Berteman dengan Pelanggan

“Pembeli adalah raja!” entah kapan bermula, yang jelas, dunia bisnis identik dengan anggapan bahwa pelanggan, siapa saja dia, adalah orang yang patut diperlakukan sebagai raja. Layaknya raja, setiap keinginan dan kehendaknya harus selalu dipenuhi dan dikabulkan. Bahkan, dalam situasi tertentu, sang penjual berupaya memuaskan kehendak ‘si raja’ dengan cara yang tidak biasa. Hingga tak jarang hubungan yang terbangun hanya sebatas transaksional belaka, asal sang raja puas akan kehendaknya.

Lantas, apakah memang pembeli harus selalu diperlakukan sebagai raja?

Banyak perdebatan mengenai hal ini. Tidak sedikit yang setuju, namun banyak pula yang tidak setuju. Bagi sebagian orang, interaksi dengan pembeli sejatinya bukan hubungan vertikal antara raja dan pelayannya, tapi hendaknya interaksi yang terjadi bersifat horizontal, egaliter, setara antara kedua posisinya.

Pendapat lain mengatakan, pelanggan bukanlah raja, tapi ia adalah seorang teman lama yang harus kita perlakukan layaknya sejawat yang minta pendapat. Berteman dengan pelanggan bukanlah sebuah ketabuan yang harus dihindari. Tapi, berteman dengan pelanggan adalah sebuah upaya untuk menjalin hubungan yang lebih sinambung, jauh bermakna dari sekadar transaksi bisnis semata.

Menjadi teman untuk para pelanggan membawa dampak positif dengan segala konsekuensinya. Tidak hanya meningkatkan pembelian, tapi hubungan yang baik layaknya teman sejawat bisa membuat loyalitas pelanggan meningkat. Namun, di balik itu semua, memberlakukan pelanggan sebagai teman juga menuntut pelaku usaha untuk lebih responsif, aktif, dan mampu memahami kebutuhan serta keinginan para pelanggannya dengan lebih baik.

Berteman dengan pelanggan bukanlah sebuah pembenaran untuk menempatkan pelanggan pada posisi yang tidak nyaman, minim pelayanan, atau bahkan merasa tidak diperhatikan selayaknya hak yang harus ia dapatkan. Menempatkan pelanggan sebagai teman justru memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memberi perhatian lebih, memberlakukan engagement yang erat, hingga memahami pelanggan jauh melebihi apa yang mereka harapkan. Bukankah kebahagian itu terjadi jika kenyataan melebihi harapan? Dan inilah esensi berteman dengan pelanggan.

Lovelock (2009) dalam bukunya yang bertajuk “Service Marketing” mengungkapkan bahwa dalam industri jasa, hubungan antara penjual dan pembeli harus menawarkan pengalaman. Momen interaksi antara pelanggan dan pelaku usaha harus mampu membuat kenangan yang tak terlupakan, atau setidaknya menciptakan kenyamanan dalam proses pembelian. Lebih lanjut Lovelock merancang flower of service untuk memandu pelaku usaha dalam menciptakan pengalaman pembelian tersebut.

Dalam flower of service, terdapat delapan (8) komponen yang menjadi layanan tambahan atau supplementary service dari jasa utama yang ditawarkan. Walaupun konsep ini hanya cenderung membahas industri jasa, tapi dalam konteks hubungan dengan pelanggan, flower of service menjadi inspirasi yang perlu dipahami oleh para pelaku usaha. Sehingga, konsep berteman dengan pelanggan juga bisa menerapkan delapan indikator tersebut untuk hasil yang maksimal.

Yang pertama ialah komponen information. Setiap pelanggan tentu membutuhkan informasi yang jelas, tegas, dan ringkas terhadap produk atau jasa yang hendak ia dapatkan. Seringkali pelaku usaha menyampaikan informasi yang terbatas atas produk yang mereka tawarkan. Bukan niat untuk menutupi, tapi kadang memang kemauan dan kemampuan mereka yang tak begitu tinggi. Dan, jika konsep berteman dengan pelanggan bisa dipahami, maka di sini peran informasi menjadi sebuah kebutuhan penting, menghadirkan kejujuran dalam setiap interaksi dan transaksi.

Komponen kedua ialah konsultasi. Interaksi antara penjual dan pembeli bukan hanya untuk menyampaikan informasi semata, tapi juga melakukan edukasi. Proses konsultasi menjadi sebuah peran penting yang harus diberikan oleh pelaku usaha terhadap pelanggannya. Dan, konsep pertemanan yang disampaikan di awal tulisan ini, menjadi keniscayaan jika hubungan baik bisa terjalin antara kedua pihak yang bertransaksi.

Ketiga ialah order-taking atau penerimaan pesanan. Proses penerimaan pesanan dan pengolahan transaksi menjadi tantangan dalam kelancaran hubungan antara penjual dan pembeli. Hal ini juga berpengaruh pada komponen keempat dan kelima, yaitu billing dan payment. Proses pemberian tagihan dan pembayaran harus transparan dan memberikan penjelasan kepada pelanggan.

Layaknya teman, transparansi keuangan menjadi hal krusial dalam keberlanjutan hubungan. Begitu juga dalam proses transaksi jual beli, seorang pelaku usaha yang baik harus mampu menyajikan transparansi harga dan menyediakan pilihan pembayaran yang memudahkan. Tak jarang kita melihat kejadian tagihan membengkak di beberapa restoran karena tambahan pajak dan jasa layanan yang begitu tinggi. Hal ini tentu tidak kita inginkan dalam upaya berteman dengan pelanggan, bukan? Oleh Karena itu, jelaskanlah kepada pelanggan atas komponen biaya yang harus mereka bayarkan. Transparansi jangan ditutupi!

Komponen layanan keenam ialah hospitality atau keramahan pelayanan. Tentu Anda setuju bahwa keramahan penjual memiliki pengaruh besar pada kenyamanan pembeli. Semakin ramah pelayanan yang diberikan maka akan semakin nyaman situasi yang dirasakan. Kenyamanan ini akan memberikan kepuasan tersendiri bagi pelanggan, sehingga mereka merasa diperlakukan spesial. Situasi ini juga menjadi perhatian dari komponen ketujuh yaitu exception.

Dalam penjelasannya, exception atau pengecualian merupakan suatu kondisi di mana pelaku usaha mau dan mampu memprediksi keinginan tertentu dari pelanggan, dan menawarkan pelayanan khusus hanya demi kenyamanan dari pelanggan tersebut. Setiap orang ingin diperlakukan beda, dan ini lah yang menjadi tantangan dari para pelaku usaha.

Konsep berteman dengan pelanggan mengajak Anda untuk bisa memperlakukan pelanggan sebagai teman spesial, diperlakukan lebih dari apa yang mereka harapkan. Penjelasan ini yang dimaksud dari komponen ke delapan, yaitu safekeeping. Jika pelanggan sudah merasa nyaman dan menganggap Anda sebagai seorang teman, maka mereka tidak segan-segan menitipkan benda berharga mereka kepada Anda. Titipan yang paling berharga ialah kepercayaan, maka jangan pernah Anda sia-siakan.

Berteman dengan pelanggan adalah sebuah konsep mengedepankan pelayanan maksimal untuk menjalin hubungan baik dengan para pelanggan layaknya hubungan pertemanan. Melalui pendekatan ini, diharapkan loyalitas pelanggan akan semakin meningkat dan hubungan antara pelaku usaha dengan para konsumennya bisa terjalin dengan baik.

Jadi, sudah siapkah Anda untuk berteman dengan para pelanggan?

Oleh: Noveri Maulana, M.M. – Faculty Member PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di SWA Online, 19 Mei 2017.

Menggeser Laba, Menggeser Pajak

Wajib pajak orang pribadi dan badan beramai-ramai mengikuti program amnesti pajak yang  berakhir Maret lalu. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak (2 Maret 2017), wajib pajak yang telah mendeklarasikan hartanya mencapai 691.022 wajib pajak.

Dalam undang-undang No. 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, diatur bahwa harta repatriasi wajib ditanamkan dalam instrumen investasi di Indonesia paling singkat selama jangka waktu tiga tahun. Harta dalam negeri yang dideklarasikan juga tidak boleh dialihkan keluar Indonesia untuk jangka waktu paling singkat tiga tahun. Selain itu, diatur juga mengenai sanksi sebesar 200% dari pajak penghasilan jika terdapat harta atau penghasilan yang tidak diungkapkan.

Meskipun telah diatur dalam undang-undang, perusahaan masih mungkin untuk melakukan praktik tax planning yaitu dengan melakukan transfer laba (profit shifting) ke negara yang rendah pajak atau tanpa pajak (tax heaven). Strategi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ini dikenal sebagai Base Erosion and Profit Shifting (BEPS).

Berdasarkan The Organization for Economic Co-operation and Development/OECD (2013), BEPS adalah strategi perencanaan pajak yang memanfaatkan gap dan kelemahan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan perpajakan untuk menghilangkan atau mengalihkan keuntungan perusahaan ke negara lain yang tarif pajaknya rendah atau bahkan bebas pajak. Tujuan akhirnya adalah agar perusahaan tidak perlu membayar pajak atau pajak yang dibayar nilainya sangat kecil terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan.

Strategi BEPS merupakan salah satu praktik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan. Praktik manajemen laba didukung adanya informasi asimetri, yakni para manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi keuangan dan kondisi perusahaan dibanding pemerintah yang memungut pajak. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh manajemen perusahaan untuk melakukan manajemen laba sehingga informasi laba yang dilaporkan sesuai dengan kepentingan manajemen dan tidak menggambarkan laba sesungguhnya.

Selain BEPS, praktik manajemen laba untuk tax planning yang memanfaatkan pilihan metode, estimasi, dan praktik akuntansi yang diperbolehkan oleh standar akuntansi, antara lain sebagai berikut

Pertama, menggeser pengakuan pendapatan periode saat ini ke periode berikutnya. Kedua, menggeser pengakuan biaya yang seharusnya periode berikutnya ke periode saat ini. Ketiga, pilihan metode penilaian persediaan. Metode yang paling menguntungkan perusahaan dalam aspek pajak adalah ketika memilih metode Last In First Out (LIFO). Namun, metode LIFO tidak diperkenankan dalam aturan perpajakan di Indonesia. (Sulistiawan, Januarsi, & Alvia, 2011).

Keempat, metode penyusutan aset tetap dan estimasi umur aset. Terdapat kebebasan dalam memilih metode penyusutan dan penentuan umur ekonomis aset tetap. Pemerintah berupaya meminimalisasi praktik manajemen laba dengan metode ini. Maka, untuk pelaporan pajak di Indonesia sudah diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 96/ PMK.03/2009 tentang Jenis-jenis harta yang termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan penyusutan.

Kelima, metode sewa guna usaha (leasing). Untuk kebutuhan aset tetapnya, perusahaan dapat memilih metode operating lease atau finance lease. Adanya pilihan metode dalam sewa membuat perusahaan dapat mengarahkan transaksi pada pilihan yang menguntungkan perusahaan, misalnya dalam hal penghematan pajak.

Program amnesti pajak yang telah dijalankan Indonesia ini akan mengawali dikeluarkannya aturan controlled foreign company (CFC) oleh Kementerian Keuangan dan diterapkannya BEPS Action Plan yang berisi pertukaran informasi (Automatic Exchange of Information/ AEoI) seluruh negara di dunia terkait keterbukaan informasi perbankan. Peraturan dan pengawasan yang baik tentunya akan mengatasi dan minimalisasi penghindaran pajak dengan cara profit shifting ke negara tax heaven yang dilakukan oleh wajib pajak.

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi praktik manajemen laba adalah dengan monitoring. Salah satunya dengan melakukan audit laporan keuangan secara berkala, terutama oleh auditor eksternal.

Tujuan utama audit laporan keuangan itu untuk mengidentifikasi kesalahan dan penyimpangan pada laporan keuangan yang akan memberikan dampak material. Audit laporan keuangan juga dapat mengurangi informasi asimetri yang ada antara pengelola perusahaan dan stakeholders perusahaan.

Oleh: Fransisca Dwi LiestyoriniTrainer, PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Sindo Weekly edisi No. 11 Tahun VI, 15-21 Mei 2017 p. 82

Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi Melalui Budaya Bertanya

Kalau Anda terus mendapat komplain dari pelanggan bertubi-tubi, cobalah melakukan riset sederhana ala Nadiem Makarim. Bertanyalah.

Kita pasti pernah mendengar peribahasa, malu bertanya sesat di jalan. Nasihat ini benar adanya. Sedang tersesat di jalan tapi tidak update informasi. Padahal ada jalan keluar yang mudah sekali dilakukan saat tak tau arah, yaitu bertanya pada orang yang lebih tahu. Itulah sebabnya budaya bertanya sangatlah penting.

Apalagi teknologi zaman sekarang sudah sangat maju, tinggal tanya Mbah Google, dalam hitung detik, apa pun yang Anda ingin ketahui segera didapat.

Kalau ditelusuri, ternyata bertanya tidak hanya mencegah kita ‘tersesat di jalan’. Budaya bertanya punya banyak manfaat lainnya. Paling tidak, berdasarkan apa yang penulis selama ini pelajari dan alami. Salah satu keajaiban bertanya adalah bahwa banyak hal-hal luar biasa ditemukan, diciptakan, atau dilahirkan dari proses bertanya.

Budaya Bertanya dan Inovasi

Mengapa apel jatuh dari pohon selalu ke bawah? Pertanyaan sederhana ini menuntun Sir Isaac Newton melahirkan hukum gravitasi.

Mengapa kalau orang nyebur ke kolam penuh air, airnya bisa tumpah? Pertanyaan ini Archimedes ajukan ketika mandi. Dan kita tahu bahwa pada akhirnya hukum Archimedes ditemukan melalui pertanyaan tersebut. Eureka!

Contoh yang lebih kekinian, Gojek misalnya. Ternyata inovasi Gojek lahir dari pertanyaan sederhana seorang Nadiem Makarim yang amat fenomenal. Bagaimana cara mengoptimalkan waktu tidak produktif ojek pangkalan. Rupanya Nadiem melakukan riset kecil-kecilan kepada para tukang ojek pangkalan.

Sebagai pengguna setia ojek, Nadiem bertanya kepada ojek yang jadi langganannya tentang waktu efektif ngojek dibandingkan waktu nunggu pelanggan. Nadiem berkesimpulan bahwa banyak waktu tukang ojek yang tidak produktif karena mangkal, menunggu giliran pengojek lain, pasif, dan kurang inisiatif mencari pelanggan.

Sampai akhirnya Nadiem menemukan solusi inovatif bagi para tukang ojek melalui pertanyaan, yakni bagaimana cara menghubungkan antara ojek dengan calon customer-nya. Terciptalah aplikasi Gojek yang kini telah mempekerjakan ribuan ojek online. Hebat bukan?

Budaya Bertanya dan Kreativitas

Sebagaimana kekuatannya dalam menciptakan penemuan hebat, bertanya juga ampuh dalam mengatasi persoalan hidup sehari-hari di tempat kerja. Kalau Anda punya masalah dan ingin keluar dari permasalahan tersebut, dari pada berkeluh kesah, mengumpat, curhat tiada berujung, apalagi menyalahkan sana-sini, atau bahkan melakukan tindakan korektif yang itu-itu saja dan pasti tidak menyelesaikan masalah, lebih baik berhenti sejenak!

Cobalah berpikir kreatif dengan membuat pertanyaan yang merangsang otak untuk mencari solusi. Karena dari sanalah ide inovasi muncul.

Motivator dunia, Anthony Robbins pernah berkata “Jangan mencari jawaban, tapi temukanlah pertanyaan yang tepat, pasti jawaban akan muncul dengan sendirinya.” Jika kinerja buruk, cobalah tanya diri sendiri mengapa kinerja Anda tersungkur?

Lalu challenge diri dengan bertanya, bagaimana caranya saya punya kinerja yang unggul? Lebih spesifik lebih bagus. Apa yang bisa saya lakukan supaya capaian kinerja 120% dalam 3 bulan ke depan? Mengapa ini penting bagi saya dan organisasi?

Kalau Anda terus mendapat komplain dari pelanggan bertubi-tubi, cobalah melakukan riset sederhana ala Nadiem Makarim untuk mengetahui lebih jauh akar permasalahan dan solusi yang bisa diambil. Apa yang pelanggan khawatirkan? Apa yang pelanggan takutkan? Apa yang menyebabkan pelanggan marah? Apa yang menyebabkan pelanggan kabur dan tidak kembali?

Lalu challenge diri Anda, apa yang bisa saya lakukan agar pelanggan bahagia? Apa cara yang bisa saya lakukan supaya pelanggan merasakan manfaat dari produk/jasa yang ditawarkan? Inisiatif apa yang bisa saya lakukan supaya kepuasan pelanggan mencapai level 97%?

Saya yakin Anda pasti menemukan jawabannya, asalkan tidak langsung membunuh ide-ide yang muncul dengan sikap pesimis atau dengan diri sendiri yang memang tidak mau berubah.

Satu hal terpenting, semua ide inovasi tersebut harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Ingat, inovasi itu gabungan proses berpikir dan tindakan. Tanpa aksi dan tindakan nyata, ide inovasi tidak akan jadi apa-apa.

Oleh : Achmad Fahrozi, M.M.HR Consultant, Organization Development Services PPM Manajemen

*Tulisan dimuat marketplus.co.id, 12 Mei 2017.

Peluang Kolaborasi Rantai Pasok Indonesia

Dalam era kemajuan teknologi saat ini, informasi tersedia begitu mudahnya. Hal ini membuka kesempatan mengetahui segala informasi yang dimiliki oleh suatu organisasi yang dapat ditangkap dengan mudahnya oleh tidak hanya calon pelanggan, pemasok, bahkan perusahaan lain yang berkeinginan untuk bekerja sama.

Kerja sama atau kolaborasi terjadi dalam segala bidang. Dalam serangkaian proses dari hulu hingga hilir pada aliran rantai pasok (supply chain), sangat memungkinkan terjalin bentuk kolaborasi. Kolaborasi digadang-gadang sebagai salah satu cara bagi organisasi agar mampu bersaing dengan melakukan efisiensi dari segi biaya operasional, serta lebih efektif untuk merambah pasar yang lebih luas.

Kolaborasi dalam rantai pasok didefinisikan sebagai hubungan jangka panjang di pihak yang saling berinteraksi. Biasanya bekerja sama, berbagi informasi, merencanakan, dan bahkan memodifikasi praktik bisnis mereka untuk meningkatkan kinerja bersama (Whipple et al., 2010). Hubungan jangka panjang ini dapat terjalin dengan pemasok, pelanggan, dan penyedia jasa pendukung lainnya.

Dalam area Supply Chain Management, kolaborasi dengan penyedia jasa pendukung logistik yang dikenal sebagai Third Party Logistic (3PL) kian marak di seluruh negara di belahan dunia. 3PL sendiri merupakan sebutan perusahaan penyedia jasa integrasi logistik dalam kegiatan supply chain, antara lain transportasi domestik serta internasional, pergudangan, pengelolaan persediaan, light manufacturing, teknologi informasi, pusat layanan pelanggan serta layanan reverse logistic.

Maraknya, penggunaan 3PL ini pun berlandaskan manfaat besar yang dapat diperoleh perusahaan dengan melakukan kolaborasi dengannya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Georgia Tech. (2010), kerjasama dalam bentuk kolaborasi yang apik dengan 3PL, perusahaan pada umumnya dapat mengurai 15% biaya logistik, investasi aset tetap dalam bidang logistik sebesar 25%, dan biaya inventory sebesar 11%.

Di samping manfaat efisiensi diatas, kolaborasi 3PL juga memiliki berbagai manfaat lain, yaitu:

  1. Perusahaan dapat fokus pada industri utama garapannya. 3PL membantu perusahaan mengerjakan kegiatan pendukung yang kadang kala memecah konsentrasi para top management. Dengan 3PL perusahaan dapat fokus pada tujuan utama keberadaan perusahaan.

  2. Transfer risiko. 3PL dikelola dengan sumber daya yang terampil di bidangnya, dengan kolaborasi pada 3PL yang tepat, perusahaan dapat “tidur tenang”, karena kemungkinan kegagalan atas transaksi logistik sudah ditangani oleh orang yang tepat. Dan segala bentuk risiko ketidaksesuaian dapat ditanggung oleh 3PL dengan perjanjian yang ketat di awal kerjasamanya.

  3. Mengurangi biaya investasi untuk pembangunan gudang, pembelian moda transportasi, perancangan sistem informasi, maupun investasi penyediaan dan pengembangan sumber daya manusia dalam bidang logistik. 3PL menawarkan jasa logistik yang dibutuhkan, dengan itu perusahaan tidak lagi harus memikirkan besaran jumlah investasi yang dibutuhkan. Biaya atas investasi tersebut pun dapat ditekan dengan optimal, modal yang tidak digunakan bahkan dapat dialih-gunakan untuk investasi pengembangan bisnis utama perusahaan.

  4. Meningkatkan flexibilitas meraih pasar yang lebih luas. Dengan keberadaan channel distribusi 3PL yang tersebar di seluruh wilayah, perusahaan akan lebih leluasa mengembangkan sayapnya untuk merambah pasar-pasar baru.

  5. Mewujudkan economic of scale. Dengan menggunakan 3PL, perusahaan memiliki peluang untuk dapat menghasilkan output lebih banyak dari biasanya tanpa terkendala batasan kapasitas kemampuan logistik yang ada di perusahaan. 3PL menyediakan kepastian kapasitas yang mencukupi untuk kebutuhan perusahaan, kapan saja, dimana saja.

Namun tidak dapat dihindari, faktor lack of control merupakan salah satu kelemahan penggunaan 3PL. Karena dikelola oleh pihak ketiga kadang kala membuat perusahaan tidak dapat mengawasi secara langsung aktivitas yang dijalankan 3PL. Namun hal ini dapat dengan mudah dicegah dengan menerapkan pemantauan berkala (harian atau mingguan). Pematauan dapat berupa laporan harian atas aktivitas maupun penentuan key performance indicator (KPI) atas pelaksanaan kegiatan logistik yang dilakukan 3PL.

Besarnya manfaat yang dapat diperoleh ini belum diimbangi dengan jumlah sebaran keberadaan 3PL. Di indonesia sendiri, penggunaan jasa 3PL hanya berkisar 7.2% dari keseluruhan biaya logistik yang dikeluarkan perusahaan di Indonesia. Angka ini masih jauh di bawah negara tetangga lainnya seperti Singapura (11.5%), Hongkong (11.3%) dan Australia (10.2%).

Biaya Logistik dan Pendapatan 3PL (US$ Billions)

Wilayah

Negara

GDP 2015

Logistik (GDP %)

Biaya Logistik 2015

Pendapatan 3PL (%)

Pendapatan 3PL 2015

Asia Tenggara

Singapore

294

8.50%

25

11.50%

2.9

Vietnam

198.8

10.70%

21.3

7.40%

1.6

Indonesia

872.6

10.70%

93.4

7.20%

6.8

Malaysia

313.5

10.70%

33.6

7.10%

2.4

Philippines

292

10.70%

31.3

7.10%

2.2

Asia Pasific

Hong Kong

307.8

8.50%

26.1

11.30%

2.9

Korea Selatan

1393

9.00%

125.3

11.10%

13.9

Taiwan

518.8

9.00%

46.8

11.00%

5.1

Japan

4127

8.50%

350.8

10.50%

36.8

Australia

1241

10.50%

130.2

10.20%

13.3

Cina

11380

18.00%

2048.4

8.00%

163.8

India

2183

13.00%

283.6

7.00%

19.8

(sumber: diolah dari www.3plogistics.com)

Market share 3PL di Indonesia masih tergolong kecil dibandingkan dengan pengeluaran atas aktivitas logistik di Indonesia yang cukup besar, yakni lebih dari tiga kali lipat dari negara tetangganya, ini menjadi peluang SANGAT BESAR bagi penyedia jasa 3PL. Tak heran jika pangsa 3PL di Indonesia saat ini banyak dikuasi pemain asing yang membaca dengan cepat peluang baik ini.

Kue pasar 3PL masih tersaji sangat besar, kesempatan untuk menjalin kolaborasi dalam supply chain dengan 3PL pun tak kalah menggiurkannya. Kesadaran dan keterbukaan informasi akan manfaat yang didapat oleh para pelaku yang terlibat diharapkan mampu menjadi penggerak majunya industri ini.

Oleh : Puput Suwastika, M.M.– Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online, 9 Mei 2017.

Ancaman Cyber Risk

Never let them know your next move”, satu kutipan dari seorang rapper bernama Notorious B.I.G itu seharusnya menjadi jurus jitu setiap orang dan perusahaan untuk menuju sukses.

Perusahaan, pada akhirnya harus memegang teguh prinsip itu untuk memenangkan persaingan market share. Nah, bagaimana caranya agar next move perusahaan bisa aman dan tidak bocor ke meja rapat kompetitor? Mari kita bahas dari sudut pandang manajemen risiko, tepatnya cyber risk management.

Cyber risk sendiri didefinisikan sebagai segala risiko kerugian bagi keuangan perusahaan, baik itu berupa kekacauan, pencurian data rahasia, atau pencemaran nama baik, yang terjadi akibat kegagalan sistem teknologi informasi dan komunikasi internal.

Walaupun berkaitan dengan sistem teknologi informasi dan komunikasi, tanggung jawab terhadap cyber risk bukan melulu milik tim IT, namun juga seluruh lapisan organisasi. Tim IT memang memiliki peran yang sangat vital, tapi di luar dari mereka justru malah perannya sangat krusial.

Di era teknologi informasi dan komunikasi yang maju pesat ini, seluruh lapisan organisasi dari atas ke bawah menjadi krusial. Dari akses jaringan wi-fi sampai database perusahaan memiliki dampak yang serius jika terjadi penyalahgunaan, atau yang paling parah terlibat cyber crime.

Bentuk-bentuk cyber crime antara lain kecurangan sistem komputerisasi, pencurian identitas, hacking, dan pelanggaran terhadap keamanan jaringan di perusahaan.

Beberapa dekade lalu, risiko ini mungkin hanya diprioritaskan oleh institusi keuangan dan lembaga pertahanan saja. Akan tetapi saat ini siapa saja bisa terancam, tidak terbatas pada industri, besar-kecil perusahaan, atau determinan lainnya.

Menurut Aon’s 2015 Global Risk Management Survey, cyber risk saat ini masuk dalam Top Ten Global Risk, yang berarti bukan lagi sebagai risiko dengan probabilitas dampak yang kecil.

Cyber risk juga bisa ditimbulkan dari hal terkecil di perusahaan. Menurut data dari The Need for a New IT Security Architecture: Global Study, 71% perusahaan yang diteliti mengatakan bahwa risiko ini muncul akibat dari ketidakmampuan organisasi dalam mengontrol gadget beserta aplikasi para karyawannya, dan 74% merupakan akibat dari sistem IT yang ketinggalan zaman.

Studi di atas juga menggambarkan bahwa kunci untuk menekan terjadinya cyber risk dalam beberapa tahun ke depan adalah dengan manajemen database (73%), manajemen konfigurasi sistem (76%), dan manajemen aplikasi (72%). Hal ini menjadi penting untuk perusahaan yang saat ini benar-benar peduli akan keamanan informasi dan data rahasia internal.

Sementara itu, menurut ISO 27001 dan NIST Cybersecurity Framework, terdapat lima komponen kunci dalam cyber risk management framework, yaitu sebagai berikut.

  1. Protect valuable data.

Organisasi sudah seharusnya mengidentifikasi mana saja yang merupakan informasi paling berharga dan termasuk data rahasia perusahaan, termasuk di mana itu disimpan dan siapa saja yang berhak mengaksesnya.

  1. Monitor for cyber risk.

Memonitor risiko ini tidak saja hanya dengan menjadi reaktif atas terjadinya kebocoran, tapi juga proaktif terhadap kemungkinan lain yang perkembangannya kadang lebih cepat dari sistem internal. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan sistem intelijen yang dapat dengan langsung memberikan sinyal risiko sebelum benar-benar terjadi.

  1. Understand your cyber perimeter.

Sifat jaringan, terutama internet, yang begitu luas mengharuskan perusahaan untuk mengetahui seluas apa jangkauan keamanan yang perlu dijaga. Bukan hanya pada area gedung kantor, tapi juga area dimana stakeholders memiliki akses terhadap jaringan internal perusahaan. Tentu saja, sistem IT yang memadai dan kedisiplinan karyawan menjadi tiang-tiang penopang keberhasilan cyber risk management.

  1. Improve cyber intelligence.

Mengacu pada poin 2, perusahaan memang perlu mengembangakn sistem inteligen yang berkaitan dengan cyber risk. Fungsinya untuk mengatasi kesenjangan antara sistem-sistem yang dimiliki oleh perusahaan, baik itu sistem keuangan, sumber daya manusia, dan lainnya. Dengan cyber intelligence, perusahaan juga dapat menganalisis secara lebih mendalam mengenai kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat merugikan. Penelitian dan perkembangan seputar cyber intelligence juga menjadi relevan untuk terus diperkaya secara sinambung.

  1. Report and Take action.

Dibutuhkan tim yang solid dalam membangun cyber security yang efektif, yaitu segenap pihak yang memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengaruh yang kuat yang dapat memastikan sistem kontrol cyber risk management berjalan dalam koridor optimal. Sehingga pihak manajemen bisa segera mengambil keputusan yang cepat dan tepat atas laporan yang akurat.

Kelima komponen kunci dalam cyber risk management framework di atas bisa menjadi acuan bagi perusahaan dalam menjaga ketahanan sumber daya organisasi. Selain sebagai bentuk defensif, sebenarnya cyber risk management bisa menjadi jurus ofensif.

Bayangkan, apabila perusahaan kita memiliki ketahanan dan kesiapan terhadap risiko apapun, khususnya cyber risk, maka tindak tanduk organisasi akan efektif dan lebih efisien. Hal ini juga akan memuluskan langkah perusahaan kita dalam menguasai “permainan”.

Besides, this could be a selling point to our clients. Keunggulan manajemen risiko yang perusahaan miliki akan menjadi pembeda (competitive advantage), sehingga klien atau calon klien lebih percaya terhadap produk dan jasa.

Jadi, semua perusahaan pasti akan terkena dampak dari cyber risk, baik positif maupun negatif. Semua tinggal menunggu waktu saja.

Oleh: I Gede Christian Adiputra, M.M. – Trainer & Consultant PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online, 4 Mei 2017.

Mari Belajar Fraksi Harga Saham

Pada Mei 2016, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah peraturan penetapan fraksi harga (tick size). Saham yang berharga di bawah Rp200 memiliki fraksi saham Rp1 dengan maksimal perubahan Rp10. Sementara, saham dengan rentang harga Rp200 sampai kurang dari Rp500 memiliki fraksi saham Rp2 dengan maksimal perubahan Rp20. Saham harga Rp500 sampai kurang dari Rp2000 memiliki fraksi saham Rp5 dengan maksimal perubahan Rp50. Adapun saham dengan harga Rp2000 sampai kurang dari Rp5000 memiliki fraksi saham Rp10 dengan maksimal perubahan Rp100, serta saham berharga Rp5000 ke atas memiliki fraksi saham Rp25 dengan maksimal perubahan Rp250.

Fraksi harga saham adalah batasan rentang perubahan harga saham pada suatu saat. Sebagai ilustrasi, saham PT X memiliki harga pembukaan (opening price) Rp175 atau memiliki fraksi harga Rp1. Artinya, harga saham PT X tersebut hanya akan dapat berubah Rp1 per kali penawaran dan maksimal perubahannya Rp10, atau harga penutupan maksimal bagi saham terkait adalah Rp185 pada sesi perdagangan di hari tersebut.

Tujuan dari penetapan fraksi harga adalah untuk mengurangi volatilitas perubahan harga saham di pasar modal serta menambah partisipasi masyarakat sebagai investor ritel sebab biaya investasi menjadi lebih terjangkau, atau meningkatkan likuiditas dan aktivitas perdagangan saham.

Penelitian Gerrace et al. (2012) menyatakan adanya pengaruh positif antara penurunan fraksi harga saham terhadap likuiditas perdagangan saham di Hongkong Stock Exchange. Indikator-indikator yang dapat digunakan pada pengukuran likuiditas pasar modal diantaranya market spread (relative bid-ask spread, quoted spread, effective spread), kedalaman pasar (volume bid dan ask) serta aktivitas perdagangan (frekuensi, volume dan nilai perdagangan).

Apabila ditinjau kembali, perubahan penetapan fraksi harga saham di Indonesia sudah cukup banyak terjadi. Mulai dari 2000-an ketika hanya ditetapkan 1 fraksi senilai Rp25 dengan maksimal perubahan harga senilai Rp200 untuk semua kelompok harga saham di pasar modal.

Hal-hal yang melatarbelakangi perubahan ini di antaranya adalah selisih kuotasi harga jual-beli (bid-ask spread) yang terlalu lebar di BEI sehingga menghambat terjadinya transaksi serta rendahnya likuiditas saham, terutama saham yang memiliki fundamental bagus, namun harganya tinggi. Selain itu, nilai transaksi selama tiga tahun (2013-2015) pun mengalami tren penurunan yang mencapai sekitar 4% per tahun.

Penyesuaian fraksi harga, selain didasarkan oleh tuntutan para investor; perlu mempertimbangkan pula perbandingan nilai transaksi menurut kelompok harga saham yang ada. Hal inilah yang menyebabkan kelompok saham untuk setiap peraturan penetapan harga saham berbeda-beda. Contohnya, dari semula ada tiga kelompok harga saham pada regulasi 2014 berubah menjadi empat kelompok harga saham pada peraturan terbaru.

BEI senantiasa mengadakan tinjauan rutin terhadap parameter mikro perdagangan saham terkait peningkatan likuiditas pasar modal, termasuk adalah fraksi harga (tick size). Informasi mengenai perubahan penetapan fraksi harga tentunya menjadi informasi penting bagi investor untuk mengambil keputusan pembelian atau penjualan saham.

Akan tetapi, perubahan fraksi harga saham tidak selalu dapat berdampak positif bagi likuiditas pasar modal. Salah satu penelitian yang membahas mengenai hal ini adalah penelitian Chung et al. (2005) di Kuala Lumpur Stock Exchage yang menunjukkan bahwa ukuran fraksi harga yang terlalu besar untuk saham dengan harga lebih tinggi malah merugikan likuiditas pasar. Selain itu, penelitian dari Broughelle dan Declerk (2002) menyatakan, penurunan fraksi harga dapat menyebabkan penurunan kedalaman pada kuotasi pasar modal di French Stock Market. Hal-hal inilah yang menyebabkan hingga saat ini sudah cukup banyak diadakan studi empiris mengenai penetapan fraksi harga optimal pada pasar modal di seluruh dunia.

Lalu, bagaimanakah efek penetapan fraksi harga saham terbaru terhadap likuiditas perdagangan saham di Indonesia? Mari simak, tinjau dan evaluasi bersama. Semoga saja saat ini telah diterapkan fraksi harga saham yang optimal di pasar modal Indonesia.

Oleh: Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRMO – Faculty Member of PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah SIndo Weekly No. 09 Tahun VI, 1-7 Mei 2017 p. 82