Bitcoin Harus Belajar dari Yongning

Nama Yongning tidak asing bagi penduduk dunia digital. Pria asal Tiongkok ini menjadi salah satu “rooftopper” yang fenomenal melalui aksi panjat gedung dan bangunan pencakar langit. Di jejaring sosialnya (Weibo, media sosial China), pria ini  terkenal dengan aksi nekatnya berpose di puncak ketinggian tanpa perlengkapan standar keamanan. Aksinya selalu ditunggu-tunggu jutaan followers-nya.

Namun sayang, aksi itu kini sudah tidak lagi dapat dinikmati. Yongning meninggal dunia, terjatuh dari ketinggian akibat keputusannya beraksi menantang maut untuk mendapatkan imbalan 550,000 yuan. Aksi Yongning tentu saja memberi pembelajaran bagi kita untuk tidak boleh sedikit pun mengabaikan risiko yang akan dihadapi. Hal sama juga berlaku bagi investor, terutama bagi investor perorangan (individual investor) pemula dalam mencermati setiap keputusan investasi.

Pada pasar keuangan, salah satu alternatif investasi yang kini masih menjadi topik hangat adalah Bitcoin. Bitcoin adalah cryptocurrency atau dikenal sebagai virtual currency, sebuah sistem pembayaran yang bergantung pada suatu sistem pembukuan digital yang disebut Blockchain.  Mata uang digital ini sudah berkembang mencapai lebih dari 500 jenis.

Diperkenalkan sejak 2009, nilai Bitcoin pada tahun 2010 berada di bawah $1. Bitcoin berfokus pada desentralisasi, artinya, kontrol terhadap mata uang tersebut berada di para penggunanya itu sendiri tanpa adanya regulasi pusat maupun pihak ketiga dalam transaksi.

Meskipun di Indonesia masih menjadi pro-kontra dan mendapatkan penolakan dari otoritas seperti OJK dan BI sebagai alat transasksi pembayaran, para investor masih setia dengan mata uang digital ini. Desember 2017, nilai 1 Bitcoin setara pada kisaran $16.000 dan pertumbuhannya mencapai 2.000%  dalam setahun.

Kinerja Portofolio

Investor pemula umumnya masih sangat bergantung pada spekulasi dan rumor yang beredar untuk terjun ke Bitcoin, Ripple, ataupun Litecoin sebagai mata uang digital yang digandrungi. Studi yang dilakukan oleh Diputra dan Andrianto (2017) menunjukkan bagaimana Bitcoin dapat meningkatkan efektivitas portofolio aset investor. Memadukan porsi aset lainnya seperti Ripple, Litecoin, valuta asing (valas), komoditas, dan saham.

Hasil studi menunjukkan terdapat peningkatan kinerja portofolio yang signifikan menggabungkan Bitcoin dengan valas dan komoditas yang tercermin dari tingkat imbal hasil hingga mencapai 35%. Bitcoin berperan dalam diversifikasi portofolio pada bentuk aset valas dan komoditas. Alokasi yang menghasilkan imbal hasil sebesar 5% hingga 20% dapat dipilih oleh investor yang memiliki karakteristik konservatif, sedangkan alokasi 30% dan 35% diperuntukkan bagi investor agresif.

Hal yang sama juga terjadi pada kinerja portofolio yang mengalokasikan Bitcoin yang dipadukan dengan saham juga menunjukkan performa yang lebih baik. Melalui simulasi beberapa alternatif porsi investasi, investor dapat menghasilkan return 5- 35%.

Namun studi tersebut perlu dicermati secara mendalam dengan mempertimbangkan perubahan harga Bitcoin yang terus bergerak, dan pengaruh global terhadap kinerja aset konvensional seperti valas, komoditas, dan saham. Investor harus memahami data dan opini yang bergulir di pasar dengan cepat dan dinamis.

Memahami Risiko Bitcoin

Munculnya mata uang ini merupakan bentuk kemajuan inovasi di bidang keuangan digital dan memberikan celah bagi investor untuk berinvestasi. Namun, prinsip berinvestasi nyaman dan aman bisa saja bertentangan dengan karakteristik Bitcoin sebagai aset investasi.

Perkembangan gaya hidup digital sejalan dengan gaya berinvestasi di ranah digital. Tren Bitcoin akan masih digandrungi para investor yang memiliki karakteristik agresif dalam berinvestasi. Bagi investor pemula perlu memahami tujuan investasi dan selera risiko dari aset yang dimiliki dengan mempertimbangkan karakteristik gaya investasi sebagai investor bertipikal agresif, moderat, atau konservatif.

Pilihan investasi yang tepat di awal tahun 2018 harus memberikan kebahagiaan dan mencegah trauma dalam berinvestasi. Berinvestasi di Bitcoin tidak hanya membutuhkan keahlian dalam analisis teknikal, namun harus memahami faktor fundamental secara utuh karena pola penggerakan nilai Bitcoin sangat hyper fluctuation.

*Tulisan ini dimuat di Majalah BUMN Track No. 121 Januari 2018 p. 54

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s