Perang Model Bisnis: X is The New King

Cash is King, ungkapan lama yang masih menjadi pedoman kebanyakan perusahaan untuk tetap bertahan di belantika bisnis. Keadaan kas perusahaan juga sering dijadikan patokan oleh investor dalam meramu portofolio investasinya.

Namun, apakah kondisi kas cukup relevan lagi sebagai bekal untuk sukses di persaingan yang semakin sengit? Sudah tidak lagi tabu kalau sekarang perusahaan baru (start up) yang minim kas bisa dengan mudah menguasai medan perang. Senjata rahasianya adalah, model bisnis yang mutakhir.

Renald Khasali menganalogikan secara sederhana melalui kisah pertarungan model bisnis pedangdut Inul Daratista dengan Rhoma Irama. Betapa keduanya berlomba di industri hiburan melalui model bisnis yang berbeda. Inul dengan model bisnis panggung hiburannya, sementara Rhoma setia dengan model bisnis royalti. Tentu saja model bisnis yang mengikuti perkembangan zaman yang menang, karena tumbuh pesat.

Model bisnis yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen cenderung sukses menjawab tantangan zaman lebih cepat. Istilah terkenal dari fenomena ini adalah disrupsi teknologi.

Era Disrupsi Teknologi Menurut Forbes, tahun ini akan ada 5 tren disrupsi teknologi, yaitu automasi keuangan fintech, big data yang semakin canggih, internet of everything, mobile transactions in any way, dan eksplorasi alam semesta yang semakin mudah. Tren tersebut bak komik science-fiction yang nyata di hadapan kita.

Nah, tentu saja hal ini jangan hanya sekadar fenomena semata, tapi kita sebagai organisasi harus ambil peran yang signifikan. Membuat perubahan pada status quo yang dapat meningkatkan eksistensi perusahaan di hadapan konsumen.

Pesatnya disrupsi teknologi membuat beberapa perusahaan besar tumbang dari berbagai industri. Masih ingat dampak yang terjadi akibat hadirnya Amazon, Uber, Netflix, SpaceX, atau Airbnb? Kasus-kasus tersebut bisa menjadi renungan. Those new players didn’t kill the incumbents, they did to themselves. Ya, perusahaan-perusahaan besar tumbang karena model bisnisnya statis dan minim inovasi.

X is The New King Menurut buku X: The Experience When Business Meets Design karangan Brian Solis, “without defining experiences, brands will become victim to whatever people feel and share.” Di dunia yang tanpa batas dan akses informasi yang berlimpah, pengalaman yang bermakna bagi konsumen adalah yang utama dalam kesukesan suatu produk. Sebagus apapun produk yang dimiliki takkan pernah cukup untuk memenangkan persaingan. But its X does.

Salah satu contoh kasus perusahan yang tidak tergerus era disrupsi teknologi adalah perusahaan boneka American Girl. Mereka sukses bertahan dan terus tumbuh di ladang yang penuh rumput disrupsi. Satu strategi yang digunakan adalah memberikan segala bentuk pengalaman kepada konsumen tentang produknya. Misalnya, mereka memberikan media story telling tentang boneka, pengalaman membawa boneka di jamuan makan malam atau berbelanja ke mall, bahkan konsumen diberikan kesempatan mengenal boneka lebih personal dengan kesamaan-kesamaan yang dimiliki.

Kekomprehensifan pengalaman yang ditawarkan ini membuat pesaing yang disruptif kesulitan untuk mencuri pangsa pasar. This simply confirms that X to be the New King.

Kembali ke tren disrupsi teknologi oleh Forbes di atas, yaitu teknologi big data yang semakin canggih, kita bisa jemput bola di ranah ini. Dengan bantuan big data, kita bisa menganalisis bagaimana konsumen menggunakan produk kita, termasuk apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka katakan tentang produk kita. Dari hasil analisa tersebut, secara realistis kita dapat merancang suatu pengalaman yang bermakna untuk produk yang sesuai dengan ekspektasi konsumen. Dengan begitu, perusahaan bisa ambil ancang-ancang untuk lari melesat.

Sebenarnya, ketakutan pemain lama di industri terhadap pesaing yang disruptif terlalu berlebihan. Pasalnya, mereka akan kalah bukan semata-mata karena adanya pesaing yang disruptif tetapi karena mereka lambat dalam menjawab tantangan perubahan zaman. Model bisnis mereka terlalu kompleks untuk melayani konsumen yang membutuhkan simplicity.

Pun bisa ditarik benang merah bahwa bukan jumah kas yang melimpah atau berapa panjang sejarah yang dimiliki, tapi perusahaan yang memberikan pengalaman yang berbeda, yang lebih sesuai dengan ekspektasi konsumennya, dan simplicity yang lebih masuk akal, yang akan memenangkan kompetisi pangsa pasar.

Satu kalimat dari Oliver Wendell Holmes, Jr., seorang ahli hukum Amerika, sepertinya cukup untuk menutup tulisan ini; “A mind that is streched by a new experience can never go back to its old dimensions.”

Oleh: I Gede Christian Adiputra, M.M. Trainer & Consultant PPM Manajemen

*Tulisan ini tayang di Majalah Sindo Weekly No. 26 Tahun VI 28 Ags 2017 – 3 Sep 2017

Menjadi Orang Kaya Baru dengan Saham

Investasi yang sering dikaitkan dengan kekayaan salah satunya adalah saham. Namun bedakan ya antara investasi dan spekulasi. Pelajari lebih lengkap di sini, ya.

Sebagian besar masyarakat menganggap kekayaan adalah bukti kesuksesan. Memang tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut, bahkan indikator ini sangat mudah untuk dinilai. Selain itu, kekayaan bisa menjadi katalisator kebahagiaan.

Apabila Anda memiliki indikator yang sama, tulisan ini menjadi sangat relevan dan bermanfaat  untuk dibaca. Salah satu jenis investasi yang menjanjikan kekayaan adalah investasi di pasar saham. Investasi dengan membeli saham perusahaan dapat memberikan keuntungan yang berlipat sampai ribuan persen. Walaupun risikonya tinggi, keuntungan dari investasi saham jauh lebih tinggi dari jenis investasi lainnya.

Investasi atau Spekulasi

Dalam “bermain” saham, perlu dibedakan antara investasi dan spekulasi. Istilah yang kedua sering menjadi jebakan bagi investor pemula.

Investasi saham sendiri berarti membeli saham dengan mempertimbangkan risiko yang ada dan saham dimiliki dalam waktu yang cenderung lama. Sementara spekulasi lebih merujuk pada mencari profit jangka pendek dari ketidakseimbangan pasar tanpa memerhatikan risiko pasar.

Biasanya saham yang ”dimainkan” hanya dimiliki dalam waktu yang relatif sangat pendek. Berinvestasi dengan membeli saham berarti kita membeli perusahaan yang menerbitkan. Ini berarti kita juga ikut memiliki perusahaan, atau dalam istilah manajemen dikenal dengan pemegang saham. Imbalan keuntungan dari investasi ini adalah dividen, yaitu porsi keuntungan atas laba bersih per lembar saham.

Singkatnya seperti ini; apabila perusahaan yang kita miliki menghasilkan laba bersih yang tinggi, maka dividen yang kita terima juga cenderung lebih tinggi. Tentu saja hal yang paling menarik dari investasi ini adalah memilih (dan menganalisis) perusahaan mana yang prospek kinerja keuangannya paling menguntungkan.

Keuntungan Lain

Selain dividen, pemegang saham juga mendapatkan keuntungan gain dari kenaikan harga saham di bursa yang mengakibatkan nilai investasi kita juga naik.

Misalkan, kita memiliki saham perusahaan A sebanyak 10.000 lembar dengan harga pada tahun 2017 adalah Rp1.000 per lembarnya, maka nilai awal investasi adalah 10.000 x Rp1.000 = Rp10.000.000. Apabila pada tahun 2027 harga saham ternyata naik menjadi Rp20.000 per lembarnya, maka nilai investasi kita selama 10 tahun menjadi 10.000 x Rp20.000 = Rp200.000.000. Nilai ini meningkat 2.000% atau rata-rata dua kali lipat per tahun.

Cerdas Forecasting, Penting!

Nah, sebagai investor yang cerdas, kemampuan meramal (forecasting) harga saham sangat menentukan keberhasilan investasi di pasar modal.

Misalkan, dengan analisis keuangan didapat bahwa harga saham X seharusnya Rp1.276 per lembar, namun di bursa hari ini masih seharga Rp355 dan juga merupakan harga terendah sejak sepuluh tahun terakhir. Kalau investor jeli, maka ini adalah saat yang tepat untuk membeli saham X.

Alasannya karena menurut pakar value investing, Benjamin Graham dan Warren Buffet, harga saham akan bergerak berangsur-angsur ke harga wajar yang seharusnya.

Seperti contoh terakhir tadi, harga saham X dari Rp355 akan bergerak mendekati Rp1.276 di masa yang akan datang. Dengan penetapan margin of safety atau selisih harga pasar saat ini dengan harga wajarnya, misalkan lebih dari 50%, maka keputusan membeli saham perusahaan menjadi lebih efektif.

Harga Saham yang Wajar

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana cara untuk menghitung harga saham wajar atau stocks intrinsic value?

Cara yang paling sering digunakan adalah dengan menghitung rate of return atau bunga yang dihasilkan dari pergerakan harga saham. Rate of return ini biasanya dihitung dengan rumus CAPM atau Capital Asset Pricing Model, sebuah model dengan satu faktor yaitu risiko saham terhadap pasar, atau disebut beta.

Hampir di semua sekolah bisnis mengajarkan CAPM dalam penentuan harga saham wajar. Padahal Eugene Fama dan Kenneth French, ilmuan asal Amerika Serikat, telah membuktikan bahwa beta bukan satu-satunya penentu dari return saham. Bahkan dengan pembuktian dari penelitiannya, mereka menyimpulkan bahwa beta is dead jika dipakai sebagai satu-satunya faktor dalam menentukan harga saham.

Model Baru, Pelajari

Lebih lanjut lagi, dari tahun 2013 sampai 2016, Fama dan French menemukan satu model baru dalam menentukan harga saham wajar, yaitu Fama & French Five Factor Model. Model yang merupakan penyempurnaan dari model sebelumnya, Three Factor Model, terbukti lebih efektif dari CAPM.

Model ini menitikberatkan pada bukan hanya beta saja, namun ada empat faktor lain yang menentukan harga saham. Keempat faktor tersebut adalah; ukuran perusahaan, nilai perusahaan, investasi yang dilakukan, dan profitabilitas dari operasi perusahaan yang kita sasar.

Model terakhir dari Fama dan French ini seharusnya menjadi jurus ampuh untuk menjadi investor saham yang efektif. Asalkan, kita terhindar dari jiwa spekulan yang oportunis.

Dengan kemampuan berinvestasi saham yang memadai, kekayaan bukan jadi sekadar mimpi. Dengan jurus baru ini, kita bisa menjadi salah satu dari orang kaya baru. Kuncinya hanya satu, yaitu kemauan untuk belajar. Seperti satu kutipan dari Warren Buffet sebagai investor tersukses di dunia Risk comes from not knowing what you’re doing.”

*Tulisan dimuat marketplus, 7 Juli 2017.

Ancaman Cyber Risk

Never let them know your next move”, satu kutipan dari seorang rapper bernama Notorious B.I.G itu seharusnya menjadi jurus jitu setiap orang dan perusahaan untuk menuju sukses.

Perusahaan, pada akhirnya harus memegang teguh prinsip itu untuk memenangkan persaingan market share. Nah, bagaimana caranya agar next move perusahaan bisa aman dan tidak bocor ke meja rapat kompetitor? Mari kita bahas dari sudut pandang manajemen risiko, tepatnya cyber risk management.

Cyber risk sendiri didefinisikan sebagai segala risiko kerugian bagi keuangan perusahaan, baik itu berupa kekacauan, pencurian data rahasia, atau pencemaran nama baik, yang terjadi akibat kegagalan sistem teknologi informasi dan komunikasi internal.

Walaupun berkaitan dengan sistem teknologi informasi dan komunikasi, tanggung jawab terhadap cyber risk bukan melulu milik tim IT, namun juga seluruh lapisan organisasi. Tim IT memang memiliki peran yang sangat vital, tapi di luar dari mereka justru malah perannya sangat krusial.

Di era teknologi informasi dan komunikasi yang maju pesat ini, seluruh lapisan organisasi dari atas ke bawah menjadi krusial. Dari akses jaringan wi-fi sampai database perusahaan memiliki dampak yang serius jika terjadi penyalahgunaan, atau yang paling parah terlibat cyber crime.

Bentuk-bentuk cyber crime antara lain kecurangan sistem komputerisasi, pencurian identitas, hacking, dan pelanggaran terhadap keamanan jaringan di perusahaan.

Beberapa dekade lalu, risiko ini mungkin hanya diprioritaskan oleh institusi keuangan dan lembaga pertahanan saja. Akan tetapi saat ini siapa saja bisa terancam, tidak terbatas pada industri, besar-kecil perusahaan, atau determinan lainnya.

Menurut Aon’s 2015 Global Risk Management Survey, cyber risk saat ini masuk dalam Top Ten Global Risk, yang berarti bukan lagi sebagai risiko dengan probabilitas dampak yang kecil.

Cyber risk juga bisa ditimbulkan dari hal terkecil di perusahaan. Menurut data dari The Need for a New IT Security Architecture: Global Study, 71% perusahaan yang diteliti mengatakan bahwa risiko ini muncul akibat dari ketidakmampuan organisasi dalam mengontrol gadget beserta aplikasi para karyawannya, dan 74% merupakan akibat dari sistem IT yang ketinggalan zaman.

Studi di atas juga menggambarkan bahwa kunci untuk menekan terjadinya cyber risk dalam beberapa tahun ke depan adalah dengan manajemen database (73%), manajemen konfigurasi sistem (76%), dan manajemen aplikasi (72%). Hal ini menjadi penting untuk perusahaan yang saat ini benar-benar peduli akan keamanan informasi dan data rahasia internal.

Sementara itu, menurut ISO 27001 dan NIST Cybersecurity Framework, terdapat lima komponen kunci dalam cyber risk management framework, yaitu sebagai berikut.

  1. Protect valuable data.

Organisasi sudah seharusnya mengidentifikasi mana saja yang merupakan informasi paling berharga dan termasuk data rahasia perusahaan, termasuk di mana itu disimpan dan siapa saja yang berhak mengaksesnya.

  1. Monitor for cyber risk.

Memonitor risiko ini tidak saja hanya dengan menjadi reaktif atas terjadinya kebocoran, tapi juga proaktif terhadap kemungkinan lain yang perkembangannya kadang lebih cepat dari sistem internal. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan sistem intelijen yang dapat dengan langsung memberikan sinyal risiko sebelum benar-benar terjadi.

  1. Understand your cyber perimeter.

Sifat jaringan, terutama internet, yang begitu luas mengharuskan perusahaan untuk mengetahui seluas apa jangkauan keamanan yang perlu dijaga. Bukan hanya pada area gedung kantor, tapi juga area dimana stakeholders memiliki akses terhadap jaringan internal perusahaan. Tentu saja, sistem IT yang memadai dan kedisiplinan karyawan menjadi tiang-tiang penopang keberhasilan cyber risk management.

  1. Improve cyber intelligence.

Mengacu pada poin 2, perusahaan memang perlu mengembangakn sistem inteligen yang berkaitan dengan cyber risk. Fungsinya untuk mengatasi kesenjangan antara sistem-sistem yang dimiliki oleh perusahaan, baik itu sistem keuangan, sumber daya manusia, dan lainnya. Dengan cyber intelligence, perusahaan juga dapat menganalisis secara lebih mendalam mengenai kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat merugikan. Penelitian dan perkembangan seputar cyber intelligence juga menjadi relevan untuk terus diperkaya secara sinambung.

  1. Report and Take action.

Dibutuhkan tim yang solid dalam membangun cyber security yang efektif, yaitu segenap pihak yang memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengaruh yang kuat yang dapat memastikan sistem kontrol cyber risk management berjalan dalam koridor optimal. Sehingga pihak manajemen bisa segera mengambil keputusan yang cepat dan tepat atas laporan yang akurat.

Kelima komponen kunci dalam cyber risk management framework di atas bisa menjadi acuan bagi perusahaan dalam menjaga ketahanan sumber daya organisasi. Selain sebagai bentuk defensif, sebenarnya cyber risk management bisa menjadi jurus ofensif.

Bayangkan, apabila perusahaan kita memiliki ketahanan dan kesiapan terhadap risiko apapun, khususnya cyber risk, maka tindak tanduk organisasi akan efektif dan lebih efisien. Hal ini juga akan memuluskan langkah perusahaan kita dalam menguasai “permainan”.

Besides, this could be a selling point to our clients. Keunggulan manajemen risiko yang perusahaan miliki akan menjadi pembeda (competitive advantage), sehingga klien atau calon klien lebih percaya terhadap produk dan jasa.

Jadi, semua perusahaan pasti akan terkena dampak dari cyber risk, baik positif maupun negatif. Semua tinggal menunggu waktu saja.

Oleh: I Gede Christian Adiputra, M.M. – Trainer & Consultant PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online, 4 Mei 2017.

Gig Economy: Perlukah Perusahaan Was-was?

Secara demografis, millennials memiliki persentase terbesar di dunia kerja dan diprediksi mencapai 75% pada tahun 2025. Yang mencengangkan adalah saat ini lebih dari sepertiga millennials di seluruh dunia merupakan freelancers, yang juga diprediksi akan terus meningkat.

Fulltime employment  adalah sifat pekerjaan yang diharapkan sebagian besar lulusan perguruan tinggi. Namun, itu dulu. Saat ini, hal itu mulai terkikis arus deras Gig Economy. Istilah tersebut mungkin  jarang terdengar di telinga kita. Namun, Anda pasti sudah merasakan kehadirannya. Sebut saja Uber dan GO-JEK. Keduanya pasti sudah tak asing lagi bukan?

Apa itu Gig Economy?

Di dalam konteks Gig Economy, pekerjaan paruh waktu atau freelance job menjadi hal yang biasa dilakukan. Perusahaan cenderung lebih mempekerjakan tenaga kerja independen untuk jangka waktu yang pendek ketimbang menjadikannya karyawan tetap.

Fleksibilitas waktu dan efisiensi biaya menjadi alasan utama berkembangnya fenomena ini. Tren pekerja yang gonta-ganti pekerjaan selama masa produktif juga diyakini sebagai cikal bakal dari evolusi Gig Economy.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi juga memberi efek yang signifikan terhadap perilaku manusia di dunia kerja, terutama pada preferensi ruang dan waktu. Jika dahulu seorang karyawan harus pergi ke kantor untuk bekerja, namun era dunia digital sekarang ini, kita bisa bekerja darimana saja dan kapan pun. Efek ini yang dimanfaatkan oleh freelancer untuk mengembangkan karir dengan laju yang lebih cepat dari rule of thumb-nya.

Bila mendengar kata Uber atau GO-JEK, yang teringat adalah teknologi aplikas digital yang simple and useful. Namun, di balik aplikasi tersebut, terdapat freelance drivers yang bekerja berdasarkan kemauan dan kebutuhan pribadi. Di luaran sana, masih banyak aplikasi atau marketplace untuk memasarkan jasa profesional tenaga kerja yang sifatnya paruh waktu. Bukan tidak mungkin, di masa yang tak lama lagi,akan ada  platform sejenis yang konsumen utamanya adalah perusahaan.

Perkembangan Gig Economy di dunia

Penelitian EY menyebutkan, 40% perusahaan akan meningkatkan kebutuhan pekerja paruh waktu dalam lima tahun mendatang, 55% dari jumlah perusahaan itu melihatnya sebagai upaya menekan biaya tenaga kerja.

Sebuah studi Intuit Inc. memprediksi pada tahun 2020 tidak kurang dari 40% pekerja Amerika adalah kontraktor individual. Hal ini juga diperkuat dengan laporan dari Spera.io, sebuah platform yang menyediakan segala layanan untuk kantor digital. Mereka memprediksi bahwa setidaknya 50% pekerja Amerika dan Inggris akan ikut menjadi bagian dalam Gig Economy pada 2020.

Lebih jauh lagi, studi ini juga mempelajari tentang keberadaan kaum millennials. Secara demografis, millennials memiliki persentase terbesar di dunia kerja dan diprediksi mencapai 75% pada tahun 2025. Yang mencengangkan adalah saat ini lebih dari sepertiga millennials di seluruh dunia merupakan freelancers, yang juga diprediksi akan terus meningkat.

Sejatinya perusahaan bisa mengambil banyak keuntungan dari arus Gig Economy. Utamanya Ini lantaran perusahaan hanya mempekerjakan karyawan berdasarkan proyek atau kebutuhan sehingga overhead cost benar-benar terjaga dan tepat sasaran. Biaya untuk benefit atau tunjangan lain bagi karyawan (tetap) juga bisa ‘disimpan’, termasuk biaya pengembangan dan pelatihan yang bukan lagi menjadi tanggung jawab perusahaan.

Lalu pertanyaan lain muncul: apakah fenomena ini akan selalu menguntungan atau malah bisa memberikan efek bumerang bagi perusahaan? Bisa ya, bisa tidak. Ini akan sangat tergantung pada kelincahan perusahaan dalam membidik tenaga profesional yang diperlukan.

Risiko yang dimunculkan oleh Gig Economy juga tidak sedikit, contohnya dalam ranah yang berkaitan dengan kepatuhan terhadap hukum dan undang-undang ketenagakerjaan. Lagi-lagi regulasi kadang hadir terlambat dibanding adanya perubahan dinamis dan ‘sedikit’ mengancam.

Risiko lain yang cenderung akan muncul adalah kemungkinan bocornya kerahasiaan perusahaan, baik bentuknya pencurian langsung maupun dalam bentuk cyber crime. Kebocoran informasi sekecil apapun dampaknya bisa berujung pada kerugian perusahaan. Peran legal & compliance sangat kuat dibutuhkan, serta penerapan manajemen risiko menjadi sebuah keharusan.

Kalau ingin, atau terlanjur sudah menceburkan diri di Gig Economy, perusahaan harus memahami betul apa dan bagaimana karakteristiknya serta hal lain yang melekat. Kuncinya, perusahaan harus siap terhadap fakta perubahan. Bagaimana dengan perusahaan Anda? Apakah sudah siap?

Oleh: I Gede Christian Adiputra, M.M.Trainer & Consultant PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 02 Tahun VI, 13-19 Maret 2017 p. 82