelas dan penginapan bagi peserta pelatihan.

Pada kesempatan yang lain, saya mengunjungi sebuah kampus corporate university, juga milik BUMN, yang secara fisik kontras dengan saya ceritakan tadi: sangat megah. Bayangkan, kampus ini menempati lahan hampir 10 hektare. Kampus ini memiliki enam gedung diantaranya adalah kantor pengelola, ruang kelas (berikut ruang konferensi), dan penginapan yang mirip hotel. Fasilitasnya bisa disebut ‘sempurna’: ada studio (kelas virtual), perpustakaan yang menyajikan buku format hard copy maupun digital,  bahkan fasilitas pelatihan outdoor hebat. Hanya saja, ketika berkunjung, saya menemukan suasana yang sama: sepi aktivitas. Mungkin saya datang pada waktu yang salah.

Saat ini banyak perusahaan Indonesia baik swasta nasional, multinasional, BUMN, bahkan lembaga pemerintah sedang beramai-ramai membentuk dan menggiatkan corporate university. Sebutan yang dipilih juga lumayan beragam: corporate university, institute, academy, learning center (mengapa semua istilah dalam bahasa Inggris?) Lalu apa sebenarnya corporate university itu? Mengapa perusahaan beramai-ramai membentuknya? Apa fungsinya?

Riwayat

Untuk mengetahui asal-usul gerakan corporate university, kita perlu membuka literatur dan menengok praktik pembelajaran perusahan-perusahaan Amerika. Memang istilah corporate university lahir dari negeri Paman Sam, bukan di Eropa. Dalam literatur, kita menemukan kemunculan istilah corporate university  pada tahun 1990-an, bersamaan dengan lahirnya tiga fenomena: globalisasi, pekerja berpengetahuan (knowledged worker), dan organisasi pembelajar (learning organization).

Fenomena globalisasi ditandai  dengan mencairnya batas-batas antar negara, keleluasaan orang dan entitas bisnis terkoneksi satu sama lain di seluruh dunia, yang menyebabkan laju perubahan sangat cepat. Hanya perusahaan-perusahaan yang dapat mengimbangi kecepatan perubahan yang akan bertahan.

Fenomena kedua adalah lahirnya pekerja berpengetahuan (knowledged worker). Pada awal abad 20, pekerja yang bergabung ke perusahaan sebagian pekerja manual yang mengandalkan kemampuan fisik. Memasuki abad 21, orang-orang berpendidikan dengan tingkat intelektualitas tinggi membanjiri dunia kerja. Dengan banyaknya pekerja berpengetahuan, pemimpin perusahaan harus bersedia mengakhiri gaya manajemen ‘komando’. Pekerja harus dilibatkan dalam pembuatan, bukan hanya pada pelaksanaan, keputusan.

Kedua fenomena tersebut berujung pada lahirnya gerakan organisasi pembelajar (learning organization). Konsep learning organization  sendiri disampaikan oleh Peter M. Senge melalui buku The Fith Discpline: The Art and Practices of Learning Organization.  Senge mengatakan bahwa dalam dunia yang semakin terkoneksi serta bisnis yang kompleks dan dinamis, kecepatan belajar menjadi satu-satunya keunggulan kompetitif jangka panjang.

Senge kemudian juga menyatakan bahwa sudah tidak memadai lagi hanya satu orang yang belajar untuk organisasinya. Sudah waktunya, pembelajaran diikuti oleh karyawan di semua level. Fungsi yang mengelola pembelajaran oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat disebut sebagai corporate university.

Meskipun konsep corporate university  baru berkembang pada tahun 1990-an, sebenarnya praktiknya sudah berjalan jauh sebelumnya. General Motors (GM) dan General Electric (GE) bahkan telah memulai pelatihan internal pada tahun 1914. Sekolah korporasi ini terus berjalan selama paruh abad dua puluh. Semua industri fokus pada pelatihan dan pengembangan internal.

Pada akhir tahun 1980-an dan awal 90-an, praktik pembelajaran organisasi mulai dijalankan dengan mengadopsi konsep Peter M. Senge. Sejak saat itu, perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia ingin menjadi organisasi pembelajar. Di Eropa, perusahaan-perusahaan seperti Shell dan Phillips mulai membangun corporate university.

Di Indonesia, konsep corporate university  mulai diterima setelah tahun 2000. PT Telkom, bisa disebut sebagai pelopor dalam bidang ini. Memang, perusahaan-perusahaan yang termasuk BUMN paling semangat untuk menerapkan konsep corporate university ini. Selain PT Telkom, kita mengenal PLN Corporate University (milik PLN) dan juga IPC Corporate University (milik PT Peindo II).

Untuk perusahaan swasta, perbankan menjadi pelopornya. Mungkin Danamon merupakan perusahaan swasta awal yang  mendirikan dan mengelola corporate university. Selanjutnya, perusahaan jasa keuangan (termasuk bank) di Indonesia sangat bersemangat membangun corporate university.

Corporate University Bukanlah Universitas

Ketika saya mem-posting tulisan mengenai corporate university di Facebook, seorang teman mengirim pertanyaan: Apakah sekarang universitas mendirikan korporasi? Saya tidak kaget dengan pertanyaan itu, karena jangankan kalangan awam, mereka yang menduduki posisi manajerial dan direktur di perusahaan tidak sedikit yang belum paham benar pengertian corporate university.  Jawaban yang saya berikan saat itu adalah, “Yang terjadi sebaliknya. Perusahaan-perusahaan mendirikan universitas untuk mendukung bisnisnya.”

Memang pemahaman awam terhadap corporate university adalah universitas milik korporasi. Pemahaman yang tidak seluruhnya keliru, tetapi sebagian besar tidak benar. Corporate university  lebih tepat dipandang sebagai pendekatan pembelajaran organisasi untuk mendukung kinerja perusahaan. Tetapi saya yakin definisi ini juga masih belum jelas. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mari kita lihat definisi para ahli berikut ini.

Payung strategis untuk mengembangkan dan mendidik karyawan, pelanggan, dan pemasok untuk mencapai tujuan organisasi.” (J. C. Meister)

Fungsi atau departemen yang secara strategis berorientasi terhadap pengembangan karyawan yang terintegrasi sebagai seorang individu dengan kinerja mereka sebagai tim dan yang terpenting sebagai keseluruhan organisasi: dengan menghubungkan pemasok, dengan melakukan riset secara luas dengan memfasilitasi penyampaian konten dan memimpin usaha dalam membangun tim kepemimpinan yang unggul.” (K. Wheeler)

Penunjukan menyeluruh untuk kegiatan dan proses penciptaan pengetahuan dan pembelajaran fomal dalam organisasi.”( J. Walton )

“Sebuah entitas pendidikan yang merupakan alat strategis yang dibuat untuk membantu perusahaan dalam mencapai misinya dengan melakukan kegiatan yang mengembangkan individu dan pembelajaran organisasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan.” (M. Allen)

Dari semua definisi tersebut,  bisa kita rangkum bahwa corporate university merupakan entitas yang menjalankan kegiatan pendidikan dan pengembangan karyawan serta penciptaan pengetahuan bagi organisasi untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi.

Dari pengertian ini kita juga dapat membedakan corporate university  dengan universitas pada umumnya. Misalnya apa bedanya Pertamina Corporate University dengan Universitas Pertamina? Pertamina  Corporate University melayani pendidikan dan pengembangan karyawan, pemasok, dan mitra lainnya demi kemajuan bisnis perusahaan. Sebaliknya, Universitas Pertamina adalah universitas milik Pertamima yang ditujukan untuk masyarakat umum, dan tidak ada hubungannya dengan upaya untuk meningkatkan kinerja bisnis perusahaan.

Kegiatan Corporate University

Sudah tentu, kegiatan corporate university  adalah menyelenggarakan aktivitas pembelajaran. Tetapi fungsi corporate university jauh lebih luas. Pertama-tama corporate university harus memahami strategi bisnis organisasi yang dilayani. Selanjutnya, corporate university mengidentifikasi kompetensi orang-orang yang dibutuhkan untuk berhasil menjalankan strategi tersebut. Tugas selanjutnya adalah merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk untuk menciptakan kompetensi yang dibutuhkan tersebut.

Pada umumnya, perusahaan memiliki strategi bermata dua, yaitu mengeksploitasi bisnis saat ini dan mengeksplorasi peluang masa depan. Keduanya membutuhkan kompetensi yang berbeda. Dengan demikian, corporate university menyelenggarakan pendidikan untuk menutup kesenjangan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis saat ini serta mengembangkan kompetensi yang diperlukan untuk mengeksplorasi masa depan perusahaan.

Apa perbedaan mendasar antara badan diklat (pendidikan dan pelatihan) dengan corporate university? Corporate university memberikan nilai bagi organisasi (perusahaan) melalui kegiatan pembelajaran. Nilai tambah tersebut diciptakan dengan menyelaraskan strategi perusahaan dengan strategi corporate university.  Corporate university merancang program dan melaksanakan pembelajaran untuk mendukung pencapaian sasaran perusahaan.

Strategi perusahaan menjadi basis yang sangat penting bagi program corporate university. Kita mengenal Hamburger University milik McDonald’s yang sangat terkenal itu. Corporate university  ini memainkan peran penting dalam menciptakan standar, baik produk maupun layanan. Standar ini menjadi penekanan karena strategi pengembangan bisnis McDonald’s adalah melalui franchise. Konsistensi mutu sangat penting bagi perusahaan ini.

Perlu dipahami, kegiatan pembelajaran tidak harus dilaksanakan sendiri, atau menggunakan sumber daya sendiri semuanya. Beberapa corporate university  bermitra dengan universitas umum. Tetapi rancangan programnya dan evaluasi hasilnya yang menyusun adalah corporate university. Adira Corporate University, misalnya, bekerja sama dengan Universitas Binus untuk pendidikan keuangan. Beberapa corporate university  juga menggandeng PPM manajemen dalam pengembangan kompetensi kepemimpinan.

Beberapa corporate university  juga melakukan penelitian. Biasanya penelitian dilaksanakan bekerja sama dengan lembaga penelitian atau lembaga akademik lain. Penelitian ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

*Tulisan dimuat majalah Manajemen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s