WhatsApp dan Work-Life Balance

wa kerjaAdli menumpahkan kekesalannya saat istirahat makan siang bersama rekan kerjanya. Betapa tidak, ia merasa bahwa bosnya membuat hidupnya seolah-olah hanya untuk kerja dengan adanya WhatsApp.

“Males nih terima WhatsApp dari bos, apa-apa yang diomongin soal kerjaan. Emangnya hidup  cuma buat kerjaan kantor doang!” ujarnya ketus.

“Kan kerjanya bukan di kepolisian, atau bagian penanggulangan bencana yang emang butuh penanganan segera. Kenapa gak bisa sih nunggu besok atau pas waktu kerja. Emangnya kalo gak dikerjain saat itu juga perusahaan bakal kolaps apa? terus banyak pekerja yang bakalan mati?” lanjutnya masih dengan ketus.

Adli geram karena smartphone pribadinya sekarang menjadi alat kerja. Pulsa yang dia beli pun tidak diganti oleh kantor. Namun, bukan masalah materi itu saja yang mengganggunya, waktunya bersama keluarga dan teman di hari libur pun dirusak oleh pesan dari bos untuk melakukan kerja, tanpa ada hitungan lembur atau extra time. Yang paling menyebalkan, bahkan di waktu cuti dan sakit pun bosnya masih saja mengirimkan pesan urusan pekerjaan kantor untuk dikerjakannya.

Lalu bagaimana hidup dan kerja bisa nyaman, yang akan berdampak baik pada kinerja, kalau keadaannya seperti itu?
Continue reading

Kiat Meraih Posisi Idaman Lewat Office Politics

office-politicsKetua MPR RI  Zulkifli Hasan dalam pertemuan alumni di sebuah perguruan tinggi manajemen di Jakarta memaparkan kiatnya hingga ia bisa mendapatkan jabatannya tersebut.

Dengan gayanya yang ringan, Zulkifli menceritakan bagaimana ia mempengaruhi anggota DPR maupun DPD agar memberikan dukungannya. Bukan hanya dari kubu pendukung, tapi juga dari kubu seberang, yang secara personal memiliki hubungan baik dengan dirinya dan punya pengaruh terhadap para anggota lainnya.

Hubungan personal dan lobi yang baik dalam politik itulah yang akhirnya berhasil mengantarkannya menjadi ketua MPR. Hal itu juga tampaknya diterapkan pada pemilihan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang akhirnya pun ia duduki.

Pencapaian posisi yang diharapkan dalam kancah politik, dapat juga diterapkan dalam perusahaan atau lingkungan sosial. Ambil contoh saja kisah Dewi Fitria. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai service representative, Dewi memperoleh kesempatan yang lebih besar di perusahaannya dengan mendapat promosi sebagai account executive.
Continue reading

10 Pedoman Praktis Pendelegasian Kerja

delegationHandoko adalah seorang manajer baru yang ‘super’ sibuk. Walaupun terlihat bersemangat, ia tampak kewalahan dalam melaksanakan pekerjaannya di posisinya yang baru. Meski mempunyai beberapa bawahan yang tampaknya dapat diandalkan, namun ia melakukan tumpukan pekerjaannya sendiri.

Sebenarnya Handoko dapat ‘melimpahkan’ sebagian pekerjaan pada bawahannya. Namun hal itu tidak dilakukannya. Ia lebih suka melakukannya sendiri dan enggan melakukan delegasi. Handoko telah terkena ‘do it yourself’ syndrome atau sindrom ‘kerjakan sendiri’ yang biasa menjangkiti para atasan lainnya.

Sindrom ini dapat ditandai pada mereka yang beralasan “Saya bisa melakukannya lebih baik ketimbang orang lain dan saya senang mengerjakannya,” “Para bawahan tidak mampu atau terlalu sibuk untuk melakukan pekerjaan lebih dan mengeluh jika diberi tambahan pekerjaan,” ”Saya tak ingin atasan berpikir bahwa saya malas karena melimpahkan pekerjaan pada bawahan dan tetap ingin terlihat sibuk,” “Saya tak ingin kehilangan kendali,” hingga “Saya tak punya waktu untuk melakukan delegasi.”
Continue reading

Teknik Pembuatan Keputusan Tim yang Efektif

Img ANK keputusan tim efektif

Jika anda pernah bekerja dalam sebuah kelompok atau tim, baik tim kerja di kantor atau kepanitiaan tertentu, anda tentunya tahu betapa sulitnya menjalani proses pembuatan keputusan. Bila keputusan bisa dibuat seorang diri mungkin prosesnya relatif sederhana. Namun bila keputusan harus dibuat bersama orang lain atau dalam kelompok, masalah jadi jauh berbeda. Berapa banyak pertikaian terjadi dalam kelompok atau tim karena pembuatan keputusan di lingkungan kita, anda bisa melihat, bahkan mengalaminya.

Di masa lampau, yang disebut manajer efektif adalah manajer yang mengetahui segala hal, tegas, dan membuat keputusan sendiri untuk dilaksanakan para bawahannya. Saat ini dan di masa datang, manajer adalah anggota tim yang menyatukan berbagai keahlian dan pengetahuan untuk menemukan solusi beragam masalah.

Untuk membuat keputusan tim, baik manajer maupun karyawan harus mempelajari dan mengembangkan berbagai gagasan dan teknik baru. Hal yang harus dipahami bersama oleh para anggota tim adalah “konsensus,” yakni “Tim bisa menerima X sebagai solusi suatu permasalahan dan semua anggota tim setuju untuk melakukan apa saja sesuai yang disyaratkan X.”

Untuk mendapatkan konsensus dalam tim, usahakan:
Continue reading

3 Kiat Pertahankan Karyawan Unggul

3 kiat mempertahankan karyawan
Pernahkan anda mengalami kehilangan karyawan yang kompeten dan dapat diandalkan di perusahaan? Mereka sudah cukup lama bekerja, mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan diri, membangun jejaring yang baik dengan mitra dan pelanggan, namun tanpa diduga mengundurkan diri karena mendapatkan tawaran dari perusahaan lain. Sungguh suatu kehilangan yang besar bagi perusahaan, bukan?

Mengapa hal itu terjadi? Apakah selama ini gaji yang diberikan oleh perusahaan dirasa tidak cukup bagi para karyawannya? Atau ada faktor-faktor lain yang tidak terungkap atau diketahui oleh perusahaan sehingga mereka meninggalkan perusahaan?
Continue reading