Pemimpin Kunci Transformasi

the leaderBaru-baru ini beberapa lurah dan ketua RT di wilayah Jakarta ‘mogok’ dan menentang penggunaan aplikasi Qlue yang dicanangkan oleh Ahok untuk membantu para aparatur pemerintahan DKI Jakarta bekerja dengan lebih baik dalam melayani warganya.

Aplikasi ini adalah salah satu langkah menuju Jakarta Smart City, dimana warga Jakarta dapat melaporkan keluhan ataupun temuannya untuk segera ditindaklanjuti oleh aparat terkait.  Warga senang, namun aparat tampak kurang senang. Pro dan kontra seperti ini bukan pertama kalinya dialami Ahok dalam melakukan perubahan untuk menjadikan DKI Jakarta sebagai tempat yang lebih baik untuk warganya. Hal ini ternyata juga dialami oleh beberapa pemimpin organisasi dalam upaya mereka membawa organisasinya menjadi lebih baik.
Continue reading

Perlukah Rebranding?

perlukah rebranding imageSiapakah Katheryn Elizabet Hudson?  Sebagian besar orang mungkin tidak mengenalnya, dan sebagian besar lainnya akan menyebutkan bahwa itu adalah nama asli Kate Hudson, seorang aktris Hollywood, dan hanya sedikit orang yang mungkin adalah fans fanatiknya, mengenal itu sebagai nama lengkap dari Katy Perry.

Diawal karirnya, Katy Perry menggunakan nama Katy Hudson.  Ketika karirnya sebagai penyanyi mulai bersinar, dia memutuskan menggunakan nama belakang ibunya, Perry.  Pertimbangannya adalah faktor kesulitan orang membedakan antara dirinya dengan aktris Kate Hudson.  Faktor ini juga yang digunakan oleh suatu produk jika ingin rebranding, yaitu differentiation from competitors.

Branding bukan sekedar memberi nama untuk suatu produk, tetapi merupakan serangkaian identitas khas yang digunakan oleh suatu produk agar mudah mencuri perhatian dan diingat oleh konsumen.  Pada saat identitas itu diberikan saja diperlukan pemikiran panjang, apalagi pada saat identitas tersebut akan diganti. Selain faktor diatas, ada beberapa faktor yang perlu Anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk rebranding untuk brand Anda, yaitu:Z
Continue reading

Mari Bentuk Para Pelanggan Loyalis

1,111 copies sold out in 11 mins”. Kalimat itu terpajang di  sampul depan sebuah novel Indonesia.  Cukup mencolok karena tertulis dengan latar belakang merah di sampul novel dengan dominasi warna biru itu.  Penulis pun takjub membaca fakta ini, dan pertanyaan yang muncul kemudian adalah “Kok bisa?”

Hal serupa juga pernah penulis temui di Instagram. Pada tiga akun jualan produk  fashion yang dimiliki oleh satu pemilik, Vanilla Hijab, Vanilla for Clothing, dan Vanilla for Basic. Hal yang menarik dari ketiga akun ini adalah produk yang dijual hanya ada sekitar masing-masing 3 varian produk namun bisa menjual sekitar 1.000-1.500 pieces hanya dalam hitungan menit setelah foto produk diluncurkan di akun tersebut. Pertanyaan yang sama pun muncul kembali “kok bisa?”

Dua produk disebut di atas mungkin untuk sebagian besar masyarakat Indonesia bukan termasuk kebutuhan primer.  Tapi pasti Anda setuju, dengan kondisi saat ini dimana daya beli masyarakat yang turun, konsumen tentu saja akan lebih mengutamakan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan primer sehingga menyebabkan penjualan sebagian besar produk non-primer menurun cukup signifikan. Lalu, kenapa mereka bisa?
Continue reading