Keluhan: Pembunuh Produktivitas

Pernahkah Anda mengeluh? Kemungkinan besar kita pasti pernah mengeluh. Keluhan bisa saja tentang sikap atasan yang tidak menyenangkan, kebijakan organisasi yang merugikan karyawan, perilaku klien yang menyebalkan, partner kerja yang tidak kolaboratif, sifat buruk pasangan, atau bahkan mengenai kebobrokan mental bangsa.

Sering kita berkelit bahwa kita tidak mengeluh, tetapi mengekspresikan perasaan atau menyalurkan ‘unek-unek’. Bukankah mengungkapkan apa yang kita rasakan lebih baik daripada memendam rasa dan akhirnya menjadi penyakit? Nah, ini perlu diwaspadai. Ada perbedaan yang tipis antara mengungkapkan perasaan dengan tujuan mencari solusi atau yang sekedar mencari ventilasi emosi semata.
Continue reading

Pemberdayaan Psikologis

Pernahkah Anda menemukan kasus seorang karyawan telah diberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan namun kompetensi dan kinerjanya tak kunjung meningkat?

Seringkali kita menganggap bahwa agar karyawan menjadi kompeten dalam bekerja, maka hal yang dapat dilakukan adalah memberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan. Tentu saja hal tersebut sangatlah tepat, namun ada juga hal lain yang tidak boleh luput diberikan kepada karyawan agar mereka menjadi insan yang kompeten dan berkontribusi bagi pencapaian organisasi.

Kita sama-sama meyakini bahwa kinerja seseorang salah satunya ditentukan oleh faktor internal, yaitu kemauan dan kemampuan individu. Kemauan merupakan hal penting yang melandasi munculnya kinerja. Tanpa adanya kemauan, maka sebaik apa pun kemampuan tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Kemauan adalah sebuah motivasi, dorongan untuk melakukan sesuatu.
Continue reading

Pemimpin Resonan VS Disonan

Bagi Anda pencinta Harry Potter tentu saja tidak asing dengan tokoh Dementor. Dementor merupakan sosok mengerikan, sejenis makhluk yang digambarkan setinggi manusia dewasa, tanpa mata, bertudung, dan yang terlihat hanya tangannya berwarna hijau menyeramkan.

Dementor menghisap segala kenangan kegembiraan dan kebahagiaan seseorang hingga tinggal menyisakan segala kesedihan dan ketakutan di kepala orang tersebut. Kehadiran Dementor adalah sebuah mimpi buruk.

Sosok Dementor adalah sebuah gambaran ekstrem bagi pemimpin disonan (dissonant leader), yang dipaparkan oleh Goleman, Boyatzis, & McKee dalam buku berjudul Primal Leadership. Kehadiran pemimpin yang disonan membuat suasana kerja seperti mimpi buruk, penuh dengan kekacauan, namun ia sendiri tidak menyadari atau tidak peduli seberapa besar kekacauan yang ditimbulkannya. Di sisi lain, seorang pemimpin resonan (resonant leader) adalah pemimpin yang kehadirannya begitu didambakan.

Apa yang menyebabkan seseorang dapat dikategorikan menjadi pemimpin disonan atau resonan?
Continue reading

The Silent Epidemic: Workplace Bullying

Akhir-akhir ini banyak beredar secara viral mengenai  tindakan bullying atau perisakan di sekolah-sekolah yang dilakukan oleh para pelajar. Kita sama-sama setuju bahwa tindakan perisakan sangatlah biadab, tidak dibenarkan dan sangat membahayakan kesehatan fisik serta mental anak-anak. Banyak dari kita yang mungkin berpikir bahwa perisakan hanya terjadi di masa kanak-kanak atau remaja, begitu memasuki masa dewasa atau saat bekerja, maka hal tersebut akan berangsur sirna. Apakah memang demikian? Apakah di tempat kerja tidak ada sama sekali perisakan?

Beberapa survei yang dilakukan di Amerika menunjukkan angka perisakan yang cukup tinggi di kalangan para pekerja, dan angka ini terus mengalami peningkatan. Hal ini menjadi bukti bahwa perisakan tidak dimonopoli oleh para pelajar saja, tapi juga dapat terjadi di dunia kerja. Yang dimaksud dengan perisakan di tempat kerja (workplace bullying) adalah perlakuan tidak etis dan tidak menyenangkan dari orang lain yang terjadi berulang kali di tempat kerja. Sebuah tindakan agresif dan tidak rasional yang dilakukan oleh individu atau organisasi terhadap seseorang secara terus menerus.
Continue reading

Menangani Karyawan Narsistis

Narsis. Kata ini mungkin sering kita gunakan atau dengar, apalagi sejak merebaknya media sosial (medsos). Kita sering menggunakan kata ini untuk menggambarkan orang yang gemar berswafoto, berfoto dalam setiap aktivitas yang dilakukannya, dan kerap mengunggah foto-foto diri di media sosial.

Akan tetapi, apakah pengertian narsis hanya seperti itu? Sebenarnya, apa arti narsis? Apakah sikap narsis ini dapat berpengaruh dalam pekerjaan individu yang bersangkutan? Bagaimana menanganinya?

Istilah narsis ini pertama kali digunakan oleh tokoh psikoanalis Sigmund Freud yang diambil dari salah satu tokoh mitologi Yunani, yaitu Narcissus. Narcissus adalah seseorang yang tampan, sombong, dan sangat mencintai dirinya sendiri.

Continue reading

Introver VS Ekstrover

Ada paradigma keliru di masyarakat, ekstrover dinilai lebih baik ketimbang introver. Orang yang introver dianggap sebagai pemalu, menarik diri dari pergaulan, tidak mampu mengungkapkan pendapat, bahkan tak jarang dilabeli fobia sosial. Orang yang ekstrover lebih disukai dan populer.

Sejak kecil, orang tua memotivasi anaknya untuk “keluar dari tempurung”, menjadi “anak gaul”, menjadi kriteria remaja yang diidolakan, dan saat melamar pekerjaan pun disyaratkan mampu bekerja dalam kelompok. Betapa dunia membuat para ekstrover makin berkilau, sedangkan para introver makin terpuruk.

Orang introver bak si itik buruk rupa, dianggap berbeda dari kebanyakan dan tidak diharapkan oleh lingkungan. Hal ini yang mendorong banyak orang berpura-pura tampil sebagai seorang yang ekstrover, karena tidak mau dianggap aneh, adanya kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, dan tidak ingin dikucilkan dari masyarakat. Padahal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sepertiga hingga separuh dari populasi dunia terdiri dari orang introver.

Di dunia kerja, mungkin kita sering melihat orang-orang esktrover aktif mengutarakan pendapat saat rapat dan mendominasi diskusi, sehingga sering didaulat sebagai pemimpin. Mereka dikenal banyak orang lintas departemen, luwes, dan mudah bergaul, sehingga tidak mengherankan mereka menjadi cukup populer.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang introver? Apakah memang mereka tidak mampu menampilkan kinerja optimal? Apakah memang dunia kerja hanya didesain untuk orang ekstrover? Apakah seorang introver tidak akan mampu menjadi pemimpin yang andal?

Introver bukanlah sebuah kondisi tidak sehat mental.

Introver dan ekstrover merupakan tipe kepribadian individu yang dipopulerkan oleh Carl Gustav Jung, seorang psikiater dan psikoanalis dari Swiss. Tipe kepribadian ini akan memengaruhi bagaimana seseorang bekerja, menjalani kehidupannya, dan berinteraksi dengan orang lain.

Seorang ekstrover tampil sebagai individu yang luwes, spontan, banyak bicara, dan enerjik. Para ekstrover mendapatkan energi dari keberadaannya di antara banyak orang. Mereka senang berinteraksi dan berkumpul dengan banyak orang, serta berani mengutarakan ide atau pendapat. Mereka mudah memulai pembicaraan, tidak sungkan menceritakan tentang hari mereka pada orang lain yang bahkan mungkin baru mereka kenal, dan cenderung mendominasi percakapan.

Di sisi lain, seorang introver tidak menyukai suasana ramai atau berada di tengah keramaian, mereka merasa “hidup” dalam situasi yang tenang. Para introver cenderung untuk menyendiri, berpikir sebelum berbicara atau bertindak, dan membangun relasi yang sifatnya lebih personal. Berada di tengah keramaian justru seperti menyedot energi mereka, mereka memerlukan waktu sendiri di tengah kesunyian untuk me-recharge diri dan untuk fokus pada apa yang mereka kerjakan.

Dalam percakapan, introver lebih senang mendengarkan orang lain dibanding menceritakan tentang diri mereka. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk menemukan bahan perbincangan. Introver tidaklah sama dengan sifat pemalu. Pemalu lebih pada sebuah ketakutan pada diri seseorang atas penilaian sosial dan adanya asumsi pribadi bahwa orang-orang cenderung menilainya negatif. Beberapa orang introver mungkin saja pemalu, namun beberapa orang lainnya tidak.

Orang introver juga bukan orang yang tidak mau berinteraksi dan menarik diri dari pergaulan. Seorang introver tetap berkenan menghadiri sebuah pesta, bercakap-cakap dengan banyak orang, namun selepas itu ia memerlukan waktu sendirian untuk mengembalikan energinya yang terkuras setelah bertemu dengan banyak orang. Intinya, ekstrover dan introver menghimpun energi dan menemukan kesenangan dalam cara yang berbeda.

Eksperimen yang dilakukan oleh psikolog Russel Green menunjukkan, orang-orang ekstrover akan optimal dalam bekerja jika berada di lingkungan yang ramai, sedangkan orang-orang introver akan optimal dalam menyelesaikan tugasnya jika berada di lingkungan yang sunyi.

Adanya trait introver ataupun ekstrover pada diri seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor bawaan, sehingga tidaklah terlahir sebagai ekstrover lebih baik dibanding introver. Daripada bersusah payah membentuk seorang introver menjadi ekstrover –yang belum tentu berhasil- akan lebih baik memahami dunia introver, mencari tahu kebutuhan mereka, dan mengoptimalkan segenap potensi yang mereka miliki.

Menjadi introver bukanlah kutukan untuk tidak dikenal banyak orang. Beberapa tokoh terkenal di dunia dengan hasil karya yang inovatif dan imajinatif adalah orang-orang yang introver. Tengok saja cerita Harry Potter dari khayalan hebat JK Rowling, teori gravitasi dari Sir Isaac Newton, teori relativitas dari Albert Einstein dan sederet film-film yang akrab menjadi tontonan kita buah karya Steven Spielberg.

Tanpa para introver di dunia ini, kita tidak akan mengenal adanya komputer pribadi yang penemuannya diprakarsai oleh Steve Wozniack, yang juga merupakan pendiri Apple Computer. Kita juga tidak akan dengan mudah berselancar di dunia maya mencari berbagai informasi tanpa bantuan “mbah Google” yang diciptakan oleh Larry Page, terhubung dengan teman-teman di berbagai belahan dunia melalui Facebook buatan Mark Zuckerberg, dan menikmati kemudahan mengerjakan berbagai tugas menggunakan Microsoft hasil jerih payah Bill Gates.

Lalu, apakah seorang introver mampu menjadi pemimpin? Susan Cain dalam bukunya yang berjudul “Quiet: the power of introverts in a world that can’t stop talking” menyebut sederet nama pemimpin introver, seperti Eleanor Roosevelt, Mahatma Gandhi, Al Gore, Warren Buffett, dan Rosa Parks. Mereka mampu memengaruhi banyak orang, meski bukan merupakan the loudest voice in the room. Marissa Mayer, Hillary Clinton, Guy Kawasaki, Barack Obama juga membuktikan bahwa sebagai introver tidak mencegah mereka untuk mampu menjadi pemimpin yang mendunia.

Jadi buanglah jauh-jauh pemikiran bahwa orang introver tidak akan mampu menjadi pemimpin. Penelitian yang dilakukan oleh Fransesca Gino dari Harvard Business School menunjukkan bahwa para atasan yang introver ternyata lebih efektif dalam mengelola tim kerja yang proaktif dibanding atasan yang ekstrover.

Atasan introver akan senang mendengarkan usulan-usulan dari anak buahnya yang proaktif dan bersedia mengakomodir ide-ide mereka. Namun anak buah yang proaktif justru akan menjadi ancaman bagi para pemimpin ekstrover karena dominasi sang atasan dapat terkalahkan. Atasan ekstrover akan cenderung menyepelekan ide kreatif anak buahnya tersebut dan mengerdilkan semangat mereka. Atasan ekstrover lebih sesuai mengelola tim kerja yang membutuhkan banyak arahan, karena sang atasan dituntut untuk membangkitkan semangat, merumuskan visi, dan membuka jejaring.

Hal ini sejalan dengan konsep dominance complementary, yaitu kecenderungan kelompok untuk menjadi lebih kohesif dan efektif ketika terdapat keseimbangan antara anggota kelompok yang dominan dan submisif. Konsep ini juga dapat diterapkan dalam pembentukan tim kerja. Apabila tim kebanyakan terdiri orang-orang ekstrover akan terjadi konflik karena masing-masing akan mengedepankan ego mereka, sementara jika tim mayoritas terdiri dari para introver maka dinamika kelompok juga kurang terbentuk. Kombinasi yang proporsional akan menghasilkan tim yang efektif.

Hal yang menjadi tantangan adalah memahami perbedaan ekstrover dan introver dalam bekerja. Masing-masing memiliki preferensi yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Para ekstrover cenderung menangani pekerjaan mereka secara lebih cepat dan mampu mengambil keputusan dalam waktu singkat, namun adakalanya menjadi gegabah.

Mereka senang mengambil risiko dan menyukai pekerjaan yang bersifat multitasking. Kebalikannya, introver lebih membutuhkan waktu dalam menyelesaikan tugas dan cenderung berhati-hati. Mereka lebih menyukai fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu. Orang-orang introver juga lebih membutuhkan privasi dalam menyelesaikan pekerjaan dibanding ekstrover.

Sayangnya, banyak layout tempat kerja dewasa ini didesain untuk mengakomodir para ekstrover, misalnya open office plan. Disain seperti ini akan menjadi sumber tekanan bagi para introver karena terlalu banyak stimulus yang mengganggu mereka. Mereka harus mengerahkan tenaga ekstra untuk fokus dalam pekerjaan, sehingga dapat berdampak penyelesaian yang makin lama.

Kunci utama dalam mengelola para introver adalah memberikan mereka waktu untuk siap berkontribusi. Mereka membutuhkan waktu untuk mempersiapkan secara detil presentasi mereka, mereka perlu tau apa saja agenda rapat sehingga mereka dapat memformulasikan ide atau gagasan yang akan mereka sampaikan. Jangan paksa mereka melakukan improvisasi spontan.

Di lain sisi, orang-orang ekstrover perlu dilatih untuk lebih mau mendengarkan pendapat orang lain dan lebih terbuka pada sudut pandang anggota rapat yang cenderung diam. Tantang para ekstrover untuk dapat mengajak orang-orang yang lebih pasif untuk mau mengutarakan pendapatnya.

Dengan demikian, baik introver maupun ektrover sama-sama punya peluang untuk unggul dan menjadi pemimpin, karena pada dasarnya perbedaan mendasar dari mereka adalah pendekatan dalam bekerja dan proses sosial. Dengan memahami preferensi ini, maka kita akan lebih mengetahui karakter mereka dan menemukan cara yang tepat untuk mengoptimalkan potensi mereka, tanpa perlu menjadikan mereka “orang lain”.

Jika diperlakukan dengan tepat, maka sang introver pun dapat menjelma dari si itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik dan memesona.

Oleh: Maharsi AnindyajatiConsultant & Trainer, Executive Development Services | PPM Manajemen

Memahami Si Kutu Loncat Gen Y

Generasi Y atau juga dapat disebut sebagai generasi milenial, merupakan generasi yang lahir setelah generasi X dan menjelang milenium ketiga.  Dari berbagai literatur terdapat perbedaan mengenai tahun lahir generasi Y ini, akan tetapi kebanyakan literatur menetapkan bahwa generasi ini lahir antara tahun 1980 – 2000.

Kelompok Gen Y di setiap negara pada dasarnya memiliki karakteristik yang berbeda, tergantung kondisi sosial ekonomi, politik, budaya, dan latar belakang sejarah di negara tempat ia dibesarkan. Akan tetapi karena globalisasi, evolusi teknologi, perkembangan media sosial, westernisasi,  dan cepatnya perubahan terjadi, maka kelompok Gen Y secara universal lebih memiliki kemiripan antara satu dengan lainnya, dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya (Stein, 2013; Zemke, Raines, & Filipczak, 2013).

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Erickson & Bevins (2011) di delapan negara, yaitu Amerika, Brazil, China, India, Inggris, Jerman, Rusia, dan Saudi Arabia, terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh Gen Y di kedelapan negara tersebut. Satu karakteristik yang selalu muncul pada tiap Gen Y di semua negara yang diteliti adalah digital native. Istilah digital native diperkenalkan pada tahun 2001 oleh Marc Prensky, seorang ahli pendidikan Amerika. Digital native merupakan gambaran seseorang yang sejak kelahirannya telah terpapar gencarnya perkembangan teknologi, seperti perkembangan komputer, internet, video games, telpon seluler, dan sebagainya yang terkait dengan teknologi. Tidak dipungkiri karena GenY ini adalah generasi pertama yang lahir dan tumbuh di era digital. Zemke, Raines & Filipczak (2013) menyatakan bahwa dua pertiga dari Gen Y telah menggunakan komputer sebelum mereka berusia 5 (lima) tahun.

Continue reading