Melanggengkan Kesuksesan

Demam sepakbola di Indonesia belum turun. Piala Dunia 2018 telah lewat. Lalu Piala AFF U-16 tempo hari menaikkan suhu antusiasme masyarakat terhadap sepakbola Indonesia lagi. Garuda muda melawan Thailand dengan penuh percaya diri. Lewat adu penalti, memastikan juara piala AFF U-16. Setelahnya ada Asian Games yang gegap gempita menyatukan nusantara.

Menyoal sepakbola, rasanya kita tidak asing dengan sosok hebat Cristiano Ronaldo. Pemain terbaik dunia 2017 itu merupakan atlet sepakbola asal Portugal dengan prestasi mentereng. Bintang lapangan hijau yang saat ini berseragam Juventus itu memiliki gaya dan teknik permainan yang khas. Dengan talenta hebat dan wajah tampan, CR7 begitu dia dikenal, selalu membuat decak kagum para penikmat sepakbola di seluruh dunia, tak terkecuali kaum hawa.

Berbagai rekor dunia pun dipecahkan oleh pemilik 5 Balon d’Or –ajang penghargaan individu paling prestisius di dunia sepakbola. Sampai-sampai ia dijuluki Si Manusia Rekor. Tidak berlebihan, jika CR7 disebut sebagai salah satu pesepakbola terbaik dalam sejarah.
Continue reading

Kepemimpinan ala Perusahaan Unicorn

Unicorn, sosok makhluk legendaris yang sejak berabad-abad lalu ada dalam cerita bangsa-bangsa Eropa. Digambarkan sebagai binatang menyerupai kuda nan lincah bertanduk satu menonjol di dahinya. Konon tanduknya ini dapat memurnikan air yang beracun sekaligus menyembuhkan berbagai penyakit. Oleh karenanya, unicorn dianggap simbol anugerah dan kemurnian cinta.

Dalam perkembangannya, di zaman now, sejak tahun 2013 unicorn menjadi istilah keuangan untuk menamakan perusahaan-perusahaan rintisan teknologi dengan valuasi di atas $1 Miliar AS (lebih dari Rp14 Triliun). Unicorn dijadikan ikon karena dianggap mewakili kelangkaan statistik dari angka kesuksesan perusahaan rintisan teknologi. Menurut Peter S. Cohan, peluang kesuksesan perusahaan rintisan teknologi untuk menjadi perusahaan unicorn hanya sebesar satu dari lima juta. A One-in-five million chance. Begitu sulitnya.

Menariknya, dalam daftar perusahaan unicorn seluruh dunia yang dikeluarkan oleh Techstartups.com pada April 2018, Indonesia berhasil mengorbitkan empat perusahaan unicorn. Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.  Jumlah ini ternyata lebih banyak daripada negara-negara maju lainnya seperti Kanada, Korea Selatan, Australia, Perancis, Rusia, Jerman, dan Singapura.

Tentunya keberhasilan tersebut menarik untuk dikaji dari sisi kepemimpinan para pendiri unicorn asal Indonesia ini. Pendekatannya kita ambil dari James Kouzes dan Barry Posner tentang lima praktik kepemimpinan teladan.
Continue reading

Viral Belum Tentu Kekal

Akhir-akhir ini Indonesia diramaikan dengan fenomena Es Kepal yang cukup viral di kalangan pengguna media sosial. Walau es kepal tergolong produk nan sederhana, inovasi rasa yang dilakukan cukup mampu membuat banyak orang penasaran. Dengan menggaet produk susu coklat kenamaan, es kepal berhasil mencuri perhatian banyak orang di pasaran. Ditambah dengan word of mouth yang melejit melalui media sosial, es kepal semakin memperlihatkan dominasinya sebagai minuman kekinian yang wajib dicoba oleh semua kalangan.

Namun kita patut waspada dengan melejitnya nama es kepal dengan waktu yang relatif cepat. Pepatah mengatakan, sesuatu yang naik begitu cepat biasanya juga akan turun dalam waktu yang tidak terlalu lambat. Fenomena es kepal ini dikhawatirkan akan mengikuti jejak produk minuman fenomenal yang juga telah mulai hilang pamornya.

Sebut saja Cappucino Cincau, Es Kocok/Es Blender, minuman serba green tea, varian minuman thai tea-yang merajai pasar Indonesia pada masanya tapi sebagian tak mampu bertahan. Ada yang ditinggal pelanggan, ada pula yang tak mampu bertahan digempur saingan.
Continue reading

Kala Rupiah Lesu

Melemahnya nilai tukar Rupiah masih terus terjadi. Rupiah kini diperdagangkan di level Rp. 14.600,- lebih. Riak turbulensi ekonomi mulai terasa. Salah satunya di industri pangan, sektor yang konon masih didominasi produk impor ini terpaksa menaikkan harga jual produk untuk dapat terus bertahan.

Namun taktik ini tak sepenuhnya jitu. Masyarakat yang tidak mengalami peningkatan pendapatan malah kehilangan daya belinya. Mereka pun berbondong-bondong pindah ke produk substitusi lebih murah, atau bahkan ada pula yang menunda konsumsi atas barang-barang tertentu. Bila situasi ini berlarut, apa saja yang perlu diperbuat agar aksi pelemahan Rupiah tidak terlalu membebani perekonomian keluarga?

Secara konseptual, pengelolaan keuangan keluarga terdiri dari tiga alokasi utama: untuk keperluan konsumsi, tabungan, dan investasi/asuransi. Dalam kondisi ekonomi yang stabil, ketiga alokasi tersebut boleh dikatakan wajar. Namun tidak demikian halnya ketika laju pertumbuhan ekonomi melambat.
Continue reading

Berharap pada Penguatan Rupiah

Sejak awal Januari, rupiah telah melemah hingga lebih dari 5.7%. Angka ini merupakan yang terburuk sejak krisis moneter melanda Tanah Air di medio tahun 1997-1998 lalu. Para analis umumnya memosisikan krisis moneter yang terjadi di beberapa negara, seperti Argentina dan Turki sebagai salah satu penyebab rontoknya perekonomian dunia. Belum lagi ditambah dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina.

Alih-alih memproteksi kepentingan ekonomi domestik, aksi kedua negara adikuasa tersebut berdampak cukup signifikan pada berpulangnya dolar AS ke negara asalnya. Aksi otoritas keuangan setempat dengan menaikkan suku bunga secara otomatis membuat sirkulasi dolar AS di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, terganggu.

Para investor cenderung memanfaatkan kebijakan tersebut dengan penarikan dana dalam denominasi dolar AS secara besar-besaran. Alhasil, mata uang domestik pun kini keok di level Rp14.800 yang secara psikologis menyiratkan adanya kemungkinan untuk masuk ke level Rp15.000 bahkan lebih.
Continue reading

I Hate Monday

Manakah yang lebih sering dirasakan? “I hate Monday” atau “I love Monday”? Pernahkah merasa berat menghadapi Senin? Apakah situasi ini merupakan hal yang lumrah dirasakan? Apakah ada dampak yang membahayakan jika kita merasakan hal ini setiap awal pekan? Lalu, bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Salah satu kasus di dunia yang paling ekstrem mengenai hal ini terjadi pada Senin pagi pada awal 1979, tepatnya di Grover Cleveland Elementary School. Brenda Spencer saat itu yang masih berusia 16 tahun melakukan penembakan kepada murid-murid sekolah dasar. Ketika ditanya oleh petugas kepolisian soal motif yang melatarbelakanginya melakukan hal tersebut, Brenda Spencer saat itu hanya mengatakan bahwa dia sangat benci Senin.

Perasaan cemas berlebihan menghadapi Senin yang dirasakan mulai dari Minggu sore adalah hal yang biasa disebut dengan istilah Sunday night syndrome (sindrom minggu malam) atau Sunday night blues. Dalam suatu survei yang dilakukan, sebanyak 76% pekerja di Amerika Serikat (AS) merasakan apa yang mereka sebut sebagai Sunday night blues. Hal ini ditandai dengan perasaan cemas yang berlebihan, khususnya menghadapi satu pekan ke depan.
Continue reading

Indonesia Di Hulu Industri Manufaktur

Selama periode 2015-2019, Toyota berkomitmen menambah investasinya sebesar Rp20 triliun[1]. Sampai dengan 2016 saja, realisasi investasi sudah sebesar Rp10 triliun[2]. Hal ini menunjukkan komitmen Toyota untuk meningkatkan kapasitas produksinya di Indonesia menjadi sebanyak 250.000 unit di tahun 2016 dari 110.000 unit di 2013. Setengah dari produksi ini diekspor ke mancanegara.

Dampak efek berantai (multiplier effect) dari investasi adalah menggiatkan aktivitas ekonomi masyarakat, seperti: perusahaan-perusahaan supplier pabrik Toyota ikut meningkat produksinya, usaha garmen untuk memproduksi pakaian kerja karyawan, usaha katering untuk menyediakan makan siang karyawan, perusahaan asuransi karyawan dan mobil, pedagang kaki lima dan ojek di sekitar pabrik, sampai usaha pemondokan di sekitar pabrik.

Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal[3] menunjukkan bahwa Penanaman Modal Asing di Indonesia mampu memberi efek berantai (multiplier effect) bagi penciptaan tenaga kerja tak langsung sekitar empat kali lipat.
Continue reading