Community System untuk Pelabuhan Kita

Nusantara terdiri ribuan pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Sebaran pulau-pulau tersebut terkoneksi dengan berbagai moda transportasi. Dalam koneksi tersebut terjadi begitu banyak perpindahan manusia dari satu wilayah ke wilayah lainnya, berjuta logistik bergerak setiap hari, jam, bahkan menit.

Data Worldbank pada 2016 menunjukkan indeks kinerja logistik (LPI) Indonesia berada di rangking 63, mengalami penurunan dari 2015 yang bertengger di urutan 53. Peringkat tersebut diberikan berdasarkan dengan skor rata-rata yang diperoleh untuk seluruh indikator pengukuran yang dilakukan, yakni 2.98 (skala 1-5). Nah, skor tersebut didapat dari penilaian terhadap international shipment, logistics quality and competence, dan tracking and tracing.

Bicara logistik Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kemaritiman, salah satu industri yang terlintas dibenak kita barangkali adalah kepelabuhanan. Dwelling time adalah kata yang banyak diperbincangkan saat ini. Hingga sekarang, Pemerintah berusaha untuk mengurangi waktu tinggal kargo di seluruh pelabuhan sekunder dan tersier dalam wilayah Indonesia.

Data berbagai sumber menyatakan, rata-rata waktu tinggal di Tanjung Priok turun menjadi antara 3,7-4,2 hari pada akhir 2016. Hal ini jauh lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai waktu 1 minggu. Pemerintah bahkan menetapkan target waktu 2,2-2,5 hari saja.

Untuk mempercepat waktu tinggal di pelabuhan, Pemerintah terus menggenjot kinerja proses birokrasi di pelabuhan. Peningkatan kinerja dilakukan dengan melakukan percepatan proses layanan yang ada pada setiap poin kontak pelanggan ataupun pengguna layanan kargo di pelabuhan, meliputi pengelola pelabuhan, bea cukai, karantina, imigrasi dan lain sebagainya.

Berbagai langkah dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan pengurangan waktu tunggu tersebut, misalnya dengan penerapan teknologi dalam mendukung automasi dan pergerakan dokumen sehingga prosesnya menjadi lebih singkat dalam segi waktu. Selain itu, konektivitas dalam koordinasi dan proses persetujuan dokumen juga diprioritaskan.

Pemerintah bisa belajar dari negara lain dalam memecahkan persoalan waktu tunggu di pelabuhan. Di sana, waktu tunggu bisa diminimalisasi oleh para pemberi layanan di pelabuhan tersebut.

Beberapa pelabuhan di luar negeri bisa mengurangi waktu tunggu melalui penerapan teknologi terintegrasi, yang dikenal dengan PCS (Port Community System). PCS adalah sebuah platform elektronik berbasis teknologi yang menghubungkan sistem dari seluruh organisasi yang terlibat dalam aktivitas kepelabuhanan. PCS ini kemudian akan membentuk sebuah komunitas.

Misalnya saja, Port Valencia. Setelah penerapan PCS, pihak custom mendapatkan informasi daftar barang serentak dengan penerimaan daftar di pengelola pelabuhan. Pengecekan berjalan secara bersamaan antara pihak pelabuhan dan kantor pusat custom Spanyol. Proses pengecekan 5000 dokumen dilakukan dalam waktu 3 menit, jauh lebih cepat dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan sebelum penerapan PCS yang mencapai 4 jam. Plus, semua dokumen yang diproses paperless alias tanpa kertas. Puluhan pelabuhan di dunia yang menerapkan PCS juga telah mendapat manfaat positif sistem ini.

Integrasi yang melibatkan berbagai pihak dalam proses di pelabuhan mendorong kecepatan dalam pelayanan. Jika sistem ini berjalan di sekian banyak pelabuhan di Indonesia, percepatan waktu tunggu di pelabuhan pun bisa dicapai. Dengan begitu, indeks kinerja logistik Indonesia juga akan ikut meningkat.

Mari manfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa.

Oleh: Fransiska Romana, M.M.Research Specialist, Organization Development Services | PPM Manajemen

*Tulisan ini tayang di Majalah Sindo Weekly No.21 Tahun VI, 24-30 Juli 2017

Mengelola Objek Wisata di Indonesia untuk Kemajuan Masyarakat

Banyaknya tempat wisata di Indonesia merupakan sebuah potensi yang penting untuk dikelola dan ditangani dengan baik. Agar potensi tersebut dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan negara, baik dari segi ekonomi, sosial masyarakat, dan juga pelestarian lingkungan hidup.

Objek wisata Danau Toba, Air Terjun Sipiso Piso, Pulau Weh, Pulau Komodo, Pantai Kuta, sepertinya sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

Banyaknya tempat wisata di Indonesia merupakan sebuah potensi yang penting untuk dikelola dan ditangani dengan baik. Agar potensi tersebut dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan negara, baik dari segi ekonomi, sosial masyarakat, dan juga pelestarian lingkungan hidup.

Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pariwisata tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Melalui peraturan ini ditentukan ruang lingkup pedoman pengelolaan meliputi, (a) pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, (b) pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal, (c) pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, (d) pelestarian lingkungan.

Kontribusi yang dapat diberikan dari destinasi wisata terkait kepada pendapatan daerah atau provinsi maupun negara antara lain: pendapatan yang diperoleh dari wisatawan yang datang, pergerakan ekonomi masyarakat sekitar lokasi wisata, dan semakin dikenalnya lokasi-lokasi wisata yang terdapat di Indonesia.

Bila melihat pada besarnya kunjungan wisatawan ke Indonesia pada tahun 2016, Kementerian Pariwisata menetapkan target kunjungan wisatawan ke Indonesia sebesar 272 juta wisatawan. Wisatawan tersebut meliputi 12 juta berasal dari mancanegara dan 260 juta merupakan wisatawan nusantara. Lebih lanjut dalam situs kemenpar.go.id, menyampaikan pemerintah ke depannya menetapkan target kunjungan sebanyak 20 juta wisatawan asing dengan target pemasukan devisa sebesar Rp260 triliun. Target tersebut optimis dapat dicapai mengingat pada 2014, sektor pariwisata menyumbang devisa sebesar US$10,69 miliar atau setara dengan Rp136 miliar.

Selain pendapatan yang diperoleh negara, kontribusi yang diperoleh melalui pengelolaan destinasi wisata yang langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar adalah bergeraknya perekonomian. Pergerakan perekonomian masyarakat dapat dilihat dari aktivitas perdagangan yang muncul disekitar lokasi wisata, dan lapangan pekerjaan yang tercipta.

Selain itu, perkembangan sosial, pengetahuan, serta teknologi masyarakat sekitar destinasi dapat terjadi seiring dengan dinamisnya pergerakan keluar masuknya pengunjung yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia bahkan dari luar negeri.

Kontribusi untuk pendapatan negara dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar destinasi wisata akan berjalan bila didukung oleh terjaganya kelestarian lingkungan di sekitarnya.

Panorama berbagai destinasi wisata yang disebutkan di atas tidak terlepas dari dukungan  keindahan lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Sesuai dengan pedoman pengelolaan berkelanjutan yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata yaitu terjaganya lingkungan, aktivitas maupun kegiatan terkait lingkungan alam  patut menjadi perhatian  para pengelola destinasi wisata yang ada di Indonesia.

Untuk menjaga kelestarian lingkungan alam dapat dimulai dengan menjaga kebersihan seperti penyediaan tempat sampah dan pengelolaan limbah di sekitar tempat wisata. Hal lain yang dapat dilakukan adalah menetapkan aturan maupun arahan serta memastikan hal tersebut tersosialisasi kepada para wisatawan.

Aturan atau arahan tersebut dapat berupa ketentuan penggunaan pakaian saat mengunjungi destinasi wisata daerah tertentu agar tetap mempertahankan kekayaan budaya asli daerah yang berlaku, menjaga kestabilan tanaman maupun binatang dengan tidak memetik tanaman atau mengganggu binatang di area tersebut.

Agar bisa memastikan pengelolaan destinasi wisata berjalan dengan maksimal, sangat penting terjadi sinergi serta adanya komitmen dari perusahaan maupun masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaannya.

Mari kita ambil bagian dalam pengelolaan destinasi nasional melalui langkah nyata saat kita mengunjungi lokasi tersebut. Jaga kebersihan lokasi wisata, dan patuhi aturan yang berlaku untuk keberlangsungan wisata Indonesia. Kunjungi, lestarikan dan dukung terus pengelolaan dengan sinambung destinasi wisata Indonesia, kenalkan ke semua orang di Indonesia serta seluruh belahan dunia.

Keberlangsungan destinasi wisata, mendukung kemajuan masyarakat Indonesia.

Oleh : Fransiska Romana, M.M. Research Specialist, Organization Development Services | PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di marketplus.co.id, 10 April 2017.

Makna Komunikasi dalam Organisasi

Suatu pagi nan cerah, ramai karyawan menikmati sarapan sambil berdiskusi hangat. Riuh rendah mereka membicarakan penataan gudang general affair minggu depan. Mereka memiliki informasi berbeda jika melihat alotnya pembicaraan pagi itu, si A mengatakan bahwa dengar kabar dari si C “denger-denger gudangnya akan diperbesar jadi akan digeser ruangannya, mengubah posisi kerja di lantai 10”. Berbeda dengan si A, si B mendapat info karena ada proses kerja baru hingga gudang tersebut harus dikorbankan.

Hingga waktunya jam kerja dimulai tidak seorang pun akhirnya mengetahui mana informasi yang sebenarnya, dan mereka kembali ke ruangan dengan membawa persepsi berbeda pada pikirannya masing-masing.

Jika kita melihat pada kondisi di atas, hal yang memungkinkan terjadi berikutnya adalah masing-masing karyawan bisa: (a) menganggap berita yang ada hanya sekadar informasi dan tidak melakukan apa-apa, (b) bersiap-bersiap walaupun belum ada arahan karena lokasi yang dibicarakan terkait dengan ruangan maupun pekerjaannya, (c) panik karena banyaknya selentingan info yang berkembang terkait kegiatan tersebut dan berpengaruh terhadap pekerjaannya, (d) menjadi isu yang dapat berkembang dan bersayap di kalangan karyawan.

Informasi yang beragam dan tidak terkonfirmasi sangat memungkinkan munculnya berbagai persepsi dan asumsi dalam benak karyawan. Penting sekali untuk dapat mengonfirmasi dan memastikan informasi yang beredar dipahami secara bersama dalam sebuah organisasi, disanalah terlihat pentingnya komunikasi.

Continue reading

Perjalanan Kerja

perjalanan kerjaPelesir, berwisata atau jalan-jalan baik di dalam kota maupun luar kota bahkan luar negeri saat ini telah berkembang dari sekadar rencana tahunan, hiburan keluar dari kepenatan kerja, hingga kini menjadi agenda wajib segenap masyarakat.

Bagaimana dengan Anda? apakah pelesir masuk dalam agenda? atau malah ini yang sekarang diidam-idamkan dan ingin segera dilakukan? Sebelum membahas lebih jauh, mari kita tilik lebih dalam, sejatinya situasi apa yang dirasakan saat melakukan perjalanan wisata, terlebih detik-detik terakhir ketika pelesiran itu hampir habis. Tetap ingin rasanya melanjutkan perjalanan serta tak henti saat itu, dengan kata lain; masih kurang. Bosan dan segera ingin kembali ke rumah melakukan kegiatan lainnya, atau kembali ke rutinitas kerja, atau malah segera menyusun rencana perjalanan berikutnya.
Continue reading

Kepuasan Pelanggan, Masihkah Diperhatikan?

customer-satisfactionPercakapan sesama sahabat saat reunian:
Lik : “Kecewa banget deh sama produk XYZ ini Lol, enggak beli lagi deh.”
Loli: “Komplain ke perusahaannya aja Lik, siapa tahu ada penggantian.”
Lik : “Sudahlah, enggak usah toh hanya iya iya aja tanpa ada tindakan responnya.”
Loli: “Kan kemarin kata salesnya silahkan komplain kalau ada kekecewaan.”
Lik : “Enggak ah kapok, kepuasan pelanggan kayanya bukan fokus perusahaannya kok. mending cari produk sejenis dari merek lain aja deh.”

Apakah Anda juga pernah mengalami kondisi di atas? Jika kita menempatkan diri pada sisi perusahaan, maka bisa diketahui pelajaran dari cerita dua sahabat itu. Ya, pelanggan dapat berpindah ke merek lain kapan saja bila tidak mendapatkan kepuasan.
Continue reading