Perang Model Bisnis: X is The New King

Cash is King, ungkapan lama yang masih menjadi pedoman kebanyakan perusahaan untuk tetap bertahan di belantika bisnis. Keadaan kas perusahaan juga sering dijadikan patokan oleh investor dalam meramu portofolio investasinya.

Namun, apakah kondisi kas cukup relevan lagi sebagai bekal untuk sukses di persaingan yang semakin sengit? Sudah tidak lagi tabu kalau sekarang perusahaan baru (start up) yang minim kas bisa dengan mudah menguasai medan perang. Senjata rahasianya adalah, model bisnis yang mutakhir.

Renald Khasali menganalogikan secara sederhana melalui kisah pertarungan model bisnis pedangdut Inul Daratista dengan Rhoma Irama. Betapa keduanya berlomba di industri hiburan melalui model bisnis yang berbeda. Inul dengan model bisnis panggung hiburannya, sementara Rhoma setia dengan model bisnis royalti. Tentu saja model bisnis yang mengikuti perkembangan zaman yang menang, karena tumbuh pesat.

Model bisnis yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen cenderung sukses menjawab tantangan zaman lebih cepat. Istilah terkenal dari fenomena ini adalah disrupsi teknologi.

Era Disrupsi Teknologi Menurut Forbes, tahun ini akan ada 5 tren disrupsi teknologi, yaitu automasi keuangan fintech, big data yang semakin canggih, internet of everything, mobile transactions in any way, dan eksplorasi alam semesta yang semakin mudah. Tren tersebut bak komik science-fiction yang nyata di hadapan kita.

Nah, tentu saja hal ini jangan hanya sekadar fenomena semata, tapi kita sebagai organisasi harus ambil peran yang signifikan. Membuat perubahan pada status quo yang dapat meningkatkan eksistensi perusahaan di hadapan konsumen.

Pesatnya disrupsi teknologi membuat beberapa perusahaan besar tumbang dari berbagai industri. Masih ingat dampak yang terjadi akibat hadirnya Amazon, Uber, Netflix, SpaceX, atau Airbnb? Kasus-kasus tersebut bisa menjadi renungan. Those new players didn’t kill the incumbents, they did to themselves. Ya, perusahaan-perusahaan besar tumbang karena model bisnisnya statis dan minim inovasi.

X is The New King Menurut buku X: The Experience When Business Meets Design karangan Brian Solis, “without defining experiences, brands will become victim to whatever people feel and share.” Di dunia yang tanpa batas dan akses informasi yang berlimpah, pengalaman yang bermakna bagi konsumen adalah yang utama dalam kesukesan suatu produk. Sebagus apapun produk yang dimiliki takkan pernah cukup untuk memenangkan persaingan. But its X does.

Salah satu contoh kasus perusahan yang tidak tergerus era disrupsi teknologi adalah perusahaan boneka American Girl. Mereka sukses bertahan dan terus tumbuh di ladang yang penuh rumput disrupsi. Satu strategi yang digunakan adalah memberikan segala bentuk pengalaman kepada konsumen tentang produknya. Misalnya, mereka memberikan media story telling tentang boneka, pengalaman membawa boneka di jamuan makan malam atau berbelanja ke mall, bahkan konsumen diberikan kesempatan mengenal boneka lebih personal dengan kesamaan-kesamaan yang dimiliki.

Kekomprehensifan pengalaman yang ditawarkan ini membuat pesaing yang disruptif kesulitan untuk mencuri pangsa pasar. This simply confirms that X to be the New King.

Kembali ke tren disrupsi teknologi oleh Forbes di atas, yaitu teknologi big data yang semakin canggih, kita bisa jemput bola di ranah ini. Dengan bantuan big data, kita bisa menganalisis bagaimana konsumen menggunakan produk kita, termasuk apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka katakan tentang produk kita. Dari hasil analisa tersebut, secara realistis kita dapat merancang suatu pengalaman yang bermakna untuk produk yang sesuai dengan ekspektasi konsumen. Dengan begitu, perusahaan bisa ambil ancang-ancang untuk lari melesat.

Sebenarnya, ketakutan pemain lama di industri terhadap pesaing yang disruptif terlalu berlebihan. Pasalnya, mereka akan kalah bukan semata-mata karena adanya pesaing yang disruptif tetapi karena mereka lambat dalam menjawab tantangan perubahan zaman. Model bisnis mereka terlalu kompleks untuk melayani konsumen yang membutuhkan simplicity.

Pun bisa ditarik benang merah bahwa bukan jumah kas yang melimpah atau berapa panjang sejarah yang dimiliki, tapi perusahaan yang memberikan pengalaman yang berbeda, yang lebih sesuai dengan ekspektasi konsumennya, dan simplicity yang lebih masuk akal, yang akan memenangkan kompetisi pangsa pasar.

Satu kalimat dari Oliver Wendell Holmes, Jr., seorang ahli hukum Amerika, sepertinya cukup untuk menutup tulisan ini; “A mind that is streched by a new experience can never go back to its old dimensions.”

Oleh: I Gede Christian Adiputra, M.M. Trainer & Consultant PPM Manajemen

*Tulisan ini tayang di Majalah Sindo Weekly No. 26 Tahun VI 28 Ags 2017 – 3 Sep 2017

Kenali Calon Debitur Anda

Debitur, menurut kamus besar bahasa Indonesia ialah orang, atau lembaga yang berutang kepada orang atau lembaga lain. Pemberian pinjaman kadang memerlukan jaminan atau agunan dari pihak debitur. Jika seorang debitur gagal membayar pada tenggat waktu yang dijanjikan, biasanya proses koleksi formal dilakukan, dan kadang mengizinkan penyitaan harta milik debitur untuk memaksa pembayaran.

Bagi para kreditur, ada salah satu langkah dalam melakukan penilaian kelayakan kredit debitur. Adalah dengan melakukan penilaian risiko debitur. Penilaian risiko debitur dapat dilakukan dengan memberikan rating atau skor berdasarkan kemungkinan terjadinya kegagalan debitur dalam memenuhi kewajiban pembayaran.

Rating atau skor tersebut dapat menjadi dasar untuk mengelompokkan atau mengidentifikasi tingkat risiko dari setiap debitur yang dapat dijadikan salah satu pertimbangan dalam menentukan kualitas debitur (termasuk penentuan tingkat kewenangan pemutus kredit, pemenuhan agunan serta penetapan pricing atau alokasi risiko kredit debitur).

Salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur rating debitur adalah dengan menggunakan ukuran finansial berupa rasio-rasio keuangan dari laporan historis keuangan debitur, baik laporan neraca maupun laba rugi selama 2-3 tahun terakhir. Laporan keuangan tersebut dapat dijadikan suatu dasar atau panduan untuk mengukur kinerja keuangan debitur dan performa debitur secara berkala. Ukuran likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas debitur menjadi indikator rating risiko debitur.

Ukuran lainnya selain ukuran finansial adalah menggunakan ukuran kinerja debitur yang berupa kriteria-kriteria dasar, baik kriteria internal maupun eksternal secara kualitatif maupun kuantitatif. Kriteria-kriteria tersebut biasanya merupakan faktor kunci keberhasilan di industri debitur. Kriteria tersebut juga dapat dikombinasikan dengan ukuran finansial debitur.

Adapun ukuran tersebut mencakup kualitas kinerja keuangan, kemampuan membayar debitur (repayment capacity), tingkat kolektibilitas debitur, serta penilaian atas prospek usaha debitur yang terdiri atas penilaian terhadap prospek usaha secara makro (prospek industri); aspek pemasaran termasuk kompetisi, aspek teknis produksi, aspek pengelolaan manajemen; aspek pemenuhan terhadap legalitas usaha; aspek lingkungan (baik pemenuhan terhadap ijin atau AMDAL); aspek pemenuhan jaminan dan aspek lingkungan sosial yang memengaruhi usaha debitur.

Selain itu, ukuran lain yang dapat digunakan untuk menentukan rating debitur adalah pengukuran terhadap kemungkinan kerugian (expected loss) yang dihadapi oleh kreditur apabila debitur gagal melakukan pemenuhan terhadap kewajiban fasilitas kredit yang dimilikinya. Adapun rating juga bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya (probability of default) dalam keadaan bisnis debitur berjalan normal.

Sistem internal rating dapat membantu bank untuk menetapkan suku bunga bagi debitur sesuai dengan karakteristik atau profil risiko debitur, selain itu internal rating juga dapat memberikan kemudahan bagi bank dalam menentukan pengelolaan risiko yang tepat bagi debitur tersebut dengan menggunakan metode stress test.

Stress test dalam hal ini bertujuan untuk mengantisipasi kejadian buruk yang dapat menggangu tujuan dan likuiditas bank melalui pengukuran tingkat kesehatan dan keberlangsungan bank. Pengukuran tingkat kesehatan dilakukan dengan mengamati indikator permodalan bank yang menjadi cadangan bank ketika mengalami kerugian. Pengukuran tingkat likuiditas ditinjau dari sumber pendanaan operasional bank bilamana sumber pendanaan tersebut tertahan sehingga menyebabkan bank tidak dapat beroperasional seperti pada umumnya.

Melalui pengukuran stress test berdasarkan rating debitur, bank dapat menentukan kebutuhan modal dan melakukan simulasi atas return yang didapatkan dari debitur berdasarkan gambaran kondisi kejadian-kejadian atau risiko-risiko yang memengaruhi tingkat kesehatan dan keberlangsungan usaha.

Sistem internal rating secara keseluruhan dapat digunakan oleh bank untuk mengamati profil dan karakteristik dan sebaran portofolio kredit bank, sehingga manajemen dapat menggunakan informasi tersebut dalam menyusun strategi perkreditan bagi bank ke depannya.

Berdasarkan uraian diatas, sistem rating debitur dapat memberikan gambaran kepada bank mengenai bagaimana mengelola risiko debitur ke depannya terkait dengan pemantauan terhadap kinerja calon debitur sebelum dan sesudah pemberian kredit, serta level pemeringkatan terhadap risiko debitur.

Oleh: Lufina Mahadewi, M.M., M.Sc. – Core Faculty of PPM School of Management

Nyonya Meneer Masih Berdiri?

Pengadilan Niaga Semarang menjatuhkan vonis pailit kepada Nyonya Meneer yang dua tahun lagi bakal berdiri selama 100 tahun, dan saat ini perusahaan jamu itu dipimpin oleh generasi ketiga, cucu Nyonya Meneer.

Apakah ini berarti Nyonya Meneer tidak mampu menghindari ‘kutukan’ yang sering didengungkan terkait bisnis keluarga?; Generasi pertama merintis, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan’. Dalam pengelolaan bisnis keluarga dapat ditinjau beberapa hal yang memengaruhi keberlanjutan sebuah bisnis keluarga, di antaranya: analisis strategi industri, analisis bisnis, pemilihan suksesor dan pengembangan suksesor, termasuk di dalamnya isu-isu hubungan antar anggota keluarga maupun antara keluarga dengan karyawan.

Dalam penelitiannya, mengenai analisis daya saing, strategi, dan prospek industri jamu di Indonesia tahun 2007, Erni mengungkapkan untuk dapat memenangkan persaingan, setiap pengusaha jamu harus cukup kreatif dan mempunyai strategi dalam meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan penjualan. Karena walaupun persaingan yang terjadi cukup ketat dibandingkan sebelumnya, tetapi permintaan pasar masih tetap ada dan cenderung meningkat.  Sehingga usaha jamu masih dapat dikatakan memiliki prospek yang cukup baik.

Strategi usaha yang dapat dilakukan adalah senantiasa melakukan peningkatan kualitas atau mutu jamu, peningkatan kualitas kemasan, dan mencari bahan baku yang murah dan berkualitas baik. Selain itu, dapat juga dilakukan pendekatan atau lobi-lobi untuk perluasan pasar, melakukan promosi yang gencar seperti pengadaan bonus, potongan harga, kemudahan pembayaran, dan yang paling penting adalah membangun loyalitas dan komitmen pada konsumen. Selain promosi yang telah disebutkan di atas, promosi juga dapat dilakukan dengan cara beriklan di media lokal seperti di radio ataupun koran lokal.

Terkait dengan promosi melalui iklan di media sosial, rasanya sudah cukup lama tidak melihat atau mendengar produk-produk Nyonya Meneer ditayangkan di televisi nasional maupun radio lokal.

Nama Nyonya Meneer memang sudah sangat akrab di telinga, terutama yang lahir sebelum tahun 1990, tetapi nama produknya tidak satupun yang saya ingat, PT Nyonya Meneer harus lebih gencar dalam berpromosi sehingga produk jamunya akan lebih dikenal luas oleh masyarakat (Hapsari, Ellok, 2004).

Terdapat tiga lini produk yang dimiliki oleh PT Nyonya Meneer Semarang, yaitu: jamu untuk wanita, jamu untuk pria, jamu untuk perawatan dan penyembuhan. Guna memperpanjang lini produk yang ada, maka cara yang dipilih oleh PT Nyonya Meneer Semarang adalah dengan cara mengisi lini produk atau menambah jumlah produk di setiap lini. Namun, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan mengenai strategi pemasaran, strategi terpilih atau yang tepat bagi PT Nyonya Meneer adalah strategi segmentasi. Segmen yang direkomendasikan adalah wanita remaja hingga dewasa dengan pendapatan menengah dan menengah ke atas (Arvianto, 2014).

Perencanaan suksesi pada perusahaan keluarga dapat dapat digambarkan sebagai berikut :

Jika melihat dari beberapa publikasi, Charles Saerang sebagai generasi ketiga sekaligus sebagai penerus pimpinan puncak di Nyonya Meneer, tidak mengalami proses mentoring yang optimal dari sang ayah sebagai pimpinan puncak generasi kedua pada saat itu, ayahnya meninggal tidak lama setelah Charles baru bergabung dalam Nyonya Meneer. Almarhum ayah Charles Saerang sendiri kemungkinan tidak dipersiapkan khusus oleh Nyonya Meneer untuk meneruskan perusahaan karena menurut cerita, sampai akhir hayatnya Nyonya Meneer belum menentukan siapa yang akan memimpin kelanjutan bisnis keluarga ini.

Hubungan antar anggota keluarga juga sempat tidak harmonis, karena sejak generasi kedua terjadi perebutan kekuasaan tertinggi dalam manajemen Nyonya Meneer yang berlanjut sampai generasi ketiga. Diperparah lagi karena ketidakharmonisan ini sampai melibatkan karyawan perusahaan, sehingga sempat terjadi perpecahan antar karyawan dengan manajemen yang berbeda kubu.

Charles Saerang yang memegang pimpinan puncak di Nyonya Meneer pun tidak melewati proses pemilihan suksesor yang seharusnya, karena Charles memperoleh posisi tersebut setelah membeli saham saudara-saudaranya.

Sehingga berdasarkan analisis strategi dan bisnis, serta pemilihan dan pengembangan suksesor, termasuk hubungan antar keluarga dengan karyawan sebagai beberapa komponen penentu keberlanjutan bisnis keluarga, kelihatannya belum diimplementasikan dengan optimal oleh Nyonya Meneer.

Oleh : Gerald Pasolang, M.M. – Trainer, Executive Development Services | PPM Manajemen

Sekoci Penyelamat

Alkisah terdapat sebuah pulau yang diisi oleh satu desa, lengkap dengan penduduk dan perangkat pemerintahan desanya. Mata pencaharian penduduk desa tersebut pada umumnya berasal dari kegiatan bercocok tanam ataupun menangkap ikan. Berbeda dengan penduduk desa pada umumnya, hidup pula suatu keluarga, sebut saja keluarga Pak Belalang, yang menjadikan kegiatan berdagang berbagai kebutuhan sehari-hari dengan mendirikan sebuah toko sebagai mata pencahariannya.

Sejak desa tersebut berdiri dan didiami oleh warganya, toko Pak Belalang -lah satu-satunya tempat di mana seluruh warga desa dapat membeli berbagai kebutuhan sehari-harinya. Mulai dari bahan pangan, pakaian, kebutuhan rumah, alat dan bahan pertanian dan penangkapan ikan, kebutuhan sekolah, dan berbagai kebutuhan lainnya. Praktis dengan kondisi seperti itu dapat kita sebut bahwa Pak Belalang dengan tokonya telah me”monopoli” pasar kebutuhan sehari-hari desa tersebut.

Waktu pun terus berganti, hingga pada suatu satu-dua tetangga satu desa Pak Belalang juga tergiur mengubah mata pencahariannya, dari bercocok tanam atau menangkap ikan beralih ke berdagang dengan membuka toko. Ada yang berdagang bahan pangan dan pakaian, dan ada pula yang berdagang alat dan bahan pertanian dan penangkapan ikan. Sedikit demi sedikit pelanggan setia toko Pak Belalang pun beralih ke toko-toko baru tersebut. Kondisi pasar kini sudah tidak lagi monopolistik, dan bulan madu usaha Pak Belalang pun berakhir.

Bila kita lanjutkan cerita tersebut dengan pertanyaan; apa yang harus dilakukan Pak Belalang untuk mempertahankan keberlanjutan usahanya? Agaknya kita pun tidak sepakat bila yang harus dilakukan oleh Pak Belalang adalah melakukan aksi unjuk rasa, ataupun lobi-lobi politis tingkat desa kepada perangkat pemerintahan desa tersebut, hingga kepala desa dapat mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan usaha Pak Belalang secara sepihak. Bukan pula dengan tindakan menebarkan ancaman teror kepada pemilik toko-toko yang baru berdiri tersebut.

Upaya yang paling bijak yang dapat dilakukan oleh Pak Belalang adalah dengan menciptakan keunggulan-keunggulan kompetitif bagi tokonya. Menciptakan keunggulan dan keunikan dari produk dan layanannya, entah berupa produk yang memang benar-benar berbeda dari para pesaingnya kini, ataupun dengan keunggulan atas harganya yang sangat terjangkau.

Selain dengan menciptakan keunggulan-keunggulan tadi, yang juga dapat dilakukan oleh Pak Belalang adalah berkreasi dan berinovasi menciptakan sumber pendapatan baru. Sehingga bila terjadi penurunan dari hasil usahanya akibat persaingan, maka dapur keluarga Pak Belalang pun masih tetap berasap karena adanya sumber pendapatan lain hasil daya kreatif dan inovasinya.

Cerita tentang Pak Belalang dan desanya tersebut memang kisah fiktif belaka. Namun demikian agaknya ada beberapa hal yang menarik untuk kita refleksikan ke dalam praktik organisasi kita sehari-hari. Pertama, yang harus kita lakukan adalah terus menciptakan keunggulan baru, dan bukan mencoba mengubah lingkungan eksternal yang kendalinya pun tidak kita pegang.

Kedua, bahwa dalam keadaan lingkungan yang tenang dan nyaman sekalipun, upaya inovasi di dalam organisasi tidak boleh padam. Terlena dalam kenyamanan lingkungan yang bersahabat dapat saja mengantarkan kita ke kondisi yang tidak produktif, apalagi bila dikaitkan dengan karakteristik lingkungan saat ini yang sarat dengan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).

Gelaran Anugerah BUMN 2017 yang baru saja terlaksana setidaknya telah menjadi suatu ajang yang memberikan indikasi bahwa telah banyak BUMN kita (beserta anak-anak usahanya) yang sadar akan tantangan lingkungan eksternal tersebut. Pun demikian, banyak pula di antara mereka yang telah memulai langkah-langkah inovasi demi terwujudnya proses transformasi yang akan membawa mereka dapat tumbuh dan bernilai tambah secara berkelanjutan.

Sebut saja Perum PERURI. Berbagai penugasan yang diberikan oleh pemerintah, seperti mencetak alat pembayaran fisik, meterai, serta dokumen-dokumen legal bermuatan fitur keamanan yang tinggi tampaknya tidak membuat PERURI terlena dan berdiam diri. Isu-isu atas tren cashless society, crypto-currency, e-document dan berbagai dampak kemajuan teknologi lainnya, yang sebenarnya sudah di depan mata tetapi belum sepenuhnya menjadi kenyataan, justru tidak sedikit pun menghentikan langkah organisasi berinovasi dengan membangun berbagai lini bisnis baru yang memanfaatkan isu atas tren tersebut.

Sekoci-sekoci penyelamat berupa lini-lini bisnis baru tersebut justru diciptakan pada saat-saat di mana riak-riak gelombang perubahan lingkungan eksternal belum terlalu dirasakan. Sekoci-sekoci tersebut justru diciptakan saat samudera yang mereka arungi masih cukup tenang dan bersahabat.

Selain PERURI, sejumlah anak usaha BUMN yang juga turut berpartisipasi dalam gelaran Anugerah BUMN 2017 ini pun menunjukkan suatu indikasi bahwa mereka telah lama dipersiapkan oleh induknya masing-masing untuk tidak hanya memberikan dukungan bagi bisnis sang induk, tetapi juga menjadi sekoci penyelamat keluarga (kelompok perusahaan) di tengah tantangan lingkungan eksternal yang serba tidak pasti dan semakin kompleks.

Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang telah memulai langkah-langkah strategis untuk berinovasi dan mengembangkan sejumlah usaha barunya merupakan salah satu contoh betapa tantangan persaingan usaha dan perlambatan petumbuhan di sektor yang digeluti induknya telah memacu mereka untuk terus berinovasi, dan berjuang untuk menjadi sekoci penyelamat bagi mereka sendiri dan keluarga besar PERTAMINA. Begitu pula dengan sang saudara kandung; Pertamina Lubricants, yang juga terus berinovasi bahkan di tengah samudera industri pelumas yang juga tidak kalah keras aroma kompetisinya.

Di keluarga Perusahaan Gas Negara (PGN), ada PGAS Telekomunikasi Nusantara, anak yang dilahirkan untuk mengemban amanah untuk mendukung berbagai proses bisnis sang induk melalui kompetensi teknologi informasi dan komunikasinya. Amanah tersebut lebih lanjut dimaknai oleh PGAS Telekomunikasi Nusantara untuk tidak hanya hadir sebagai pendukung bisnis induknya. Amanah tersebut lebih lanjut dimaknai sebagai amanah transformasi untuk menjadi salah satu mesin pertumbuhan PGN serta menjadi sekoci penyelamat di tengah samudera yang akan diarungi oleh keluarga besar PGN.

Baik Pak Belalang, tokoh fiktif kita di cerita awal tulisan, ataupun organisasi-organisasi entitas usaha seperti BUMN, memiliki sekoci penyelamat atau tidak adalah suatu pilihan. Dan bila keberlanjutan usaha dan pertumbuhan nilai perusahaan yang menjadi kehendak utama, maka memiliki sekoci penyelamat adalah suatu keniscayaan.

Kapan sekoci penyelamat itu akan kita bangun? Tidak ada suatu aturan atau teori mana pun yang akan menyebutkan bahwa sekoci penyelamat harus kita bangun saat kapal akan tenggelam, ataupun saat kapal sedang berlabuh. Namun demikian, tampaknya di dunia yang dipenuhi dengan dinamika VUCA ini, membangun sekoci penyelamat saat gejolak arus samudera belum terlalu mengancam gerak laju kapal tentunya akan menjadi pilihan bijaksana. Seperti kata pepatah latin yang juga dikutip oleh George Washington dan Sun Tzu; Si vis pacem para bellum atau In a time of peace, prepare for war.

Investasi Dana Haji untuk Infrastruktur: Halal?

Beberapa waktu belakangan, ramai kanal berita yang menyiarkan tentang polemik dana haji. Isu yang berkembang ini dimulai ketika Presiden Joko Widodo mengemukakan permintaan agar dana haji yang dikelola BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji) dapat diinvestasikan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang ada di Indonesia dengan harapan setelah dana digulirkan, bisa mendapatkan keuntungan dan membuat biaya pelaksanaan haji bisa lebih murah.

Atas permintaan ini, beragam respon masyarakat bermunculan. Tak sedikit yang membagi berita terkait hal ini di media sosial, lengkap dengan komentar dan kekhawatirannya masing-masing. Apakah secara syariah hal ini dibenarkan? Apakah pemerintah menjamin bahwa dana haji tersebut akan tetap utuh ketika tiba saatnya bagi nasabah untuk berangkat haji?

Sebelum kita membahas lebih dalam tentang penggunaan dana haji, mari kita telaah terlebih dahulu seperti apa perbankan syariah, tempat nasabah menitipkan dana hajinya masing-masing.

Seperti perbankan pada umumnya, bank syariah atau islamic bank merupakan suatu lembaga yang menjadi intermediaries antara pihak yang surplus dana dengan pihak defisit dana. Nasabah yang surplus dana akan menitipkan uangnya di bank dalam bentuk tabungan dan deposito. Oleh bank, dana yang berasal dari nasabah atau dana pihak ketiga (DPK) akan disalurkan oleh bank kepada pihak yang defisit dana melalui produk kredit atau pembiayaan.

Terkait dengan produk tabungan, terdapat beberapa jenis tabungan yang dibedakan menurut akadnya. Terkait dengan tabungan haji, hal pertama yang perlu digarisbawahi adalah akad yang dilakukan saat pembukaan rekening tabungan haji di bank syariah. Dalam rekening tabungan haji, akad yang dilakukan adalah mudharabah mutlaqah, artinya, nasabah sepakat untuk menempatkan dananya di bank syariah, dan memberikan keleluasaan kepada bank untuk mengelola dana tersebut, termasuk salah satunya sebagai pembiayaan infrastruktur.

Praktik penggunaan dana haji untuk investasi pada sektor infrastruktur sebenarnya telah berlaku sejak lama. Pada tahun 2010, atas kesepakatan kerjasama antara Kementerian Agama RI dengan Kementerian Keuangan RI, diterbitkan Sukuk Dana Haji Indonesia. Pembiayaan melalui sukuk ini kemudian digunakan untuk pembangunan infrastruktur dalam negeri. Hingga 2016, total aset yang dikelola mencapai Rp95,2 Triliun.

Melihat potensi dana haji yang sangat besar, alih-alih menjadikan dana tersebut sebagai idle fund, Presiden Jokowi kemudian meminta untuk dapat menginvestasikan dana haji tersebut secara langsung pada sektor infrastruktur, tanpa melalui penerbitan sukuk.

Sebagai contoh, negara Malaysia telah melakukan praktik yang sama. Dana dalam tabungan haji diinvestasikan ke dalam beberapa sektor, misalnya sektor properti dan perkebunan, serta investasi luar negeri. Melalui praktik tersebut, lembaga tabungan haji di negara Malaysia berhasil mendapatkan keuntungan hasil investasi hingga senilai Rp8 Triliun per tahun. Adapun keuntungan investasi ini digunakan sebagai subsidi biaya naik haji.

Kembali kepada pertanyaan sebelumnya, apakah hal ini dibenarkan secara syariah? Tentunya, praktik ini merupakan satu hal yang wajar dan sah menurut syariah. Pemerintah pun telah menjamin bahwa dana tersebut akan tetap tersedia di rekening masing-masing nasabah, dengan nominal yang seharusnya.

Polemik berikutnya yang perlu diantisipasi adalah isu transparansi atas penggunaan dan pengembalian dari investasi dana haji tersebut. Seyogyanya, dana haji digunakan untuk dapat membangun infrastruktur yang memberikan manfaat langsung kepada jamaah haji. Selain itu, bank sebagai lembaga intermediaries, serta Kementerian Agama RI bersama Kementerian Keuangan RI juga perlu memberikan informasi yang transparan terkait penggunaan dana haji dalam tiap investasi, serta pengembalian atas proyek-proyek investasi yang didanai oleh dana haji.

Diperlukan pula edukasi kepada tiap nasabah bahwa penggunaan dana haji untuk investasi adalah praktik yang normal dan wajar, dan sesuai dengan prinsip syariah yang berlaku.

Sumber: SWAOnline August 9, 2017 https://swa.co.id/swa/my-article/investasi-dana-haji-untuk-infrastruktur-halal

Oleh : Fitri Safira M.M. – Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif | PPM Manajemen

Lindungi Nilai Itu Penting

Tujuan utama penerapan perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara (ASEAN Free Trade Area-AFTA) yang dibentuk sejak tahun 1992 adalah meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.  Kawasan bebas perdagangan ini sebagai salah satu dampak dari globalisasi. Globalisasi juga mendorong jumlah perusahaan multinasional yang ada di seluruh negara ASEAN, termasuk Indonesia, semakin bertambah.

Tujuan pendirian perusahaan multinasional pada dasarnya sama dengan tujuan pendirian perusahaan pada umumnya, yaitu memaksimalkan kekayaan dari pemegang saham –salah satunya dengan meningkatkan profit dari bisnis yang dijalani. Perusahaan multinasional juga  menghadapi risiko operasional seperti perusahaan pada umumnya, namun yang biasa disoroti adalah risiko fluktuasi nilai tukar mata uang.

Perbedaan serta fluktuasi nilai tukar mata uang sulit untuk diprediksi secara tepat karena tingkat volatilitasnya yang sangat tinggi. Untuk itu, perusahaan multinasional perlu menerapkan suatu metode yang dapat meminimalisasi kerugian bagi perusahaan. Bahkan, kalau memungkinkan, memaksimalkan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan.

Salah satu metode yang umum digunakan oleh perusahaan multinasional adalah hedging, atau biasa dikenal dengan “aksi lindung nilai”.  Berdasarkan PBI No.15/8/PBI/2013, lindung nilai adalah cara atau teknik untuk mengurangi risiko yang timbul maupun yang diperkirakan akan timbul akibat adanya fluktuasi harga di pasar keuangan.

Apabila sebuah perusahaan telah memutuskan untuk melakukan hedging, perangkat-perangkat yang dapat digunakan diantaranya adalah kontrak forward, kontrak future, instrumen keuangan (hedging melalui pasar uang), swap, dan opsi valuta asing (Madura, 2012). Umumnya, perusahaan akan memilih menggunakan kontrak forward karena penggunaanya yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan perangkat hedging lainnya.

Kontrak forward diterapkan menggunakan kurs forward yang mewakili kurs penukaran valuta asing di masa depan.  Sebagai contoh, perusahaan X menggunakan kontrak forward untuk membayar pemasok di Amerika senilai US$90 juta pada 90 hari ke depan dengan kurs forward US$1 senilai Rp14.000.  Dengan demikian, perusahaan ini pada 90 hari ke depan harus menukarkan US$90 juta menjadi Rp14.000/dolar AS, berapa pun kurs valuta asing yang sedang berlaku pada saat itu. Strategi ini ditujukan untuk melindungi nilai transaksi perusahaan dari kemungkinan kurs valuta asing yang melonjak di masa mendatang.

Adapun konsep kontrak future. Sistem kontrak ini pada dasarnya sama dengan pada kontrak forward, namun kontrak future sudah diperjualbelikan di bursa tertentu untuk menjual atau membeli suatu aset tertentu, dengan besaran tertentu, harga tertentu, dan untuk jangka waktu tertentu.  Opsi valuta asing pada dasarnya dibedakan atas dua macam, yaitu calls sebagai hak beli dan puts sebagai hak jual dari aktiva tertentu pada masa mendatang.

Di Indonesia, praktik hedging dapat ditemui pada BUMN, yaitu PT Garuda Indonesia (GIAA) dan PT Bank BNI Tbk (BBNI).  GIAA melakukan kerjasama hedging dengan BBNI melalui skema cross currency swap (CCS) senilai Rp500 miliar dengan jangka waktu 3 tahun atas pokok utang dan bunga pinjaman. Melalui skema ini, GIAA menetapkan nilai dana berdenominasi rupiah yang dimilikinya terhadap valuta asing pada kurs referensi BI di 9 Juni 2014 (Rp11.790/dolar AS).  Artinya, pada 3 tahun ke depan, GIAA akan menukarkan dana Rp500 miliar yang dimilikinya dengan US$42,408 juta dari BBNI.  Hal ini tentu akan mengamankan GIAA dari fluktuasi mata uang dolar AS terhadap rupiah ke depannya. Strategi ini dilakukan GIAA lantaran pada 2013-2014,  beban usaha perseroan melonjak hingga 407,6% akibat fluktuasi nilai mata uang.

Melakukan hedging atau lindung nilai tidak serta-merta menjadikan perusahaan untung berpuluh kali lipat dari sebelumnya.  Setidaknya, perusahaan dapat berjaga-jaga akan kerugian atau keuntungan yang didapatkannya sehingga dapat merumuskan strategi yang tepat untuk kondisinya.

Oleh: Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRMOFaculty Member of PPM School of Management

*Tulisan ini Tayang di Majalah Sindo Weekly No. 23 Tahun VI, 7-13 Agustus 2017 p. 82

Introver VS Ekstrover

Ada paradigma keliru di masyarakat, ekstrover dinilai lebih baik ketimbang introver. Orang yang introver dianggap sebagai pemalu, menarik diri dari pergaulan, tidak mampu mengungkapkan pendapat, bahkan tak jarang dilabeli fobia sosial. Orang yang ekstrover lebih disukai dan populer.

Sejak kecil, orang tua memotivasi anaknya untuk “keluar dari tempurung”, menjadi “anak gaul”, menjadi kriteria remaja yang diidolakan, dan saat melamar pekerjaan pun disyaratkan mampu bekerja dalam kelompok. Betapa dunia membuat para ekstrover makin berkilau, sedangkan para introver makin terpuruk.

Orang introver bak si itik buruk rupa, dianggap berbeda dari kebanyakan dan tidak diharapkan oleh lingkungan. Hal ini yang mendorong banyak orang berpura-pura tampil sebagai seorang yang ekstrover, karena tidak mau dianggap aneh, adanya kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, dan tidak ingin dikucilkan dari masyarakat. Padahal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sepertiga hingga separuh dari populasi dunia terdiri dari orang introver.

Di dunia kerja, mungkin kita sering melihat orang-orang esktrover aktif mengutarakan pendapat saat rapat dan mendominasi diskusi, sehingga sering didaulat sebagai pemimpin. Mereka dikenal banyak orang lintas departemen, luwes, dan mudah bergaul, sehingga tidak mengherankan mereka menjadi cukup populer.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang introver? Apakah memang mereka tidak mampu menampilkan kinerja optimal? Apakah memang dunia kerja hanya didesain untuk orang ekstrover? Apakah seorang introver tidak akan mampu menjadi pemimpin yang andal?

Introver bukanlah sebuah kondisi tidak sehat mental.

Introver dan ekstrover merupakan tipe kepribadian individu yang dipopulerkan oleh Carl Gustav Jung, seorang psikiater dan psikoanalis dari Swiss. Tipe kepribadian ini akan memengaruhi bagaimana seseorang bekerja, menjalani kehidupannya, dan berinteraksi dengan orang lain.

Seorang ekstrover tampil sebagai individu yang luwes, spontan, banyak bicara, dan enerjik. Para ekstrover mendapatkan energi dari keberadaannya di antara banyak orang. Mereka senang berinteraksi dan berkumpul dengan banyak orang, serta berani mengutarakan ide atau pendapat. Mereka mudah memulai pembicaraan, tidak sungkan menceritakan tentang hari mereka pada orang lain yang bahkan mungkin baru mereka kenal, dan cenderung mendominasi percakapan.

Di sisi lain, seorang introver tidak menyukai suasana ramai atau berada di tengah keramaian, mereka merasa “hidup” dalam situasi yang tenang. Para introver cenderung untuk menyendiri, berpikir sebelum berbicara atau bertindak, dan membangun relasi yang sifatnya lebih personal. Berada di tengah keramaian justru seperti menyedot energi mereka, mereka memerlukan waktu sendiri di tengah kesunyian untuk me-recharge diri dan untuk fokus pada apa yang mereka kerjakan.

Dalam percakapan, introver lebih senang mendengarkan orang lain dibanding menceritakan tentang diri mereka. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk menemukan bahan perbincangan. Introver tidaklah sama dengan sifat pemalu. Pemalu lebih pada sebuah ketakutan pada diri seseorang atas penilaian sosial dan adanya asumsi pribadi bahwa orang-orang cenderung menilainya negatif. Beberapa orang introver mungkin saja pemalu, namun beberapa orang lainnya tidak.

Orang introver juga bukan orang yang tidak mau berinteraksi dan menarik diri dari pergaulan. Seorang introver tetap berkenan menghadiri sebuah pesta, bercakap-cakap dengan banyak orang, namun selepas itu ia memerlukan waktu sendirian untuk mengembalikan energinya yang terkuras setelah bertemu dengan banyak orang. Intinya, ekstrover dan introver menghimpun energi dan menemukan kesenangan dalam cara yang berbeda.

Eksperimen yang dilakukan oleh psikolog Russel Green menunjukkan, orang-orang ekstrover akan optimal dalam bekerja jika berada di lingkungan yang ramai, sedangkan orang-orang introver akan optimal dalam menyelesaikan tugasnya jika berada di lingkungan yang sunyi.

Adanya trait introver ataupun ekstrover pada diri seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor bawaan, sehingga tidaklah terlahir sebagai ekstrover lebih baik dibanding introver. Daripada bersusah payah membentuk seorang introver menjadi ekstrover –yang belum tentu berhasil- akan lebih baik memahami dunia introver, mencari tahu kebutuhan mereka, dan mengoptimalkan segenap potensi yang mereka miliki.

Menjadi introver bukanlah kutukan untuk tidak dikenal banyak orang. Beberapa tokoh terkenal di dunia dengan hasil karya yang inovatif dan imajinatif adalah orang-orang yang introver. Tengok saja cerita Harry Potter dari khayalan hebat JK Rowling, teori gravitasi dari Sir Isaac Newton, teori relativitas dari Albert Einstein dan sederet film-film yang akrab menjadi tontonan kita buah karya Steven Spielberg.

Tanpa para introver di dunia ini, kita tidak akan mengenal adanya komputer pribadi yang penemuannya diprakarsai oleh Steve Wozniack, yang juga merupakan pendiri Apple Computer. Kita juga tidak akan dengan mudah berselancar di dunia maya mencari berbagai informasi tanpa bantuan “mbah Google” yang diciptakan oleh Larry Page, terhubung dengan teman-teman di berbagai belahan dunia melalui Facebook buatan Mark Zuckerberg, dan menikmati kemudahan mengerjakan berbagai tugas menggunakan Microsoft hasil jerih payah Bill Gates.

Lalu, apakah seorang introver mampu menjadi pemimpin? Susan Cain dalam bukunya yang berjudul “Quiet: the power of introverts in a world that can’t stop talking” menyebut sederet nama pemimpin introver, seperti Eleanor Roosevelt, Mahatma Gandhi, Al Gore, Warren Buffett, dan Rosa Parks. Mereka mampu memengaruhi banyak orang, meski bukan merupakan the loudest voice in the room. Marissa Mayer, Hillary Clinton, Guy Kawasaki, Barack Obama juga membuktikan bahwa sebagai introver tidak mencegah mereka untuk mampu menjadi pemimpin yang mendunia.

Jadi buanglah jauh-jauh pemikiran bahwa orang introver tidak akan mampu menjadi pemimpin. Penelitian yang dilakukan oleh Fransesca Gino dari Harvard Business School menunjukkan bahwa para atasan yang introver ternyata lebih efektif dalam mengelola tim kerja yang proaktif dibanding atasan yang ekstrover.

Atasan introver akan senang mendengarkan usulan-usulan dari anak buahnya yang proaktif dan bersedia mengakomodir ide-ide mereka. Namun anak buah yang proaktif justru akan menjadi ancaman bagi para pemimpin ekstrover karena dominasi sang atasan dapat terkalahkan. Atasan ekstrover akan cenderung menyepelekan ide kreatif anak buahnya tersebut dan mengerdilkan semangat mereka. Atasan ekstrover lebih sesuai mengelola tim kerja yang membutuhkan banyak arahan, karena sang atasan dituntut untuk membangkitkan semangat, merumuskan visi, dan membuka jejaring.

Hal ini sejalan dengan konsep dominance complementary, yaitu kecenderungan kelompok untuk menjadi lebih kohesif dan efektif ketika terdapat keseimbangan antara anggota kelompok yang dominan dan submisif. Konsep ini juga dapat diterapkan dalam pembentukan tim kerja. Apabila tim kebanyakan terdiri orang-orang ekstrover akan terjadi konflik karena masing-masing akan mengedepankan ego mereka, sementara jika tim mayoritas terdiri dari para introver maka dinamika kelompok juga kurang terbentuk. Kombinasi yang proporsional akan menghasilkan tim yang efektif.

Hal yang menjadi tantangan adalah memahami perbedaan ekstrover dan introver dalam bekerja. Masing-masing memiliki preferensi yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Para ekstrover cenderung menangani pekerjaan mereka secara lebih cepat dan mampu mengambil keputusan dalam waktu singkat, namun adakalanya menjadi gegabah.

Mereka senang mengambil risiko dan menyukai pekerjaan yang bersifat multitasking. Kebalikannya, introver lebih membutuhkan waktu dalam menyelesaikan tugas dan cenderung berhati-hati. Mereka lebih menyukai fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu. Orang-orang introver juga lebih membutuhkan privasi dalam menyelesaikan pekerjaan dibanding ekstrover.

Sayangnya, banyak layout tempat kerja dewasa ini didesain untuk mengakomodir para ekstrover, misalnya open office plan. Disain seperti ini akan menjadi sumber tekanan bagi para introver karena terlalu banyak stimulus yang mengganggu mereka. Mereka harus mengerahkan tenaga ekstra untuk fokus dalam pekerjaan, sehingga dapat berdampak penyelesaian yang makin lama.

Kunci utama dalam mengelola para introver adalah memberikan mereka waktu untuk siap berkontribusi. Mereka membutuhkan waktu untuk mempersiapkan secara detil presentasi mereka, mereka perlu tau apa saja agenda rapat sehingga mereka dapat memformulasikan ide atau gagasan yang akan mereka sampaikan. Jangan paksa mereka melakukan improvisasi spontan.

Di lain sisi, orang-orang ekstrover perlu dilatih untuk lebih mau mendengarkan pendapat orang lain dan lebih terbuka pada sudut pandang anggota rapat yang cenderung diam. Tantang para ekstrover untuk dapat mengajak orang-orang yang lebih pasif untuk mau mengutarakan pendapatnya.

Dengan demikian, baik introver maupun ektrover sama-sama punya peluang untuk unggul dan menjadi pemimpin, karena pada dasarnya perbedaan mendasar dari mereka adalah pendekatan dalam bekerja dan proses sosial. Dengan memahami preferensi ini, maka kita akan lebih mengetahui karakter mereka dan menemukan cara yang tepat untuk mengoptimalkan potensi mereka, tanpa perlu menjadikan mereka “orang lain”.

Jika diperlakukan dengan tepat, maka sang introver pun dapat menjelma dari si itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik dan memesona.

Oleh: Maharsi AnindyajatiConsultant & Trainer, Executive Development Services | PPM Manajemen