Internet of Things untuk Rantai Pasok Indonesia

Perkembangan pengguna internet di Indonesia kian tahun kian meningkat. Data yang dilansir dari kominfo.go.id menyebutkan bahwa setiap orang yang mengakses internet setidaknya satu kali setiap bulan sehingga menjadikan Indonesia masuk pada peringkat ke-6 jumlah pengguna internet terbesar di dunia.

Pada 2017, diperkirakan warganet Indonesia mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internetnya lebih lamban. Tidak dapat dipungkiri, internet sebagai media untuk memperoleh informasi menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat era milenial selain kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Kebutuhan yang tinggi ini mendukung menjamurnya aplikasi internet pada semua aspek, akhirnya berkembang konsep Internet untuk segala (Internet of Things). Internet of Things atau biasa dikenal dengan singkatan IoT merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Pada dasarnya, IoT mengacu pada benda yang dapat diidentifikasi secara unik sebagai representasi virtual dalam struktur berbasis Internet. Istilah Internet of Things awalnya disarankan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 dan mulai terkenal melalui Auto-ID Center.

Di Indonesia sendiri, penerapan IoT sudah diterapkan pada beberapa aspek seperti smart city, smart transportation system, pertanian, perikanan, pembayaran digital, aplikasi dalam manufaktur, retail serta rantai pasok. Beberapa contoh penerapan IoT pada aspek smart city sudah dirasakan di Jakarta pada Jakarta Smart City Portal yang berisi media penyampaian keluhan tentang masalah-masalah yang terjadi di daerah sekitar, di Bandung pada Bandung Command Center yang salah satu penerapannya pada smart transportation system layanan Terminal Parkir Elektronik.

Penerapan pada aspek pertanian IoT dapat membantu penanggulangan hama, optimasi operasi produksi dalam hal pemupukan, penyemprotan, dan informasi panen yang dapat diakses dan dikontrol dengan mudah. Penerapan pada aspek perikanan dalam hal proses pemberian makan yang berjalan otomatis sesuai jadwal penggunanya dapat mengatur jam dan waktu makan ikan bahkan dapat diselaraskan dengan sensor sesuai dengan nafsu makan ikan.

Peluang Penerapan IoT dalam Rantai Pasok

Dalam serangkaian proses rantai pasok, terdapat beberapa perusahaan yang sudah mengimplementasikan IoT dalam operasionalnya dengan tujuan peningkatan efektivitas dan efisiensi. Pada operasional gudang, IoT dapat membantu dalam hal pengelolaan aspek kesehatan dan keselamatan kerja, seperti sensor yang dipasang pada Material Handling Equipment (MHE) yang dapat terkoneksi pada suatu perangkat yang akan memberikan informasi jika MHE melaju pada kecepatan dil uar batas dan atau menabrak sesuatu, lengkap dengan informasi lokasi, jam dan pengendaranya. Pada aktivitas picking, IoT membantu implementasi metode paperless picking kian mudah diterapkan dengan menggunakan bantuan lampu indikator (picking by light), bantuan media instruksi suara (picking by voice) ataupun picking dengan bantuan media sistem Android yang dapat digunakan dengan mudah dan minim investasi. Dengan sistem paperless picking ini, selain mewujudkan budaya go green, efektivitas pembagian kerja juga dapat dikelola dengan merata.

Pada aspek akurasi sediaan (inventory), IoT dapat membantu perhitungan dengan tingkat akurasi tinggi dengan tidak banyak melibatkan tenaga manusia. Seperti dengan penggunaan sensor yang terdapat pada setiap racking yang dapat memberikan informasi jumlah produk yang terdapat dalam racking tersebut secara realtime. Teknik lainnya perhitungan sediaan (cycle counting) dapat menggunakan alat bantu pesawat tanpa awak yang kerap dikenal dengan drone yang dioperasikan melintas di atas gudang dilengkapi dengan sensor pendeteksi barcode produk yang dapat mendeteksi jumlah produk yang ada dalam gudang tersebut.

Pada transportasi, dengan suatu alat khusus yang dipasang dikendaraan dapat menginformasikan keberadaan kendaraan secara langsung lengkap dengan suhu dan kelembaban selama proses transportasi untuk memastikan produk yang dikirim tetap terjaga kualitasnya.

Kesuksesan implementasi IoT sendiri harus disertai dengan komitmen dari seluruh pelaku dalam rantai pasok untuk mau dan mampu berkolaborasi dengan baik, melakukan integrasi data serta kesediaan berinvestasi untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas dalam rantai pasok mudah terwujud.

Jadi, tunggu apalagi? Manfaatkanlah kemajuan teknologi!

Oleh: Puput Suwastika, M.M. – Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan dimuat pada SWAonline, 5 April 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s