Empat Taktik Memperkuat Brand

Pernahkah Anda mendengar komentar sebagian masyarakat bahwa harga secangkir kopi di Starbucks “sangat mahal”, “tidak masuk akal harganya”, “over price” dan lain sebagainya?

Tetapi jika kita melewati gerai Starbucks, biasanya selalu ramai. Kita jarang mendapati gerai sepi. Adalagi kartu ucapan Hallmark, yang hanya berisi kata-kata ucapan dan gambar, namun bisa dijual dengan harga yang relatif jauh lebih mahal dibandingkan kartu ucapan lainnya. Walau harganya jauh di atas rata-rata, tetap saja ada yang membeli dan loyal menggunakan kartu ucapan Hallmark untuk diberikan kepada keluarga, rekan kerja, maupun pasangan.

Bagaimana kedua contoh brand  dapat sukses, meski harga mereka lebih mahal dibandingkan para pesaing?

Bicara mengenai brand, ahli brand terkemuka dunia David Aaker menyatakan, bahwa brand perlu dikelola dan dikembangkan agar menjadi kuat. Brand yang kuat akan berdampak pada keberhasilan di pasar karena akan selalu dicari oleh target pasarnya. Bahkan mereka bisa menjadi loyal dan mau mereferensikan kepada yang lain.

Lalu bagaimana cara mengembangkan brand menjadi sebuah brand yang kuat?

Continue reading

Makna Komunikasi dalam Organisasi

Suatu pagi nan cerah, ramai karyawan menikmati sarapan sambil berdiskusi hangat. Riuh rendah mereka membicarakan penataan gudang general affair minggu depan. Mereka memiliki informasi berbeda jika melihat alotnya pembicaraan pagi itu, si A mengatakan bahwa dengar kabar dari si C “denger-denger gudangnya akan diperbesar jadi akan digeser ruangannya, mengubah posisi kerja di lantai 10”. Berbeda dengan si A, si B mendapat info karena ada proses kerja baru hingga gudang tersebut harus dikorbankan.

Hingga waktunya jam kerja dimulai tidak seorang pun akhirnya mengetahui mana informasi yang sebenarnya, dan mereka kembali ke ruangan dengan membawa persepsi berbeda pada pikirannya masing-masing.

Jika kita melihat pada kondisi di atas, hal yang memungkinkan terjadi berikutnya adalah masing-masing karyawan bisa: (a) menganggap berita yang ada hanya sekadar informasi dan tidak melakukan apa-apa, (b) bersiap-bersiap walaupun belum ada arahan karena lokasi yang dibicarakan terkait dengan ruangan maupun pekerjaannya, (c) panik karena banyaknya selentingan info yang berkembang terkait kegiatan tersebut dan berpengaruh terhadap pekerjaannya, (d) menjadi isu yang dapat berkembang dan bersayap di kalangan karyawan.

Informasi yang beragam dan tidak terkonfirmasi sangat memungkinkan munculnya berbagai persepsi dan asumsi dalam benak karyawan. Penting sekali untuk dapat mengonfirmasi dan memastikan informasi yang beredar dipahami secara bersama dalam sebuah organisasi, disanalah terlihat pentingnya komunikasi.

Continue reading

Seni Memuji Karyawan

puji-karyawanDalam sebuah organisasi, seorang leader dituntut untuk mewujudkan tim yang solid dan berkinerja tinggi. Tim seperti ini secara kolektif mendukung tercapainya organisasi yang berkinerja tinggi. Tidak mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa.

Di antara tugas-tugas penting yang harus dilakukan leader untuk membuat kinerja timnya solid dan berkinerja tinggi, yaitu membangun hubungan antara leader dan follower (atasan dan bawahan). Membangun hubungan bukan perkara mudah dan cepat. Diperlukan waktu dan usaha yang gigih untuk mewujudkannya.

Kalau diibaratkan, membangun hubungan itu seperti menabung atau investasi. Setiap interaksi ataupun perilaku leader kepada follower akan menambah atau mengurangi emosi positif atau negatif yang dirasakan bawahan. Kalau saldonya positif, maka hubungan menjadi erat, penuh respek, hangat, harmonis dan berdaya guna. Yang jadi masalah adalah jika saldonya negatif, hubungan renggang, tidak saling percaya, dingin, penuh curiga dan berpotensi merusak tim.

Continue reading

Menghadapi Risiko Global & Social Megatrends

Every Business Takes Risks. Tahun 2017 sudah masuk bulan kedua. Perusahaan sudah bekerja untuk memperoleh hasil gemilang di tahun Ayam Api ini. Namun, perlu dipahami, keberhasilan aksi windows dressing yang dilakukan bisa jadi hanya memuaskan investor sesaat di penghujung tahun lalu. Saat ini, perusahaan dituntut memiliki strategi digital  sebagai syarat utama berkompetisi di digital economy.

Seyogyanya, perusahaan melakukan modernisasi pada segala aspek bisnis, seperti melakukan e-Procurement, e-SCM, e-HR, e-Learning, digital transactions, hingga big data analytic. Demikian juga halnya dalam berkompetisi, baik produk barang atau jasa, pendekatan bisnis yang digunakan mulai berbasis e-commerce, digital marketing, dan digital services.

Manajemen harus peduli dan sigap merespons perubahan iklim bisnis global mengarah ke digital economy. Sebagaimana hasil studi yang dilakukan UN Global Compact and DNV GL (2015), beberapa perubahan global dan social megatrends akan berdampak pada daya saing perusahaan, seperti perubahan struktur demografis dan urbanisasi besar-besaran, inovasi digital yang sangat cepat berubah, kompetisi inovasi yang semakin meningkat, dan isu perubahan iklim dunia.

Kesiapan organisasi dalam mengaplikasikan strategi digital sangat bergantung pada semangat positif yang dibawa oleh manajemen puncak. Perusahaan akan menghadapi banyak hal baru dalam mengaplikasikan proses digitalisasi.

Continue reading

E-procurement Perhemat Anggaran

Di awal 2008, sistem pengadaan barang dan jasa di Indonesia mulai berbenah seiring munculnya perubahan  yang dikenal dengan e-procurement atau e-purchasing. Penerapannya menyebar ke seluruh organisasi pemerintahan, kementerian, BUMN maupun badan pemerintah lainnya.

Kinerja atas penerapan e-procurement kian tahun kian cemerlang. Pada 2015 saja, penerapan e-procurement dalam pengadaan barang dan jasa yang dilakukan pemerintah dapat menghemat anggaran hingga 30 persen. Presiden Joko Widodo mengatakan negara berhemat hingga Rp795 triliun dengan penggunaan sistem dan pengawasan yang baik dalam pengadaan barang/jasa.

Sistem e-procurement yang diciptakan pemerintah Indonesia sendiri merupakan metode pengadaan secara elektronik  dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik dilakukan dengan cara e-tendering atau e-purchasing yang diatur sesuai Peraturan Presiden No. 54 tahun 2010 Tentang Pengadaan barang/jasa Pemerintah yang  kemudian disempurnakan dalam Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2015.

Prinsip dan tujuan awal penerapan e-procurement adalah agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa menjadi lebih efisien dalam hal penggunaan sumber daya, efektif sesuai target, transparan dalam prosesnya, menciptakan persaingan yang sehat antarpenyedia jasa, serta menghasilkan keputusan pengadaan yang adil dan akuntabel.
Continue reading

Psikologi di Perusahaan

Dalam perjalanannya sebagai sebuah ilmu, psikologi telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan organisasi atau perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas. Pendekatan ini lebih dikenal sebagai Psikologi Industri dan Organisasi. Ilmu ini menerapkan prinsip atau metode psikologi dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan perilaku manusia di tempat kerjanya.

Para lulusan psikologi yang berkarir dalam dunia perusahaan banyak menunjukkan peranan penting dalam pengembangan sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja. Permasalahannya adalah, masih banyak orang yang belum dapat melihat peran tersebut karena memang cenderung implisit, maksudnya seringkali tidak langsung dapat dilihat dalam ranah finansial.

Lalu dimana letak perbedaan antara Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) dengan Manajemen SDM? Seperti yang tadi sudah dijelaskan, bahwa PIO berfokus pada sikap, kepribadian, dan gejala perilaku SDM yang ditampilkan dalam dunia organisasi atau perusahaan. Sedangkan Manajemen SDM berfokus pada bagaimana membuat perencanaan, pengaturan, pengarahan serta pengawasan terhadap SDM dalam perusahaan.

Continue reading

Menuju Cashless Society

Peningkatan perilaku nontunai di masyarakat akhir-akhir ini menarik untuk dicermati. Meluasnya penggunaan smartphone ternyata diiringi dengan meningkatnya perilaku pembelanjaan nontunai oleh konsumen.

Dari hasil riset, sebagian besar konsumen menggunakan pembayaran nontunai karena memang banyak promo yang ditawarkan oleh merchant. Selanjutnya, sebagian konsumen sudah merasa nyaman dengan metode pembayaran tersebut dan menyatakan akan tetap menggunakannya, meskipun tidak ada lagi promo yang ditawarkan.

Selama ini, persepsi yang berkembang adalah perilaku nontunai mendongkrak tingkat belanja seseorang. Benarkah demikian? Jika ya, apa sebabnya?

Continue reading