Tiga Fokus Chief Human Capital Officer saat Pandemi Covid-19

Berbeda dengan perlambatan ekonomi tahun 1998 dan 2008, chief financial officer (CFO) adalah pemain kuncinya. Aksi “bos” lain seakan tertutupi. Hidup mati perusahaan bak berada di tangan CFO. Jika CFO-nya hebat, perusahaan eksis. Jika salah langkah, perusahaan tinggal sejarah.

Namun sekarang, pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian benar-benar di luar prediksi. Perusahaan tidak siap. Karyawan juga tidak siap. Tidak ada warning. Semuanya terjadi begitu cepat.

Mendadak karyawan harus Work From Home (WFH). Di tengah kegagapan menggunakan teknologi teleconference, anak-anak mereka yang School From Home (SFH) juga merengek di ujung kaki mereka.

Pada kondisi ini, peran CHCO menjadi sangat kritis. Setidaknya ada tiga hal yang harus menjadi fokus mereka.
Continue reading

Indonesia dan Krisis Kepemimpinan

lone leaderHasil penelitian terkini dari lembaga konsultansi Right Management, menunjukkan bahwa terlalu sedikitnya jumlah high potential leaders untuk mengisi posisi penting di perusahaan menjadi salah satu keprihatinan dari para top executive.

Dari total 2.200 pemimpin bisnis di 13 negara dan 24 industri yang menjadi sampel, hanya 13 persen yang merasa bahwa Program Pengembangan Kepemimpinan yang mereka lakukan akan menghasilkan pemimpin yang dibutuhkan perusahaan di masa depan.

Apakah kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia? Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi yang kita alami tidak jauh berbeda. Walaupun perusahaan sudah melakukan program pengembangan secara internal, namun tetap saja top management merasa bahwa program pengembangan yang mereka lakukan belum berhasil menciptakan profil pemimpin sebagaimana yang mereka harapkan.
Continue reading

Memimpin Dengan Bertanya

leader ask“The leader of the past was a person who knew how to tell.
The leader of the future will be a person who knows how to ask.”
(Peter Drucker, 1993)

Siapa yang tidak kenal Peter Drucker? Almarhum adalah penulis, professor, dan konsultan manajemen kenamaan dunia. Pria yang pernah dinobatkan oleh BusinessWeek sebagai “Bapak Manajemen Modern” ini melalui ratusan tulisan ilmiah dan artikelnya pernah memprediksi perubahan besar yang terjadi di abad 20, seperti privatisasi dan desentralisasi, kebangkitan Jepang sebagai kekuatan ekonomi dunia, semakin pentingnya peran marketing dan inovasi, meningkatnya kebutuhan masyarakat akan informasi untuk kepentingan pembelajaran, dan bertumbuhnya knowledge worker.

Selain itu, satu lagi kejeniusan Drucker dalam memprediksi masa depan ditunjukkan melalui ucapannya sebagaimana dikutip di awal tulisan ini, “The leader of the past was a person who knew how to tell. The leader of the future will be a person who knows how to ask”. Kurang lebih artinya “Pemimpin masa lalu adalah seseorang yang tahu bagaimana memberitahu. Pemimpin masa depan adalah seseorang yang tahu bagaimana cara bertanya.” Apa maksud Drucker?
Continue reading

3 Kesalahan Memilih Manajer

3 kesalahan memilih manajerKepantasan beberapa nama yang ditunjuk pemerintah untuk menempati posisi direksi dan komisaris sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diperdebatkan.

Sejumlah pihak menganggap bahwa kementerian BUMN telah melanggar praktik pemerintahan yang baik dengan menunjuk orang-orang yang tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengisi posisi strategis di beberapa perusahaan pelat merah.

Lebih jauh, menurut menurut mereka jabatan strategis semestinya tidak diisi dengan orang-orang yang coba-coba. Jika tetap dipaksakan, maka hasilnya juga pasti coba-coba.

Di sisi lain, pemerintah melalui Menteri BUMN Rini M. Soemarno juga sudah berupaya menjelaskan bahwa direksi dan komisaris yang ditunjuk adalah orang-orang yang sudah teruji integritasnya serta memiliki pendidikan dan pengalaman yang memadai. Integritas adalah yang paling penting, terutama untuk jabatan komisaris karena merekalah nanti yang akan menjadi pengawas jalannya perusahaan.
Continue reading

Gaya Komunikasi Agresif, Efektifkah?

komunikasi agresif BUMNDi tengah serunya perdebatan di berbagai media massa terkait pro & kontra gaya komunikasi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau “Ahok” yang dianggap sebagian orang terlalu vulgar, beberapa hari yang lalu sebuah stasiun radio swasta di Jakarta mengajukan pertanyaan yang cukup menggelitik para pendengar, “Apa yang Anda rasakan saat mengekspresikan rasa marah Anda secara verbal dengan menggunakan kata-kata kasar pada lawan bicara?” dan “Bagaimana pula perasaan Anda sesudahnya?”

Komentar para pendengar cukup beragam. Mayoritas berujar bahwa pada saat marah mereka memang tidak bisa mengontrol pilihan kata yang keluar. Bahkan ada yang memberi labelling nama-nama hewan kepada lawan bicaranya. Pada saat marah, mereka memang merasakan kelegaan. Seolah-olah beban berat berkurang. Perasaan tidak puas dan rasa tidak suka pun terlampiaskan.
Continue reading

3 Jurus Jitu Mengelola Atasan Anda

manage-your-bossAda satu pertanyaan yang hampir selalu muncul saat saya memberikan pelatihan kepemimpinan. Pertanyaannya klasik. Bahkan saya bisa katakan sangat klasik malah! Kenapa? Pertama, karena pertanyaannya relatif itu-itu juga. Kedua, diajukan oleh peserta dari berbagai latar belakang perusahaan, industri, level jabatan, lama kerja dan latar belakang pendidikan. Jangan tanya soal gender. Pasti juga beda. Lalu seperti apa pertanyaannya?

Pertanyaanya kurang lebih berbunyi seperti ini, “Pak, oke tadi Bapak sudah menguraikan bagaimana cara memimpin bawahan. Lha, kalau saya di posisi bawahan, bagaimana ya caranya memimpin atasan?”
Continue reading

Mengelola Gap Antargenerasi: Gen X dan Gen Y

gen-xyBelakangan ini perbincangan seputar “Gen Y” menarik perhatian para praktisi dan akademisi. Gen Y adalah angkatan kerja yang dilahirkan dalam rentang waktu antara 1980-2000. Mereka dikenali sebagai generasi yang memiliki perilaku berbeda dengan generasi sebelumnya, yakni, Baby Boomers dan Gen X.

Oleh sebab itu, Baby Boomers dan Gen X perlu memahami dan mengerti cara mengelola Gen Y dengan tepat. Namun apakah benar bahwa pemahaman dan pengelolaan generasi yang berbeda hanya perlu dikuasai oleh Baby Boomers dan Gen X? Apakah Gen Y tidak perlu memahami dan mengelola generasi sebelumnya?
Continue reading

Mitra Strategis CEO: Impian Semu Administrator SDM

Pada tahun 1997, Dave Ulrich dalam bukunya yang fenomenal berjudul Human Resource Champions, pernah menyatakan bahwa orang-orang yang berkiprah di bidang pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) akan tetap menjadi administrator kepegawaian di dalam perusahaan jika mereka terus menerus memfokuskan diri pada kegiatan tradisional SDM yang tidak secara spesifik didesain untuk kepentingan strategis perusahaan.

Seharusnya, jika pengelola SDM ingin menjadi mitra strategis bagi para Chief Executive Officer (CEO) dalam mengelola bisnis, maka mereka harus berubah dari sekedar mengelola administrasi kepegawaian menjadi pihak yang berperanan dalam penciptaan keunggulan kompetitif perusahaan.

Dua belas tahun sesudah ide itu dilontarkan, bagaimanakah posisi pengelola SDM di perusahaan anda? Sudah menjadi mitra strategis ataukah masih berkutat dengan tugas-tugas adminstratif SDM?
Continue reading

Ada Apa Sesudah Mem-PHK Karyawan Anda?

Peningkatan efisiensi biaya perusahaan sepertinya akan menjadi agenda utama para manajer pada tahun 2009 ini. Kecenderungan ini secara logis dapat dimengerti karena kelesuan ekonomi global secara nyata mengancam kelangsungan hidup banyak perusahaan.

Sebagaimana diketahui, rontoknya perekonomian AS sebagai akibat krisis subprime mortgage telah menimbulkan multiplier effect yang begitu menciutkan nyali: krisis pasar modal, kesulitan likuiditas dunia perbankkan, pelarian modal asing, rontoknya nilai tukar dan rendahnya daya beli konsumen. Pelemahan-pelemahan ini telah menggulung kemampuan jual perusahaan.

Sementara di sisi produksi, harga pokok melambung tinggi menyebabkan perusahaan harus menanggung biaya yang tidak sebanding dengan pendapatan.  Perusahaan multinasional yang sudah berusaha untuk menerapkan prinsip efisiensi saja sudah terpekik, apalagi perusahaan yang lemah dari segi manajemen atau pun yang salah urus.
Continue reading

Memacu Kinerja Bawahan

Dari berbagai kesempatan memfasilitasi pelatihan bagi para manajer dan eksekutif, aspek pengelolaan manusia selalu mendapat sorotan tersendiri.

Umumnya para manajer dan eksekutif menyadari bahwa pengelolaan manusia sangat penting bagi penciptaan efektivitas dan efisiensi di unit kerja dan organisasi masing-masing.

Tapi masalah dan pertanyaan klasik selalu muncul: “Saya punya bawahan, tapi kurang semangat bekerja” atau “Saya memiliki bawahan yang rajin tapi kurang terampil” dan “Saya punya bawahan yang pintar, tapi perilakunya tidak sesuai dengan harapan. Apa yang harus saya dilakukan?”

Umumnya solusi yang diimplementasikan oleh mereka adalah dengan menyerahkan bawahan yang “bermasalah” tersebut ke Departemen SDM atau sekarang banyak perusahaan yang menyebutnya sebagai Divisi Human Capital Development.
Continue reading