Work Ethics, Pentingkah?

Rapat koordinasi pagi itu berjalan dengan suasana menegangkan. Rosi dan Della terlibat suatu percakapan yang sangat alot. Keduanya bersitegang mempertahankan pendapat masing–masing.

“Anda seharusnya merasa terbantu dengan hasil kerja unit kami selama ini. Kita seharusnya bisa bekerja sebagai satu teamwork yang baik, bukan seperti yang selama ini Anda lakukan. Instruksi, instruksi, dan hanya instruksi. Ini target kita bersama!” nada suara Rosi sangat tinggi dan terlihat sangat marah.

“Loh, saya justru pihak yang dirugikan, itu tugas Anda! Seharusnya bisa lebih cepat selesai!” Della membalas dengan nada yang tak kalah tinggi.

Seisi ruangan terdiam, suasana benar–benar panas. Sebuah rapat yang tidak sesuai dengan judulnya “Rapat Koordinasi”, namun di dalamnya tidak terjalin koordinasi.
Continue reading

Kunci Menjadi Perusahaan Idaman

Setiap organisasi tentunya menginginkan menjadi perusahaan yang diidamkan oleh karyawannya. Organisasi seperti Pertamina, BRI, Bank Mandiri, BCA, Google, Unilever selalu masuk dalam jajaran perusahan idaman di Indonesia.Dari berbagai survei perusahaan idaman yang dilakukan beberapa lembaga seperti Jobplanet ataupun Jobstreet, ada kesamaan dari responden dalam menentukan faktor-faktor sebuah organisasi menjadi perusahaan idaman, di antaranya fasilitas yang diberikan (gaji dan tunjangan), jenjang karier, budaya dan manajemen perusahaan, keseimbangan kerja (work-life balance) dan efektivitas komunikasi di perusahaan.

Tulisan ini tidak akan membahas semua faktor yang disebutkan, namun akan menyoroti tentang efektivitas komunikasi di organisasi.
Continue reading

Scope Creep, (Benarkah) Sebuah Mimpi Buruk

Setiap organisasi, di era serbamutakhir serba digital ini, selalu berupaya cepat beradaptasi guna memenangkan persaingan dalam industri, atau bahkan semata-mata hanya untuk bertahan hidup.

Sasaran proyek dilukiskan sebagai sudut-sudut segitiga keramat, yaitu time, cost, dan performance. Ini menjadi ukuran kinerja proyek dan sebagai acuan pengukuran kinerja seorang manajer proyek.

Seperti hidup yang tidak mudah ditebak, begitu pula dengan jalannya suatu proyek. Eksekusinya tidaklah semudah menjalankan daftar aktivitas.  Ada saja tantangan yang mengganggu mulusnya laju pelaksanaan proyek. Yang paling sering terjadi adalah melebarnya ruang lingkup proyek, atau biasa dikenal dengan Scope Creep.

Scope Creep yang diangkat dari Project Management Body of Knowledge (Project Management Institute, 2015) adalah perluasan ruang lingkup produk atau proyek yang tidak terkendali tanpa adanya penyesuaian pada faktor waktu, biaya, dan sumber daya awal sesuai rencana semula.
Continue reading

Pembangunan Terusan Kra bagi Logistik Indonesia

Cina berencana memperluas konsep “New Silk Road” atau jalur darat Asia Tengah dengan jalur laut Asia Tenggara, melalui pembangunan Terusan Kra di negara Thailand bagian selatan. Terusan ini akan menghubungkan Samudra India dengan Laut Cina Selatan sehingga jalur kapal dari Eropa dan Timur Tengah yang menuju Cina tidak perlu melalui Selat Malaka.

Selain mengurangi jarak tempuh sejauh 1.200 kilometer, tentunya jalur ini dapat mengurangi risiko bajak laut di Selat Malaka. Cina punya kepentingan karena ada 75% nilai barang yang melintasi Selat Malaka (dari total sebesar US$1 triliun per tahun) menuju Cina. Sementara, sisanya untuk negara Asia Timur lain. Artinya, nilai pembangunannya yang sebesar US$30 miliar selama 10 tahun menjadi tidak dirasa mahal bagi kolaborasi Cina-Thailand.

Terusan Kra sebenarnya sudah dikonsep sejak 1677 oleh insinyur berkebangsaan Perancis. Seiring berjalannya waktu, Inggris menghalangi proyek ini untuk mempertahankan dominasi Singapura di Selat Malaka. Namun ketika muncul negara-negara baru penyeimbang Amerika Serikat dan Eropa Barat (seperti Cina, Rusia, dan India), pembangunan Terusan Kra menjadi semakin nyata.
Continue reading

Semua Orang Dapat Menjadi Tidak Jujur!

Seberapa baiknya usaha pencegahan kecurangan organisasi, organisasi itu tidak akan pernah bisa mencegah semua kecurangan

Rezaee (2002) menyatakan bahwa dalam dua dekade terakhir, financial statement fraud telah meningkat secara substansial. Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, Report to The Nation, 2016) frekuensi tindakan kecurangan yang terjadi, dalam penyalahgunaan aset (asset misappropriation) merupakan tindakan kecurangan yang memiliki frekuensi tertinggi, yakni sebesar 83 persen disusul oleh korupsi (corruption) 34 persen dan yang terakhir adalah kecurangan laporan keuangan (financial statement fraud) sebesar 10 persen.

Namun, financial statement fraud adalah jenis kecurangan (fraud) yang memiliki dampak kecurangan yang paling merugikan diantara jenis kecurangan lainnya dengan kerugian rata-rata sebesar Rp12.675 miliar. Financial statement fraud merupakan kelalaian atau tindakan yang disengaja dalam laporan keuangan sehingga berakibat pada salah saji material.
Continue reading