Biar Cepat Asal Selamat

Sejumlah kejadian tragis dalam beberapa tahun terakhir terkait runtuhnya beberapa penunjang atau bagian bangunan membuat kita terperangah. Sebab hal ini bukan hanya mendatangkan kerugian finansial bagi organisasi maupun pihak yang terkena dampaknya, tetapi secara naas juga merenggut korban jiwa.

Jika diteliti lebih lanjut, beberapa kejadian mengerikan ini tidak semata-mata disebabkan oleh satu hal saja, namun dapat dipicu oleh beberapa faktor. Misalnya runtuhnya area parkir Eindhoven Airport tahun 2017 yang lalu disebabkan oleh sambungan plat beton yang kurang baik ditambah dengan metoda pelaksanaan bangunan yang tidak sesuai dengan peraturan keamanan konstruksi di Belanda.

Di Indonesia sendiri tak kurang dari 12 kejadian serupa terjadi dalam kurun waktu Agustus 2017 hingga Februari 2018. Mulai dari runtuhnya tiang penyangga Light Rail Transit (LRT), box girder, tembok underpass hingga bekisting pierhead yang menyebabkan beberapa orang terluka, bahkan ada yang meninggal dunia. Penyelidikan masih berlanjut hingga saat ini dan prosesnya memakan waktu yang tidak singkat untuk menentukan penyebab kejadian dan siapa yang harus bertanggung jawab pada akhirnya.

Continue reading

Scope Creep, (Benarkah) Sebuah Mimpi Buruk

Setiap organisasi, di era serbamutakhir serba digital ini, selalu berupaya cepat beradaptasi guna memenangkan persaingan dalam industri, atau bahkan semata-mata hanya untuk bertahan hidup.

Sasaran proyek dilukiskan sebagai sudut-sudut segitiga keramat, yaitu time, cost, dan performance. Ini menjadi ukuran kinerja proyek dan sebagai acuan pengukuran kinerja seorang manajer proyek.

Seperti hidup yang tidak mudah ditebak, begitu pula dengan jalannya suatu proyek. Eksekusinya tidaklah semudah menjalankan daftar aktivitas.  Ada saja tantangan yang mengganggu mulusnya laju pelaksanaan proyek. Yang paling sering terjadi adalah melebarnya ruang lingkup proyek, atau biasa dikenal dengan Scope Creep.

Scope Creep yang diangkat dari Project Management Body of Knowledge (Project Management Institute, 2015) adalah perluasan ruang lingkup produk atau proyek yang tidak terkendali tanpa adanya penyesuaian pada faktor waktu, biaya, dan sumber daya awal sesuai rencana semula.
Continue reading

Sayangi Bumi, Waspadai Sampah

Tahukah Anda, riset yang dilakukan University of Georgia tahun 2014 (Plastic waste inputs from land into the ocean, Jambeck et al, 2015), menyebut Indonesia sebagai negara pembuang limbah sampah ke laut terbesar kedua di dunia (0.48 –  1.29 juta ton metrik/tahun) setelah China.

Rasionalisasi yang timbul adalah tentu saja ini karena jumlah penduduk Indonesia yang banyak, dan pasti menghasilkan volume limbah yang berlimpah, lalu peluang membuang limbah ke laut otomatis akan semakin meningkat.

Namun hasil riset mematahkan hipotesa tersebut, karena India yang jumlah penduduk pesisirnya nyaris sama dengan jumlah penduduk pesisir Indonesia, berada di peringkat 12, jauh di bawah Indonesia.

Fenomena tingginya volume limbah Indonesia dipengaruhi banyak faktor. Penduduk yang berjumlah ratusan juta jiwa ini adalah salah satunya. Faktor lainnya adalah proses penanganan limbah itu sendiri, demi melenyapkan berjuta ton sampah setiap tahunnya. Kalau kita ingin hidup terbebas dari limbah, tentu saja kecepatan penanganan harus lebih besar daripada kecepatan produksi limbah itu sendiri.

Produksi sampah atau yang lazimnya disebut timbulan sampah dapat dikendalikan dengan mengedukasi setiap pelaku industri untuk mengurangi volume sampah. Ini sebagian dari tugas regulator dibantu tokoh masyarakat yang berkepentingan agar jangan bosan menggiatkan industri untuk berinovasi menghasilkan produk atau proses yang minim limbah industrinya.

Peran masyarakat juga tak kalah penting di bagian ini untuk ‘memaksa’ industri berupaya keras mengurangi limbahnya, misalnya saja dengan adanya kampanye menolak penggunaan tas plastik dalam berbelanja. Penggunaan plastik diharapkan berkurang, dan minimal berdampak menurunkan volume sampah domestik. Konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) bahkan menjadi dasar penanganan sampah menurut UU no 18/2008.

Tantangan lainnya adalah faktor kapasitas TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dan Proses –yang sebagian besar saat ini berupa- pengurugan (landfilling) yang ada pada TPA tersebut. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 60% sampah di kota-kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke TPA. Mengapa demikian?
Beberapa faktor memengaruhi hal ini, antara lain ritasi truk, kapasitas truk dan kebutuhan armada truk itu sendiri untuk mengangkut sampah dari beberapa TPS (Tempat Pembuangan Sementara) ke TPA. Kapasitas TPS sendiri juga berpengaruh terhadap kinerja pengangkutan sampah oleh armada truk yang bertugas. Secara global, dapat dikatakan aliran sampah dari sumber sampah hingga TPA merupakan aliran limbah yang berlawanan arah dengan aliran produk yang masih bernilai, atau dengan istilah lain adalah Reverse Supply Chain.

Menurut Blackburn et al. (2004), sasaran Reverse Supply Chain adalah memanajemeni kegiatan mengumpulkan produk sisa maupun produk yang telah digunakan, mengangkutnya ke lokasi pemilahan, memeriksa, memilah dan menghancurkan yang telah disisihkan, memperbaiki kondisi atau memasukkannya kembali ke dalam proses produksi, dan menyalurkannya pada pihak yang tepat.

Dalam konteks persampahan di Indonesia secara luas, maupun persampahan kota, tampaknya aliran ini harus lebih dipikirkan dibandingkan rantai pasok produk bernilai (Supply Chain) yang saat ini masih menjadi fokus perhatian seluruh pihak. Sebab penanganan Reverse Supply Chain untuk sampah dengan kinerja buruk akan memberikan dampak negatif pada  kualitas kesehatan masyarakat. Sampah yang tercecer dalam waktu yang lama akan menghasilkan lindi (cairan sampah) yang berbahaya bagi kesehatan.

Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh di atas, maka perlu dipikirkan secara lebih mendalam proses Kumpul – Angkut – Buang yang selama ini menjadi proses yang dilakukan di kota-kota besar dalam proses penanganan sampah. Bukan hanya dimulai dari sampah domestik saja, tetapi lebih jauh mengendalikan industri dalam serangkaian proses produksinya.

Konsep Extended Producer Responsibility (EPR) adalah salah satu strategi yang dirancang dengan menginternalkan biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sebuah produk. Dengan kata lain, biaya penanganan limbah yang muncul akibat penggunaan produk tersebut menjadi bagian dari komponen harga produk. Penggunaan konsep ini dalam dunia nyata tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena dapat dibayangkan akibatnya adalah harga produk menjadi tinggi dan tidak kompetitif lagi.

Konsep 3R yang telah mendasari penyusunan Undang Undang Pengelolaan Sampah di Indonesia juga sangat bermanfaat, tetapi upaya nyata yang menyeluruh memang belum terlihat. Kalaupun ada, sifatnya masih sporadis dan lokal saja.

Selayaknya konsep ini digunakan pada setiap tahapan Reverse Supply Chain, misalnya untuk produk-produk cacat produksi sedapat mungkin dijadikan faktor input proses produksi dan masuk kembali ke dalam proses awal untuk menghasilkan produk jadi yang bernilai. Hal ini mendorong industri untuk mencari material yang dapat didaur ulang kembali atau mendesain proses produksinya untuk mengakomodir hal tersebut.

Kapasitas TPS, jumlah, dan kapasitas armada angkut, ritasi dan kapasitas TPA merupakan faktor-faktor lain yang perlu didesain dengan optimal dan komprehensif, bukan hanya tanggung jawab masing-masing kota saja, tetapi selayaknya pemerintah memiliki prosedur dan kebijakan yang suportif terhadap aliran limbah dalam upaya penanganan sampah nasional.

Edukasi pemilahan sampah domestik di rumah-rumah tangga merupakan salah satu upaya yang berdampak positif pada kecepatan penanganan sampah selanjutnya.

Sekali lagi, pekerjaan rumah ini bukan hanya milik pemerintah Indonesia, tetapi juga milik industri dan masyarakat penghasil sampah. Kurangi volume sampah dan budayakan membuang sampah pada tempatnya untuk masing-masing individu, itu hal minimal yang dapat dilakukan.

Fenomena Ratu Semut

Ratu_AtutBerita-berita yang ditayangkan televisi beberapa bulan silam membuat penonton seringkali terkaget-kaget. Dapat dikatakan, dari sepuluh frame, tujuh frame menayangkan wajah wanita, mulai dari putri yang menjadi istri ketiga jenderal polisi tersangka koruptor, model majalah dewasa yang berhubungan dengan gembong narkoba terpidana mati, hingga ratu yang duduk di tampuk pimpinan daerah.

Menyedihkan melihat betapa media mengeksploitasi kaum hawa, yang berujung pada efek snowball, semakin lama intensitasnya semakin tinggi dan semakin dalam.

Ketika orang ramai bicara tentang good governance dan good corporate governance, tak ada yang berinisiatif untuk menciptakan good media governance, misalnya, sehingga media tidak salah arah atau sengaja nyasar kesana kemari, ikut blusukan tanpa arah yang jelas.
Continue reading

Lead With A Story: Menyampaikan Visi & Misi Perusahaan Lewat Cerita

Company story tellingTahukah Anda bahwa 40% pembelajar akan mengingat konten apa pun secara visual, 40% secara audio, dan 20% sisanya secara kinetis? Hal ini menjelaskan mengapa saat kita merasa kehilangan kunci mobil misalnya, dan kemudian mencoba mengingat urutan aktivitas yang kita lakukan seharian, tiba-tiba muncul gambaran lokasi kunci mobil yang hilang itu. Otak menyimpan visualisasi yang kita lihat dan cerna secara otomatis dan rahasia.

Contoh lainnya adalah kebiasaan kita mendongeng untuk anak-anak, terutama pada saat mereka berangkat tidur. Kadang kita menyelipkan lesson learned di dalamnya dengan harapan mereka  ingat nilai-nilai itu hingga mereka besar nanti. Dan memang seringkali begitu adanya. Kita yang sudah dewasa kini memiliki gambaran bahwa serigala selalu jahat, domba yang polos dan lugu selalu menjadi korban, dan kancil yang lincah selalu cerdik. Dari mana semua itu berasal? Cerita.

Sedemikian besar kekuatan suatu cerita, hingga tak hanya digunakan di dalam kamar anak-anak sebagai pengantar tidur, tetapi juga dimanfaatkan di dalam perusahaan. Seperti yang dilakukan Jim Bangel, seorang staf R&D yang bekerja di P&G, sebuah perusahaan consumer goods multinasional.
Continue reading