Penataan Proses Bisnis

IMG mjl Business Review Jun-Jul 15Saat mendengar kata penataan, sebagian dari kita mungkin langsung teringat istilah tata letak ruangan dan teringat dengan penerapan konsep 5S, yang terdiri dari lima kata dalam bahasa Jepang, yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke.

Arti harfiah dari kelima kata tersebut secara berurutan adalah Pemilahan, Penataan, Pembersihan, Pemantapan, dan Pembiasaan, sehingga disingkat menjadi 5P, sebagai terjemahan dari 5S.

Ada juga yang menggunakan kata-kata terjemahan yang disebut sebagai 5R, yakni Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin, dengan urutan makna sama dengan 5P maupun 5S tadi. Di Malaysia, konsep ini diterjemahkan menjadi: Sisih, Susun, Sapu, Seragam, Senantiasa Amal (diamalkan/dijalankan), dengan urutan makna yang sama sedangkan di Amerika, 5S diterjemahkan menjadi 5C yang terdiri dari Clear, Configure, Clean, Conform, Custom.

Konsep ini didasari pemikiran bahwa bagaimana kita bersikap dan berperilaku, ditentukan oleh bagaimana kita menata lingkungan fisik tempat kita berada. Maksudnya, lingkungan yang bersih dan tertata baik, akan membantu kita dalam berpikir, bersikap dan berperilaku yang bersih dan sistematik.
Continue reading

Komunikasi Standar Pelayanan Publik Tertulis, Pentingkah?

turis di jabarSekitar tiga tahun lalu di stasiun televisi yang berpusat di luar negeri, ada acara bertema petualangan yang banyak digemari pemirsa, terutama kawula muda. Acara tersebut berisi tantangan kepada sekumpulan pemuda dari negara-negara maju, untuk adu cepat mencapai tempat di suatu kota di negara berkembang yang belum pernah mereka kunjungi.

Di salah satu episode, penulis sempat bangga karena di awal acara ditayangkan para peserta baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Para peserta yang berasal dari Inggris tersebut diberi tantangan untuk adu cepat mencapai suatu hotel di Lembang, Jawa Barat, dengan anggaran biaya yang relatif terbatas, untuk ukuran pelancong mancanegara.

Rasa bangga yang sempat terbersit perlahan sirna begitu melihat para peserta mulai kebingungan mencari petunjuk arah saat keluar dari lingkungan bandara. Ada yang begitu sampai di kota Jakarta langsung tersesat, ada yang berusaha bertanya dengan bahasa Inggris kepada pedagang di pinggir jalan, malah ditertawai karena yang ditanya tidak mengerti apa yang ditanyakan, bahkan ada yang tersesat di pusat perdagangan (mall) karena tidak menemukan denah lantai dan saat bertanya kepada satpam, dijawab dengan senyuman saja.
Continue reading

Tahun Baru, Proyek Baru

2015 new projectWarga keturunan Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia baru saja merayakan Hari Raya Imlek, yang merupakan awal dari tahun baru di penanggalan China. Bangsa Indonesia beruntung karena dalam setahun dapat merayakan beberapa “awal tahun baru”, yang terdiri dari Tahun Baru Masehi, Tahun Baru 1 Hijriyah, Tahun Baru Imlek, dan Tahun Baru Saka (yang ditandai dengan Hari Raya Nyepi).

Beruntung disini bisa berarti dapat menikmati libur “tambahan,” karena hari libur resmi yang jatuh pada hari Kamis atau Selasa biasanya disikapi dengan mengajukan cuti di hari “terjepit,” oleh para pegawai. Bagi para pedagang, keberuntungan juga diraih karena ada peningkatan yang signifikan dari penjualan berbagai kebutuhan barang dan jasa yang terkait dengan perayaan tahun baru tersebut.

Selain kedua jenis keberuntungan tersebut, jika kita termasuk orang yang senang memaknai setiap tahun baru dengan tekad atau resolusi untuk meraih pencapaian baru maka kita dapat memanfaatkan momentum “lembaran baru” tersebut dengan rencana baru, di bidang yang baru, dengan cara yang baru, untuk meraih sasaran yang baru. Ini juga suatu keberuntungan.
Continue reading

Pilih Mana, yang Ramai atau yang Sepi?

rumah makan tradSaat kita mengajak keluarga atau kolega untuk makan makanan tradisional, kadang bukan hal yang mudah bagi kita untuk menyepakati tempat makan yang akan dikunjungi, apalagi kalau kebetulan kita belum memiliki pengalaman menikmati jajanan di daerah yang didatangi.

Pertanyaannya sederhana, “Tempat makan yang seperti apa yang sebaiknya kita datangi?” Sebagian besar orang yang penulis tanyakan umumnya menjawab “Yang ramai,” namun ada juga yang menjawab “Yang sepi.” Mereka yang memilih tempat makan tradisional yang ramai umumnya berargumen, bahwa tempat makan yang ramai biasanya makanannya enak dan (mungkin) murah.

Penjelasan atas jawaban tersebut cukup masuk akal, namun menarik juga menyimak penjelasan jawaban yang satunya. Mereka yang memilih tempat makan tradisional yang sepi umumnya berpendapat bahwa, di tempat makan yang ramai, ada kemungkinan pelayannya tidak ramah, karena umumnya pelayannya sudah lelah melayani keinginan pelanggan yang sangat bervariasi, apalagi saat melihat kita datang.
Continue reading