Karier Horizontal

“Tumbuh itu ke atas, bukan ke samping!” Itulah lelucon yang biasa ditujukan bagi orang yang  bertambah gemuk akibat gagal diet. Tubuhnya membesar, tetapi tidak bertambah tinggi. Pemikiran bahwa tumbuh itu harus ke atas, juga berlaku dalam  dunia karier.

Siapa pun yang masuk ke dunia kerja selalu memimpikan kedudukan tertinggi.  Pertama kali masuk kerja, secara alami seseorang menjadi pelaksana terlebih dahulu.

Kalau dia berprestasi, dia akan menjadi supervisor, kepala regu, atau kepala shift. Kalau prestasinya moncer, dia akan menjadi manajer, kemudian menjadi manajer umum, direktur, bahkan direktur utama. Begitulah perjalanan karier wajar yang ada dalam benak kita semua.

Lalu, apa yang mesti Anda lakukan ketika peluang karier ke atas tidak ada?

Continue reading

Corporate University Bukanlah Universitas

 

hamburger_universityKetika mengunjungi sebuah kampus corporate university  milik sebuah BUMN, saya teringat tulisan Martijn Rademaker dalam buku Corporate University: Drivers of the learning organization, “Keadaan terburuk pengembangan corporate university  adalah sekedar menjadi badan pendidikan dan pelatihan dengan nama yang megah”. Saya prihatin menyaksikan suasana kampus itu: sepi, gedung kelas tua dan kusam, penginapan peserta yang kotor dan kurang terawat.

Menurut petugas yang saya temui, aktivitas di fasilitas tersebut mulai ramai pada bulan September sampai awal Desember ketika peserta pelatihan berdatangan dari berbagai cabang di seluruh Indonesia. Di luar itu, keadaan sepi. Bahkan ruang kelas dan fasilitas yang ada disewakan kepada para penyelanggara pelatihan lain. Saya mendatangi tempat itu memang untuk menyewa ruang kelas dan penginapan bagi peserta pelatihan.
Continue reading

Keras vs Lembut Dalam Hubungan Industrial

Demo-BuruhKetika demontrasi buruh yang anarkis marak di Jabodetabek, sebuah pabrik di kawasan industri Cibitung tetap beroperasi normal. Bahkan pekerja yang seharusnya masukdi shift malam, datang ke pabrik pagi itu. Bukan untuk bekerja, tetapi menjaga pabrik dari para demonstran yang beberapa hari sebelumnya menebar ancaman akan menghentikan paksa pabrik-pabrik yang tetap bekerja pada pada hari demo besar-besaran itu.

Ketika seorang pekerja ditanya mengapa bersedia menjaga pabrik dari ancaman para pendemo, dia menjawab: “pemilik dan semua manajer di sini orang baik. Tidak ada yang boleh menggangu mereka.” Ketika diminta mencontohkan kebaikan yang dimaksud, dia mengungkapkan: “Setiap diundang oleh karyawannya yang melakukan hajatan, apapun posisi karyawan itu, sejauh apapun dan dalam keadaan apapun, pemilik dan manajer akan hadir. Kalau ada yang kesusahan, para petinggi perusahaan ini akan memberi bantuan. Kami adalah keluarga.” Continue reading

Bandara I Gusti Ngurah Rai: Memelopori Airport Retail

bali airport retailWisatawan mancanegara itu sedikit terkejut ketika dua gadis berkebaya merah tiba-tiba menghampirinya. “Welcome to Bali,” ucap kedua gadis dengan senyum lebar. Salah seorang menyelipkan bunga kamboja di atas telinga wisatawan itu.

Serta-merta turis asing itu tertawa. “Thank you. Its surprises me”. Ia juga sempat menangkap tulisan besar di layar “I am in Bali” dilatari penari Bali. Serombongan penumpang pesawat yang mengikutinya memasuki terminal internasional I Gusti Ngurah Rai itu pun bertepuk tangan diiringi derai tawa. Penyambutan belum selesai, di depan mereka ada tari Serimpi diiringi suara gamelan.

Kemeriahan yang terjadi pada tanggal 19 September 2013 sungguh istimewa. Hari itu, untuk pertama kalinya terminal internasional bandara I Gusti Ngurah Rai, yang sekarang dikenal sebagai Bali Airport, beroperasi menggunakan konsep baru.

Bandara bukan lagi tempat yang menjemukan bagi penumpang yang turun dari atau menunggu pesawat. Area itu telah disulap menjadi tempat belanja, bersantap, dan bersantai. Kita bisa menemukan toko menjual parfum mewah, pakaian mewah, wine and spirit, serta tobacco, gift, dan restoran. Bahkan kita juga bisa menikmati spa serta lounge dan pertunjukan seni di sana.
Continue reading

Publikasi CEO Mewakili Perusahaan

buku jonanCEO bukanlah selebriti atau politikus yang membutuhkan publikasi besar-besaran. Mereka pun tidak memerlukan dukungan publik secara langsung untuk terpilih menjadi CEO. CEO juga tidak perlu memasarkan diri ke masyarakat luas untuk membuat produk atau jasa perusahaannya laris manis. Tetapi, seorang CEO tetap membutuhkan publikasi, karena CEO adalah wakil perusahaan.

Ada banyak pilihan untuk mempublikasikan diri. Cara paling murah adalah dengan menulis di blog. Di blog pemimpin perusahaan dapat menuangkan pemikiran, gagasan, pandangan, pengalaman, baik mengenai dunia kerjanya maupun di luar itu. Dengan menulis blog, CEO berkomunikasi dengan orang-orang yang dipimpinnya, maupun dengan masyarakat luas.
Continue reading