Apakah Industri Masih Butuh Fungsi Pendidikan Formal?

Beberapa tahun terakhir, dunia dikagetkan dengan keprihatinan sejumlah kalangan terhadap hubungan dunia industri dengan pendidikan. Realitas ini bermula dari kegusaran beberapa pakar pendidikan pasca Google dan salah satu konsultan bisnis bertaraf global mengunggah iklan lowongan pekerjaan yang secara eksplisit meniadakan fungsi sektor pendidikan formal sebagai salah satu syarat mutlak dalam membangun keahlian.

Di Indonesia, pandangan pro dan kontra dari sejumlah Guru Besar akan hal ini juga tak kalah maraknya. Kaum yang pesimis dengan kualitas pendidikan formal secara otomatis menyepakati poin-poin tersebut.

Sebaliknya, yang masih menyimpan optimisme malah memandang opini tersebut sebagai tantangan masa depan. Ilmuwan dalam kelompok ini melihat fenomena yang ada sebagai refleksi terbaik untuk segera berbenah menuju sebuah era baru.

Pasca-Revolusi Industri, dunia bisnis dan perekonomian bertumbuh pada kekuatan dalam menghasilkan produktivitas tinggi. Di titik itu dunia pendidikan tinggi seakan dituntut untuk menemukan cara-cara baru dalam menjawab tantangan yang ada.

Perlahan namun pasti riset-riset yang dilakukan juga bergerak ke arah itu. Para ilmuwan cenderung mengkaji fenomena industri dengan novelty keilmuan yang ada. Tujuannya jelas, agar mereka dapat mengejar ketertinggalan tren tuntutan dunia industri.

Memasuki awal 2000-an, pemanfaatan teknologi internet telah membawa perubahan besar dalam struktur industri. Di sana-sini, hasil penelitian mulai mendudukkan sistem kecerdasan buatan sebagai tulang punggung proses automasi yang tengah terjadi. Selanjutnya, temuan ini secara psikologis menciptakan tuntutan baru dari industri, khususnya yang terkait dengan upaya menciptakan produktivitas.

Dalam hal produksi massal, automasi yang disinergikan dengan sistem kecerdasan buatan terbukti sangat efektif dalam menjalankan fungsinya. Tak hanya itu, efisiensi pun terjadi secara signifikan. Minimnya tingkat kesalahan hingga dampak positif secara ekonomi atas automasi di bidang produksi telah meningkatkan keyakinan industri untuk semakin bergantung pada perkembangan teknologi.

Berpijak pada konsep sistem kecerdasan buatan, adalah pola pikir manusia yang meletakkan formula algoritma kepada mesin sehingga ia dapat menjalankan fungsi yang semula menjadi tanggung jawab kita. Dalam konteks ini, kita kembali diingatkan bahwa manusia jualah yang menciptakan mesin-mesin pandai.

Artinya, kealpaan dalam mengembangkan pola pikir sebenarnya akan menghambat perkembangan sistem kecerdasan buatan itu sendiri. Inilah titik di mana semangat untuk menemukan hal-hal baru itu dapat ditemukan di dunia pendidikan tinggi. Pada titik yang sama, ini juga merupakan pukulan berat bagi dunia akademisi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini dunia akademisi terfokus pada upaya menciptakan tenaga kerja multitalenta. Ini terbukti dari beragamnya mata kuliah yang diberikan, seakan-akan siswa dilengkapi dengan semua persenjataan lengkap, tanpa beroleh tempaan teknik bertempur khusus. Padahal, penguasaan teknik inilah yang akan memenangkan peperangan, bukan seberapa lengkap senjata yang dipersiapkan.

Kunci untuk kembali pada kontekstual pendidikan adalah semangat penemuan itu sendiri. Siswa perlu dikembalikan pada posisi sebagai penguasa mesin-mesin pintar. Merekalah yang bertanggung jawab menciptakan sistem kecerdasan masa depan.

Target-target besar seperti kemampuan menaklukkan problem sosial masyarakat dan peradaban hendaknya menjadi spirit dasar proses pembelajaran. Kepekaan sosial dan ekonomi perlu disejajarkan untuk melihat kehidupan secara objektif.

Sehingga semangat ini jualah yang akan mempererat kolaborasi antara industri dengan dunia pendidikan formal. Konsep automasi dunia industri harus diposisikan bukan lagi sebagai substitutor tenaga manusia, namun lebih pada pemicu bagi kebutuhan tenaga manusia untuk menyempurnakan hasil kerja sistem.

Terinspirasi oleh Henry Ford dalam mengembangkan industri otomotif dunia, mesin diposisikan sebagai ciptaan manusia yang harus dikelola dengan baik. Artinya, ketika esensi pengelolaan yang dilakukan oleh manusia ini hilang, niscaya mesin tidak akan beroperasi secara maksimal.

Prinsip inilah yang perlu dihadirkan kembali untuk menghidupkan semangat menciptakan hal baru di dalam pendidikan kita. Bila mekanisme algoritma tertentu dapat membantu kita dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan peradaban, maka kini tantangan sebenarnya adalah bagaimana dunia pendidikan formal mampu mengembangkan sistem algoritma yang ada pada tingkat yang jauh lebih tinggi. Hanya dengan pola ini kita dapat terus berupaya membangun peradaban.

Oleh: Aries Heru Prasetyo – Vice Dean PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah PAJAK, volume  LXIV, 2019, hlm. 75.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s