Apa Kabar Pelabuhan Patimban?

Sebagai tindak lanjut pembangunan Jalur Laut Cikarang-Bekasi, langkah lain untuk mengurangi beban Tol Jakarta-Cikampek adalah dengan Pembangunan Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang terhubung dengan Bandara Kertajati di Majalengka. Langkah ini didukung oleh pembangunan infrastruktur hinterland berupa pembangunan jalan tol.

Peran lain dari Pelabuhan Patimban adalah pendukung beban dari Pelabuhan Tanjung Priok yang kapasitasnya pada 2017 sebanyak enam juta TEUs. Menurut Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi, jumlah ini tidak mencukupi jika harus menampung seluruh angkutan logistik yang naik setiap tahunnya.

Sementara itu, peran Bandara Kertajati adalah pusat logistik seperti Alibaba dan sebagai bandara keberangkatan haji untuk kawasan Bandung, Cirebon, dan sekitarnya. Artinya, beban penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta otomatis berkurang.
Continue reading

Big Data Tingkatkan Akurasi Keputusan Bisnis

Seorang kolega pernah berujar, “Konsumen saat ini semakin sulit dimengerti. Produk-produk yang kita pikir akan menjadi primadona, kini malah tak mudah dipasarkan. Sebaliknya produk yang tak dinomorsatukan malah menjadi penguasa pasar”.

Pemahaman dan penalaman tersebut mungkin juga menjadi pikiran sebagian dari kita. Tak jarang perusahaan mengeluarkan investasi yang sangat besar untuk mendanai promosi produk primadonanya meski hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Bila situasi ini dibiarkan berlarut maka sudah tentu akan mengganggu stabilitas kas perusahaan.

Continue reading

Classroom in a Pocket

Perkembangan teknologi terus bergulir. Semua tidak terlepas dari perkembangan aplikasi yang disematkan di ponsel pintar atau smartphone itu sendiri. Riset menunjukkan bahwa 80% populasi dunia adalah pengguna ponsel.

Merujuk tren tersebut, sangat menarik jika kita perhatikan bagaimana pemanfaatan aplikasi pada ponsel pintar ini juga dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan bagi para praktisi human resources department, khususnya bagian learning & development pada masa mendatang.

Hal yang menarik juga terlihat dari sebuah survei yang menyatakan bahwa 70% pembelajar dalam jaringan (online) merasa lebih efektif dan termotivasi ketika menggunakan perangkat mobile dibandingkan laptop atau komputer personal.
Continue reading

Bersiap Menuju Era Industri 5.0

Saat kita sedang menyesuaikan diri dengan perkembangan industri Era 4.0, para pengamat industri menyatakan beberapa negara maju, contohnya Jepang, saat ini telah memasuki pergeseran dari industri 4.0 menuju industri 5.0.

Apa yang terjadi pada industri 5.0 dan yang menjadi pendorong pergeseran era ini? mari kita simak sejarah yang terjadi pada era ke era terlebih dahulu.

Industri 4.0 identik dengan industri konsumsi massal (mass consumption), menggunakan kolaborasi media robotik dengan kecerdasan buatan dan internet of things (IoT),  bertujuan untuk menekan biaya produksi secara total karena barang yang diproduksi dalam jumlah massal juga habis terkonsumsi karena tepat dengan keinginan pelanggan.

Industri 4.0 berkembang berlandaskan pada perkembangan industri sebelumnya, yakni industri 3.0 yang berfokus pada penggunaan media robotik pada aspek produksi dengan tujuan produksi massal (mass production) saja.

Penggunaan kolaborasi dengan media robotik pada ke dua era industri ini ditujukan untuk menciptakan proses yang lean. Dengan penggunaan media robotik, diharapkan mampu menciptakan proses kerja yang efisien dan meminimalkan biaya kegagalan yang mungkin timbul sehingga dapat menekan keseluruhan biaya produksi secara optimal.

Selain itu, pendorong utama kolaborasi dengan media robotik dilandaskan oleh keinginan untuk menghilangkan risiko operasional pada objek pekerja (manusia).  Media Robotik atau proses yang diautomasi bertujuan menghilangkan pekerjaan yang berulang dan membosankan, mencegah pekerja berhadapan dengan pekerjaan yang berbahaya, dan meminimalkan “pekerjaan kotor” yang dilakukan oleh pekerja terdidik (dikenal dengan eliminasi Three D’s” – dull, dangerous dan dirty jobs”).

Perubahan yang terjadi pada masa industri 3.0 – 4.0 tentu saja diprakarsai oleh karakteristik pasar dan pelanggannya. Pada era itu (tahun 1960s hingga saat ini) pola konsumsi pasar lebih mengarah kepada pengeluaran yang ekonomis. Hal ini menjadi pemicu para pemain industri untuk memikirkan cara-cara mengurangi biaya-biaya yang ada diperusahaan. Salah satu cara yang paling efektif adalah menggunakan mesin-mesin robotik untuk menstandarisasi proses produksi dalam jumlah massal, meminimalkan risiko kegagalan, dan meminimalkan biaya human error.

Dominasi generasi milenial

Jika ditelaah, kondisi pasar di masa yang akan datang, pasar akan didominasi oleh para generasi milenial yang tentunya memiliki sifat unik dan berbeda dengan kondisi pasar pada generasi sebelumnya. Pola konsumsi generasi milenial yang akan menjelma menjadi konsumen utama beberapa tahun yang akan datang akan berdampak pada perubahan industri di masa depan.

Karakteristik pada generasi milenial (menurut Kilber, et al, 2014) adalah generasi yang internet minded, memiliki percaya diri dan harga diri tinggi serta lebih terbuka dan bertoleransi terhadap perubahan.

Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa ada kecenderungan pada 60 persen milenial untuk melakukan pembelian yang mendukung mereka dalam berekspresi. Technology International (Neurosensum) dalam hasil riset mereka yang bertajuk “Memahami Tren Konsumen Masa Kini”, yakni riset tentang pola konsumsi  generasi milenial di Indoensia, mengungkap bahwa pengeluaran di kategori rekreasi telah meningkat 40 persen  (1,4 kali) dalam dua tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa milenial menggap penting pengalaman dan lebih berani bereksperimen.

Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa karakteristik pasar di tahun yang akan datang adalah golongan pasar yang mendambakan produk dan jasa yang spesifik, unik, serta adjustable (personalisasi) terhadap masing-masing keinginan pelanggan yang membutuhkan pengakuan dan harga diri tinggi.

Keinginan untuk personalisasi massal ini membentuk pendorong psikologis dan budaya di balik Industri 5.0 yang melibatkan penggunaan teknologi yang dipersonalisasi dengan sentuhan manusia untuk meningkatkan nilai tambah dan eksperimen yang berbeda pada setiap output-nya.

Output di Industri 5.0, hasil dari memberdayakan teknologi dan sentuhan unik manusia untuk mewujudkan dorongan dasar pasar di masa yang akan datang untuk mengekspresikan diri mereka, bahkan mereka berkenan membayar harga premium untuk medapatkan produk atau jasa yang terpersonalisasi tersebut.

Produk dan jasa seperti ini hanya dapat dibuat melalui keterlibatan manusia dan teknologi jika diperlukan. Penulis percaya bahwa sentuhan manusia ini, di atas segalanya, adalah apa yang dicari konsumen ketika mereka ingin mengekspresikan identitas mereka melalui produk yang mereka beli. Konsumen generasi ini menerima teknologi, mereka tidak keberatan jika ada proses yang diautomasi. Tetapi mereka mendambakan jejak pribadi desainer manusia dan perajin, yang menghasilkan sesuatu yang istimewa dan unik melalui upaya pribadi.

Personalisasi akan menimbulkan perasaan spesial dan penghargaan tinggi yang didambakan oleh karakteristik pelanggan di masa yang akan datang.

Oleh: Puput Suwastika Konsultan Manajemen Strategis PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak, Volume LXI| 2019, hlm. 14

Polemik Jalan Tol Jakarta-Surabaya

Pada bulan Desember 2018, Tol Trans-Jawa resmi dibuka, menghubungkan Merak sampai Surabaya. Dalam waktu dekat, penyambungan tol tersebut akan dilanjutkan sampai Banyuwangi. Capaian selama lima tahun ini patut diacungi jempol. Hanya Daendels yang pernah membangun jalan besar sepanjang Pulau Jawa pada tahun 1808. Jalan tersebut dinamai Jalan Raya Pos.

Pro dan kontra bermunculan sejak dibukanya Jalan Tol Trans-Jawa. Sebut saja misalnya tarif Tol Jakarta-Surabaya sebesar Rp1,5 juta yang diprotes para pengusaha. Mereka menuntut tarifnya tidak melebihi Rp800 ribu. Berikutnya, dengan beralihnya pengendara dari jalan nasional ke jalan tol, usaha kecil di sepanjang jalan nasional turun. Pemerintah pun mewajibkan area istirahat di jalan tol hanya diisi oleh usaha rakyat.
Continue reading

Sensitivitas Warganet pada Tahun Politik

Masih basah di ingatan, pertengahan Februari lalu media sosial dihebohkan tagar #UninstallBukalapak oleh warganet yang menjadi trending topik di jagat Twitter. Pemicunya sederhana, cuitan pribadi Achmad Zaky, salah satu founder dan CEO Bukalapak, mengenai rendahnya kesiapan Indonesia terhadap revolusi industri 4.0.

Komentarnya tentang perhatian dari Pemerintah Indonesia terhadap penelitian dan pengembangan (research and development / R & D) yang masih jauh tertinggal di Asia dalam menghadapi era baru perubahan yang identik dengan kompleksitas pertarungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memantik perdebatan kusir.
Continue reading