Logistik Halal: Peluang yang Terlepas

Produk halal adalah produk yang diizinkan oleh hukum Agama Islam untuk dikonsumsi dengan  mempertimbangkan sisi keagamaan dan kesehatan. Yang tidak termasuk produk halal adalah makanan atau minuman yang mengandung dan berasal dari babi, serta menggunakan alkohol sebagai bahan tambahan (Dra. Hj. Artina Burhan, M.Pd, 2013). Lebih luas lagi, produk halal mencakup kosmetik, farmasi, pakaian, jasa keuangan, dan logistik (Marco Tieman, 2010).

Produk halal perlu dipersiapkan dan disampaikan kepada masyarakat, mulai dari proses bahan mentah sampai pengolahannya hingga menjadi barang jadi, pengemasan, pengiriman, dan penyimpanan sementara. Inilah yang mendorong perkembangan bukan hanya sebatas produk yang halal, namun sebuah logistik halal menjadi perlu (Farid Awang, 2013).

Besaran pasar logistik halal adalah US$2,3 triliun dengan sebaran terbesar di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika (Abdullah, 2015). Nilai ini sekitar Rp30.000 triliun atau 3 kali lipat PDB Indonesia. Dengan pertumbuhan populasi masyarakat Muslim sekitar 1,86% per tahun, nilai pasar logistik halal sangat menggiurkan. Amerika dan Eropa sendiri sudah membuka kerjasama untuk logistik halal. Bahkan, Pelabuhan Rotterdam di Belanda sudah menyediakan pintu khusus untuk pelayanan dan pengiriman produk halal ke berbagai negara di Eropa. Besarnya nilai pasar dan akses tersebut membuat Malaysia sangat mempersiapkan diri menjadi Hub di Asia Tenggara untuk logistik produk halal.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita masih sibuk dengan pembangunan infrastruktur dasar, seperti akses jalan tol, bandara, dan pelabuhan. Dengan berbagai hambatan teknis dan politis, jangan harap Indonesia mampu merebut pasar logistik halal dari Malaysia. Peringkat performa logistik Indonesia pun masih jauh dari Malaysia (peringkat 63 berbanding peringkat 32, sumber: Logistic Performance Index). Maka, sebaiknya Indonesia konsentrasi memperbaiki Logistik dalam negeri, barulah merebut peluang di luar negeri.

Jika infrastruktur saja belum bisa bersaing, bagaimana ingin bersaing di bidang logistik yang lebih spesifik? Pekerjaan rumah lain bagi Indonesia adalah skor persaingan harga dan kemudahan dalam international shipment yang hanya 2,90 berbanding skor Malaysia 3,48. Jelas kondisi ini mempersulit Indonesia untuk proses ekspor-impor produk halal. Selain isu infrastruktur, proses operasional logistik halal membutuhkan beberapa kegiatan tambahan dalam menangani dan mengelola produk.

Misalnya, harus ada pemisahan moda transportasi produk halal dan yang tidak halal.  Jika sebuah truk sudah digunakan untuk mengirim produk tidak halal dan akan digunakan untuk mengirim produk halal, truk tersebut harus disucikan dengan cara dibersihkan menggunakan tanah (atau bahan kimia yang memiliki sifat yang sama dengan tanah) sebanyak 7 (tujuh) kali. Penempatan produk halal dan tidak halal juga harus dipisah, minimal dikemas dengan kemasan yang tidak akan mencampurkan produk halal dan tidak halal.

Meski ada kegiatan tambahan, tapi bukan berarti hambatan. Justru ini menjadi peluang usaha untuk membuat perusahaan pembersih moda transportasi dan sebagai penyedia kemasan untuk mencegah bercampurnya produk halal dan tidak halal.

Tantangan lain adalah memperoleh sertifikasi halal dari MUI yang membutuhkan proses audit dari hulu sampai ke hilir sebuah sistem logistik. Bayangkan jika proses pengolahan produk, gudang, kemasan produk, pengiriman, semua diaudit. Dalam satu sistem logistik pun ada banyak perusahaan, aset, dan jenis produk yang terlibat. Ada proses konsolidasi yakni beragam jenis produk dari beragam lokasi berkumpul sehingga setiap produk harus selalu diberi label yang sah, apakah sudah melalui proses yang halal atau tidak.

Sebaiknya, Indonesia membereskan logistik dalam negeri supaya lebih efisien, kemudian memikirkan bagaimana menjadi hub logistik terpercaya di Asia Tenggara, sebelum memikirkan bagaimana menjadi hub logistik halal. Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun sekali Logistik Indonesia mencapai kelas dunia, maka semua potensi logistik halal dapat diraih, mengingat Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar.

Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services – PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 29 Tahun VI, 18-24 September 2017 p. 82.

Integrasi Rantai Pasok Obat yang Unggul

Ketahanan ketersediaan obat-obatan berkualitas di Indonesia sempat tergoncang pada 2016 silam. Sejumlah kasus muncul, diawali dengan penyebaran vaksin palsu di sejumlah rumah sakit dan obat-obatan palsu di beberapa pusat distribusi. Pemberitaan muncul dan tidak terbendung. Kejadian serupa tidak saja menerpa Industri Obat di Indonesia. Beberapa negara di dunia-pun tak luput terserang wabah yang sama.

Dari hasil kompilasi beberapa peliputan media, diketahui beberapa kasus serupa. Pada tahun 2009, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat 34 juta tablet obat-obatan palsu telah dibawa keluar dari peredaran di Eropa hanya dalam jangka waktu dua bulan. Pada tahun 2010 lebih dari 44,000 pasien meninggal setiap tahunnya di Amerika Serikat disebabkan oleh kesalahan penanganan klinis, dan 7,000 pasien di antaranya karena kesalahan pengobatan. Ada lebih dari 120.000 orang per tahun meninggal di Afrika sebagai akibat dari obat anti-malaria palsu, menurut pengakuan dan data WHO, obat-obatan tersebut tidak mengandung bahan aktif sama sekali yang diperlukan untuk penangkal malaria.

Continue reading

Generasi Millennials Sebagai Ibu Pekerja

Para millennials ini seakan tak pernah habis dibahas menjadi topik perbincangan karena memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.

Lingkungan para pekerja saat ini bisa dibilang multigenerasi. Mulai dari Generasi Baby Boomers, Generasi X, sampai ke Generasi Y atau Millenials. Nah, yang terakhir disebut adalah mereka yang lahir di rentang tahun 1980–2000. Di 2017, kurang lebih saat ini mereka berada pada usia 17–37 tahun.

Menyoal lingkungan kerja yang juga marak digeluti kaum wanita, maka mereka ini berada pada masa produktif, tidak hanya dalam karier namun juga dalam urusan membangun rumah tangga. Lantas bagaimana wanita-wanita millennials menjalankan perannya sebagai ibu sekaligus pekerja?

Menurut berbagai penelitian, generasi millennials memiliki karakteristik sebagai berikut dalam perannya sebagai ibu sekaligus pekerja.

Lebih Percaya User Generated Content

Karakteristik ini memperlihatkan perempuan milenial lebih memercayai informasi yang dibuat perseorangan daripada dari perusahaan atau iklan. Sebagai Ibu, tentu ingin yang terbaik untuk si buah hati sehingga dalam memutuskan dalam penggunaan produk bagi anak akan mencari informasi atau bertanya tentang pengalaman orang-orang yang memakai suatu merek dibanding membeli karena iklan. Generasi ini juga tidak segan-segan memberikan pengalaman buruk mereka terhadap suatu merek.

Lebih Memilih Gawai Dibanding Televisi.

Televisi lebih dipilih untuk dijauhkan dari anak-anak mereka. Juga kurang mempercayai iklan yang ada di televisi. Sebaliknya, gawai lebih lekat kepada mereka karena dapat dengan cepat mencari informasi melalui forum-forum ibu atau ayah, serta googling informasi yang dibutuhkan agar tetap up-to-date.

Wajib Memiliki Media Sosial

Tidak sedikit informasi tentang parenting diperoleh dari media sosial, Generasi Y yang menjadi ibu ini mendapatkan informasi dari akun-akun yang ia follow mengenai pola asuh terkini, menu MPASI, dan hal-hal yang terkait dengan si buah hati.

Kurang Suka Membaca secara Konvensional

Generasi ini kebanyakan lebih memilih membaca buku secara online melalui gawainya karena lebih praktis dan memudahkan, utamanya ketika sedang bersama si buah hati.

Lebih Melek Teknologi Dibanding generasi Sebelumnya

Mulai dari berkomunikasi, berbelanja, mendapatkan informasi, dan lain-lain. Generasi Millennials ini menggunakan teknologi untuk menjalankan perannya sebagai orangtua (ibu) dan tetap memenuhi tuntutan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dengan penggunaan CCTV interaktif dalam gawainya, karena mereka dapat berkomunikasi dan mengawasi pengasuh anak di rumah dari kantor. Mereka juga cenderung berbelanja berbagai kebutuhan rumah tangga, anak, dan pribadi secara online karena dianggap lebih mudah dan cepat tanpa mengorbankan waktu bekerja.

Cenderung Tidak Loyal namun Bekerja Efektif

Mereka cenderung meminta gaji tinggi, jam kerja fleksibel, dan bekerja dari tempat lain. Dua hal terakhir yang disebut membantu mengatur peran mereka sebagai Ibu yang mengurus rumah tangga dan sebagai profesional yang berkarir di perusahaan tanpa perlu merasa ada yang dikorbankan. Perusahaan yang menyediakan lingkungan kerja tersebut membuat mereka bekerja dengan efektif dan merasakan keseimbangan hidup dan berdampak pada kepuasan mereka, alhasil berimbas pada kenaikan produktivitas perusahaan.

Mulai Banyak Melakukan Transaksi secara Cashless

Generasi yang tidak mau repot membawa uang. Peran ganda yang diperankan oleh Generasi Millenials baik sebagai ibu dan wanita karir membuat mereka menyukai kepraktisan dan kemudahan dalam melakukan segala hal. Berbelanja online, transaksi pembayaran pun melalui kartu kredit, atau internet banking, membeli makanan pun secara online. Bisa dilihat bahwa mereka lebih memilih menggunakan payment secara elektronik (cashless) karena mudah, praktis, dan cepat.

Pesatnya arus informasi dan kemajuan teknologi membawa dampak kepada wanita golongan millennials ini, hal tersebut membantu mereka menyeimbangkan peran sebagai ibu dan juga sebagai wanita karir.

Untuk para marketer, dengan memahami pola dan perilku mereka, ada banyak celah yang bisa diambil sebagai ceruk bisnis. Mari manfaatkan momentum dengan cerdas!

Oleh: Julianita Kurniasari Trainer, Executive Development Services PPM Manajemen

*Tulisan ini tayang 2 September 2017 di marketplus.co.id