Teaser Advertising & Buzz Marketing

Ketika film Transformers diputar di bioskop, para penonton dikejutkan oleh sebuah trailer film yang misterius. Trailer berdurasi pendek tersebut melukiskan seolah-olah seorang amatir yang menggunakan handycam menangkap serangan besar yang terjadi di kota New York. Tidak jelas serangan apa namun menyebabkan patung Liberty hancur.

Tidak ada judul, tidak ada keterangan bahkan tidak jelas maksud dari klip tersebut. Namun, hal itu cukup membuat klip tersebut menjadi bahan pembicaraan dari para penonton. Pembicaraan tersebut meluas dengan cepatnya. Beberapa hari kemudian barulah produser J.J Abrams mengumumkan bahwa klip tersebut merupakan trailer film Cloverfield.

Setelah itu banyak blog, website di internet yang membahas mengenai klip tersebut. Banyak pula yang meng-upload klip tersebut di situs-situs video seperti youtube. Spekulasi bermunculan di kalangan para pencinta film. Apakah film itu bercerita tentang serangan monster? Teroris?
Continue reading

Customer Loyalty Focus

James L. Schorr, salah satu direktur pada jaringan hotel Holiday Inns memperkenalkan konsep bucket marketing. Perusahaan bagaikan ember berisi air yang memiliki lubang di bawahnya. Semakin besar dan banyak lubang yang ada maka air yang keluar semakin banyak dan untuk menjaga agar ember tersebut tetap terisi maka makin banyak pula air yang harus dituangkan ke dalam ember tersebut.

Perusahaan bagaikan ember yang harus diisi dengan keuntungan yang bagaikan air. Air yang keluar dari lubang di ember tersebut menggambarkan konsumen yang pergi karena tidak puas. Semakin banyak konsumen yang pergi, perusahaan akan semakin kosong dan semakin keras pula perusahaan harus mencari penggantinya. Semakin erat relasi perusahaan dengan konsumen, maka konsumen makin setia (loyal) dan perusahaan akan semakin diuntungkan dari relasi yang panjang tersebut.

Dalam implementasi relationship marketing, hal itu sangat relevan karena biaya untuk melakukan akusisi konsumen terjadi pada awal relasi, jadi semakin lama relasi itu maka biaya terhadap konsumen tersebut semakin rendah.
Continue reading

Marketing Performance dan Profitability Metrics

Banyak perusahaan lebih fokus pada mengakusisi konsumen baru (mendapatkan konsumen baru) dibandingkan dengan menjaga konsumen yang lama agar tetap loyal. Padahal telah disebutkan di bab sebelumnya bahwa konsumen yang loyal jauh lebih memberi keuntungan dibandingkan dengan konsumen yang baru.

Hal ini disebabkan oleh karena biaya yang dikeluarkan untuk menjaga loyalitas itu terjadi di muka sedangkan keuntungan terjadi di belakang. Dengan menggunakan financial metrics, maka biaya utuk menjaga loyalitas tersebut menyebabkan biaya keseluruhan menjadi besar padahal keuntungan yang akan muncul dari loyalitas itu baru muncul belakangan sehingga belum muncul dalam pencatatan menggunakan financial metrics biasa.

Oleh karena itu, diperlukan suatu alat ukur (metrics) tambahan untuk mengukur efektifitas relationship marketing ini. Financial metrics seperti return on assets, percentage of sales, cost of good sold tidak cukup untuk memerlihatkan kinerja organisasi dari sisi pemasaran sehingga diperlukan marketing metrics yang akan bekerja secara pararel untuk melengkapi financial performance yang sudah ada.
Continue reading

Market Potential, Market Demand & Market Share

Organisasi memiliki berbagai pilihan strategi pemasaran, seperti market growth strategy, Market Share Strategy,  Customer revenue strategy, Cost Reduction Strategy, Advertising Strategy dan Channel Strategy. Namun strategi apa pun yang dimiliki  organisasi, tidak aka nada artinya jika potensi pasar (market potential) tidak ada.

Oleh karena itu, para pengambil keputusan dalam organisasi perlu menganalisa dulu potensi pasar yang ada. Sebelumnya organisasi perlu terlebih dahulu mendifinisikan pasar yang akan ditujunya, dengan mendefinisikan apakah organisasi tersebut akan akan mendefinisikan pasar secara luas atau terbatas. Tanpa mendefinisikan pasar apa yang akan dituju, akan sulit bagi perusahaan untuk mengukur market potential, market demand dan market share.
Continue reading

Customer Value Creation

Konsumen pada dasarnya tidak membeli produk melainkan membeli nilai (value). Untuk dapat meningkatkan market share, dan menggali potensi pasar secara maksimal, manajemen perlu mengenal dengan baik konsumen dan menciptakan nilai (value) yang pas untuk konsumen tersebut.

Agar produk yang ditawarkan ke konsumen dapat memiliki value yang optimum, produk dapat dibangun berdasarkan kebutuhan dari konsumen. Untuk itu manajemen perlu mengetahui dan mengenal dengan baik konsumennya yang bisa dimulai dari mengamati lead users–pengguna yang memeiliki pengatuan dan ketrampilan yang tinggi terhadap produk.

Dengan demikian, inovasi tidak lagi product based, tetapi menjadi market based. Pendekatan market based innovation ini membuat proses inovasi menjadi terbalik, tidak dimulai dari eksperimen produk dahulu melainkan dimulai dari mendengarkan dahulu apa yang menjadi kebutuhan konsumen sehingga sering juga disebut dengan reverse innovation.
Continue reading

Strategi Segmentasi Pasar Untuk Relationship Marketing

Dengan profil konsumen yang berbeda, berbeda pula kebutuhan dan keinginan yang mereka miliki. Kondisi ini menyulitkan organisasi untuk melakukan mass marketing sehingga lebih banyak organisasi menerapkan targeted marketing. Selain itu, targeted marketing memungkinkan perusahaan untuk melakukan efisiensi sumber daya yang ada.

Dasar dari targeted marketing  ini adalah melakukan pembagian pasar berdasarkan kelompok-kelompok yang memiliki kesamaan, atau yang dikenal juga dengan kegiatan segmentasi.  Segmentasi pada dasarnya adalah proses membagi pasar konsumen menjadi beberapa bagian.

Organisasi yang berorientasi pada pasar (market based business) harus dapat menciptakan nilai berdasarkan preferensi dari konsumennya. Namun dengan keanekaragaman kebutuhan di konsumen, segmentasi pasar yang efektif menjadi kunci bagi keberhasilan strategi relationship marketing dan market based marketing.
Continue reading

Social Business Model

Setelah mengikuti reality show Amazing Race  musim kedua, Blake Mycoskie bersama adik perempuanya mengunjungi Argentina di tahun 2006. Di negara yang berada di ujung selatan benua Amerika ini dia melihat banyak anak-anak kecil yang tidak memiliki sepatu karena kemiskinan.

Melihat kenyataan itu, Blake Mycoskie mendirikan perusahaan sepatu yang diberi nama Toms Shoes yang merupakan singkatan dari Shoes for Tommorow. Berbeda dengan bisnis kebanyakan yang mengutamakan keuntungan, Toms Shoes tidak mengambil keuntungan dari dari penjualan produknya.

Setiap pasang sepatu yang terjual, sepasang sepatu akan diberikan kepada anak miskin yang membutuhkannya. Sampai 2010, sudah kurang lebih satu juta pasang sepatu didonasikan kepada anak-anak miskin di Argentina dan Amerika.
Continue reading