Manajemen Risiko: Generik atau Spesifik?

Ketidakpastian adalah hal yang wajar dalam suatu bisnis. Tentu ada ketidakpastian yang bersifat menguntungkan bagi pencapaian tujuan, tetapi bisa saja sebaliknya. Hal inilah yang disebut sebagai konsep dasar risiko. Untuk mengamankan pencapaian tujuan tersebut, upaya yang dapat kita lakukan adalah mencegah, menanggulangi atau menyusun rencana untuk menerima. Namun, tetap saja kita perlu mengelola risiko-risiko tersebut.

Dalam pengelolaan risiko, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali risiko itu sendiri. Caranya dengan memahami tujuan yang ingin dicapai. Bagi perusahaan, key performance indicator (KPI) dapat dijadikan tujuan, Biasanya, KPI paling umum adalah tujuan yang diukur dengan nilai uang (contohnya kenaikan penjualan yang ditargetkan atau anggaran yang dikeluarkan).

Berdasarkan karakteristik dasarnya, risiko dapat dikategorikan menjadi risiko murni (risiko yang mengakibatkan kerugian pada organisasi atau individu yang dapat diukur secara fisik) dan risiko spekulatif (risiko yang dapat merugikan atau menguntungkan organisasi, terjadi sebagai hasil perbuatan manusia).
Continue reading

Lindungi Nilai Itu Penting

Tujuan utama penerapan perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara (ASEAN Free Trade Area-AFTA) yang dibentuk sejak tahun 1992 adalah meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.  Kawasan bebas perdagangan ini sebagai salah satu dampak dari globalisasi. Globalisasi juga mendorong jumlah perusahaan multinasional yang ada di seluruh negara ASEAN, termasuk Indonesia, semakin bertambah.

Tujuan pendirian perusahaan multinasional pada dasarnya sama dengan tujuan pendirian perusahaan pada umumnya, yaitu memaksimalkan kekayaan dari pemegang saham –salah satunya dengan meningkatkan profit dari bisnis yang dijalani. Perusahaan multinasional juga  menghadapi risiko operasional seperti perusahaan pada umumnya, namun yang biasa disoroti adalah risiko fluktuasi nilai tukar mata uang.

Perbedaan serta fluktuasi nilai tukar mata uang sulit untuk diprediksi secara tepat karena tingkat volatilitasnya yang sangat tinggi. Untuk itu, perusahaan multinasional perlu menerapkan suatu metode yang dapat meminimalisasi kerugian bagi perusahaan. Bahkan, kalau memungkinkan, memaksimalkan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan.

Salah satu metode yang umum digunakan oleh perusahaan multinasional adalah hedging, atau biasa dikenal dengan “aksi lindung nilai”.  Berdasarkan PBI No.15/8/PBI/2013, lindung nilai adalah cara atau teknik untuk mengurangi risiko yang timbul maupun yang diperkirakan akan timbul akibat adanya fluktuasi harga di pasar keuangan.

Apabila sebuah perusahaan telah memutuskan untuk melakukan hedging, perangkat-perangkat yang dapat digunakan diantaranya adalah kontrak forward, kontrak future, instrumen keuangan (hedging melalui pasar uang), swap, dan opsi valuta asing (Madura, 2012). Umumnya, perusahaan akan memilih menggunakan kontrak forward karena penggunaanya yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan perangkat hedging lainnya.

Kontrak forward diterapkan menggunakan kurs forward yang mewakili kurs penukaran valuta asing di masa depan.  Sebagai contoh, perusahaan X menggunakan kontrak forward untuk membayar pemasok di Amerika senilai US$90 juta pada 90 hari ke depan dengan kurs forward US$1 senilai Rp14.000.  Dengan demikian, perusahaan ini pada 90 hari ke depan harus menukarkan US$90 juta menjadi Rp14.000/dolar AS, berapa pun kurs valuta asing yang sedang berlaku pada saat itu. Strategi ini ditujukan untuk melindungi nilai transaksi perusahaan dari kemungkinan kurs valuta asing yang melonjak di masa mendatang.

Adapun konsep kontrak future. Sistem kontrak ini pada dasarnya sama dengan pada kontrak forward, namun kontrak future sudah diperjualbelikan di bursa tertentu untuk menjual atau membeli suatu aset tertentu, dengan besaran tertentu, harga tertentu, dan untuk jangka waktu tertentu.  Opsi valuta asing pada dasarnya dibedakan atas dua macam, yaitu calls sebagai hak beli dan puts sebagai hak jual dari aktiva tertentu pada masa mendatang.

Di Indonesia, praktik hedging dapat ditemui pada BUMN, yaitu PT Garuda Indonesia (GIAA) dan PT Bank BNI Tbk (BBNI).  GIAA melakukan kerjasama hedging dengan BBNI melalui skema cross currency swap (CCS) senilai Rp500 miliar dengan jangka waktu 3 tahun atas pokok utang dan bunga pinjaman. Melalui skema ini, GIAA menetapkan nilai dana berdenominasi rupiah yang dimilikinya terhadap valuta asing pada kurs referensi BI di 9 Juni 2014 (Rp11.790/dolar AS).  Artinya, pada 3 tahun ke depan, GIAA akan menukarkan dana Rp500 miliar yang dimilikinya dengan US$42,408 juta dari BBNI.  Hal ini tentu akan mengamankan GIAA dari fluktuasi mata uang dolar AS terhadap rupiah ke depannya. Strategi ini dilakukan GIAA lantaran pada 2013-2014,  beban usaha perseroan melonjak hingga 407,6% akibat fluktuasi nilai mata uang.

Melakukan hedging atau lindung nilai tidak serta-merta menjadikan perusahaan untung berpuluh kali lipat dari sebelumnya.  Setidaknya, perusahaan dapat berjaga-jaga akan kerugian atau keuntungan yang didapatkannya sehingga dapat merumuskan strategi yang tepat untuk kondisinya.

Oleh: Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRMOFaculty Member of PPM School of Management

*Tulisan ini Tayang di Majalah Sindo Weekly No. 23 Tahun VI, 7-13 Agustus 2017 p. 82

Mari Belajar Fraksi Harga Saham

Pada Mei 2016, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah peraturan penetapan fraksi harga (tick size). Saham yang berharga di bawah Rp200 memiliki fraksi saham Rp1 dengan maksimal perubahan Rp10. Sementara, saham dengan rentang harga Rp200 sampai kurang dari Rp500 memiliki fraksi saham Rp2 dengan maksimal perubahan Rp20. Saham harga Rp500 sampai kurang dari Rp2000 memiliki fraksi saham Rp5 dengan maksimal perubahan Rp50. Adapun saham dengan harga Rp2000 sampai kurang dari Rp5000 memiliki fraksi saham Rp10 dengan maksimal perubahan Rp100, serta saham berharga Rp5000 ke atas memiliki fraksi saham Rp25 dengan maksimal perubahan Rp250.

Fraksi harga saham adalah batasan rentang perubahan harga saham pada suatu saat. Sebagai ilustrasi, saham PT X memiliki harga pembukaan (opening price) Rp175 atau memiliki fraksi harga Rp1. Artinya, harga saham PT X tersebut hanya akan dapat berubah Rp1 per kali penawaran dan maksimal perubahannya Rp10, atau harga penutupan maksimal bagi saham terkait adalah Rp185 pada sesi perdagangan di hari tersebut.

Tujuan dari penetapan fraksi harga adalah untuk mengurangi volatilitas perubahan harga saham di pasar modal serta menambah partisipasi masyarakat sebagai investor ritel sebab biaya investasi menjadi lebih terjangkau, atau meningkatkan likuiditas dan aktivitas perdagangan saham.

Penelitian Gerrace et al. (2012) menyatakan adanya pengaruh positif antara penurunan fraksi harga saham terhadap likuiditas perdagangan saham di Hongkong Stock Exchange. Indikator-indikator yang dapat digunakan pada pengukuran likuiditas pasar modal diantaranya market spread (relative bid-ask spread, quoted spread, effective spread), kedalaman pasar (volume bid dan ask) serta aktivitas perdagangan (frekuensi, volume dan nilai perdagangan).

Apabila ditinjau kembali, perubahan penetapan fraksi harga saham di Indonesia sudah cukup banyak terjadi. Mulai dari 2000-an ketika hanya ditetapkan 1 fraksi senilai Rp25 dengan maksimal perubahan harga senilai Rp200 untuk semua kelompok harga saham di pasar modal.

Hal-hal yang melatarbelakangi perubahan ini di antaranya adalah selisih kuotasi harga jual-beli (bid-ask spread) yang terlalu lebar di BEI sehingga menghambat terjadinya transaksi serta rendahnya likuiditas saham, terutama saham yang memiliki fundamental bagus, namun harganya tinggi. Selain itu, nilai transaksi selama tiga tahun (2013-2015) pun mengalami tren penurunan yang mencapai sekitar 4% per tahun.

Penyesuaian fraksi harga, selain didasarkan oleh tuntutan para investor; perlu mempertimbangkan pula perbandingan nilai transaksi menurut kelompok harga saham yang ada. Hal inilah yang menyebabkan kelompok saham untuk setiap peraturan penetapan harga saham berbeda-beda. Contohnya, dari semula ada tiga kelompok harga saham pada regulasi 2014 berubah menjadi empat kelompok harga saham pada peraturan terbaru.

BEI senantiasa mengadakan tinjauan rutin terhadap parameter mikro perdagangan saham terkait peningkatan likuiditas pasar modal, termasuk adalah fraksi harga (tick size). Informasi mengenai perubahan penetapan fraksi harga tentunya menjadi informasi penting bagi investor untuk mengambil keputusan pembelian atau penjualan saham.

Akan tetapi, perubahan fraksi harga saham tidak selalu dapat berdampak positif bagi likuiditas pasar modal. Salah satu penelitian yang membahas mengenai hal ini adalah penelitian Chung et al. (2005) di Kuala Lumpur Stock Exchage yang menunjukkan bahwa ukuran fraksi harga yang terlalu besar untuk saham dengan harga lebih tinggi malah merugikan likuiditas pasar. Selain itu, penelitian dari Broughelle dan Declerk (2002) menyatakan, penurunan fraksi harga dapat menyebabkan penurunan kedalaman pada kuotasi pasar modal di French Stock Market. Hal-hal inilah yang menyebabkan hingga saat ini sudah cukup banyak diadakan studi empiris mengenai penetapan fraksi harga optimal pada pasar modal di seluruh dunia.

Lalu, bagaimanakah efek penetapan fraksi harga saham terbaru terhadap likuiditas perdagangan saham di Indonesia? Mari simak, tinjau dan evaluasi bersama. Semoga saja saat ini telah diterapkan fraksi harga saham yang optimal di pasar modal Indonesia.

Oleh: Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRMO – Faculty Member of PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah SIndo Weekly No. 09 Tahun VI, 1-7 Mei 2017 p. 82

Manajemen Risiko Pada Industri Aviasi Indonesia

Pada akhir Desember 2016, masyarakat dikejutkan dengan kasus pilot salah satu maskapai penerbangan di Indonesia yang diduga mabuk sebelum lepas landas.  Dia bicara melantur dan berjalan sempoyongan. Sontak, penumpang pun protes keras sehingga pihak maskapai akhirnya mengganti pilot tersebut.  Kasus ini kemudian viral di media sosial. Tak hanya diganti saat itu juga, pilot tersebut akhirnya dipecat dari maskapai penerbangan terkait.

Dari penggalan kisah di atas, kita dapat memerhatikan bahwa maskapai penerbangan menerapkan peraturan yang cukup tegas.  Hal ini dapat dimaklumi, mengingat bahwa industri aviasi memang salah satu industri dengan tingkat risiko yang tinggi (Mbaskool, 2015).

Salah satu risiko yang sulit untuk diprediksi dan diatasi adalah keselamatan penumpang.  Wajar saja jika  maskapai penerbangan menerapkan peraturan ketat terhadap pilot karena pilotlah pemegang tanggung jawab terbesar keselamatan armada penerbangan selama mengudara. Tak hanya terkait keselamatan penumpang,  risiko dalam industri aviasi memang sangat tinggi bagi keberlangsungan maskapai penerbangan. Ini lantaran  profitabilitas industri yang rendah (Mbaskool, 2015).

Continue reading

Cara Mencapai Tujuan (Finansial) Anda

Pernahkah Anda dihadapkan dengan situasi membutuhkan dana untuk kepentingan pribadi? Misalnya, untuk membelirumah, mobil atau membiayai pendidikan. Namun, Anda merasa kesulitan untuk mencapainya. Pasti semua orang akan menjawab, ya. Perencanaan Keuangan Pribadi bisa menjadi salah satu solusinya.

Pada dasarnya, setiap individu ingin memaksimalkan kepuasan yang dia peroleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan (Kapoor et al., 2009). Hal ini dapat dicapai melalui pengelolaan keuangan pribadi, yaitu sebuah proses untuk mengelola keuangan Anda dalam rangka mencapai kepuasan ekonomis pribadi.

Rencana keuangan pribadi yang dilakukan secara komprehensif dapat meningkatkan efektivitas pemakaian sumber daya finansial yang Anda peroleh, meningkatkan kendali terhadap dana yang Anda miliki, serta mencapai kebebasan finansial. Itulah saat Anda dapat terbebas dari rasa khawatir akan tidak tercapainya tujuan finansial yang telah Anda tetapkan sejak awal.

Secara garis besar, berikut adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam menyusun rencana keuangan pribadi.

Continue reading