Kinerja yang Sesungguhnya

Kinerja dan hasil adalah dua kata yang berbeda makna. Sejatinya kinerja adalah usaha yang dilakukan untuk mencapai hasil. Kebanyakan perusahaan mengukur kinerjanya berdasarkan hasil yang dicapai. Misal, dari total penjualan bulanan atau triwulanan, profit tahunan, atau dari hasil pengembalian suatu investasi.

Inilah contoh dari kinerja; jumlah kunjungan ke klien setiap hari, total produksi harian, jumlah keluhan yang ditindaklanjuti per hari, dan usaha-usaha lain untuk meningkatkan hasil bagi organisasi.

Seperti halnya hasil, kinerja juga perlu diukur dan diberi target sesuai kebutuhan organisasi. Lalu apa akibat fatal bila perusahaan menggunakan ukuran-ukuran hasil untuk mengukur kinerja?

Banyak “bom waktu” yang dapat terjadi, total penjualan tercapai namun banyak faktur yang tidak tertagih, jumlah barang expired di pelanggan meningkat, pelanggaran area penjualan antar tenaga pemasaran, dan lain sebagainya. Sebaliknya, bila kinerja diukur dengan tepat tetapi hasil belum tercapai maka akan mudah diketahui kinerja mana yang perlu ditingkatkan.

Secara praktis, membedakan antara kinerja dan hasil adalah, kinerja merupakan hal-hal yang berada dalam kendali, sementara hasil cenderung berada di luar kendali.

Namun, dengan mengoptimalkan pengendalian diharapkan dapat mengurangi pengaruh faktor di luar kendali terhadap hasil. Total profit yang diperoleh organisasi adalah hal di luar kendali karena dapat dipengaruhi oleh regulasi pemerintah, kenaikan bahan baku, kompetitor, dan sebagainya.

Dengan mengoptimalkan pengendalian kualitas produksi, penanganan keluhan pelanggan, efiensi, dan efektivitas pengiriman misalnya, diharapkan dapat meningkatkan profit.

Hasil yang baik menunjukkan perusahaan berjalan ke arah yang tepat, namun tidak serta merta menunjukkan kinerja perusahaan. Hal ini sudah terbukti dengan runtuhnya beberapa perusahaan yang penjualan dan profitnya baik serta sudah berumur puluhan tahun, bahkan ada yang nyaris mencapai umur 100 tahun, karena terluput dalam monitoring kinerja perusahaan yang sebenarnya.

Satu kasus mungkin sudah kita ketahui karena sampai dibuat filmnya yang dibintangi Leonardo Di Caprio adalah Lehman Brother Holdings yang dinyatakan pailit pada tahun 2008. Isu utama terkait pailitnya Lehman Brother adalah mengenai kepemimpinan. Lain lagi ceritanya dengan General Motors, 7 Eleven, dan Kodak, yang merupakan contoh perusahaan besar lalu akhirnya terjungkal karena kalah cepat dalam berinovasi.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di beberapa perusahaan, kepemimpinan dan inovasi adalah dua unsur kinerja yang termasuk dalam indikator kinerja inti (key performance indicator/KPI). Ukuran kinerja yang merupakan KPI organisasi membutuhkan monitoring yang lebih intens dibanding ukuran kinerja biasa dan ukuran hasil, karena berdampak sangat krusial bagi keberlanjutan organisasi.

Mungkin kesempatan ini tidak cukup untuk membahas tuntas terkait ukuran kinerja organisasi, namun, semoga dapat sedikit membuka perspektif untuk mengetahui lebih jauh bagaimana membedakan ukuran-ukuran kinerja organisasi tersebut agar tepat dalam memonitoring dan mengevaluasi perkembangan organisasi.

Oleh: Gerald Pasolang, M.M. Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah BUMN TRACK No. 138, Tahun XII, Juli 2019, hlm. 57

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s