Apakah Industri Masih Butuh Fungsi Pendidikan Formal?

Beberapa tahun terakhir, dunia dikagetkan dengan keprihatinan sejumlah kalangan terhadap hubungan dunia industri dengan pendidikan. Realitas ini bermula dari kegusaran beberapa pakar pendidikan pasca Google dan salah satu konsultan bisnis bertaraf global mengunggah iklan lowongan pekerjaan yang secara eksplisit meniadakan fungsi sektor pendidikan formal sebagai salah satu syarat mutlak dalam membangun keahlian.

Di Indonesia, pandangan pro dan kontra dari sejumlah Guru Besar akan hal ini juga tak kalah maraknya. Kaum yang pesimis dengan kualitas pendidikan formal secara otomatis menyepakati poin-poin tersebut.

Sebaliknya, yang masih menyimpan optimisme malah memandang opini tersebut sebagai tantangan masa depan. Ilmuwan dalam kelompok ini melihat fenomena yang ada sebagai refleksi terbaik untuk segera berbenah menuju sebuah era baru.
Continue reading

Dukungan ArtificiaI Intelligence dalam Inovasi

Inovasi di era digital menjadi keharusan. Namun survei yang dilakukan oleh salah satu  konsultan besar dunia di awal tahun 2018 lalu mengungkapkan bahwa, 71 persen pimpinan puncak perusahaan memandang inovasi sebagai hal yang paling melelahkan.

Beberapa di antaranya bahkan secara eksplisit menyatakan tak jarang pengembalian investasi atau yang lazim dikenal dengan return on investment (ROI) belum mampu mencapai target yang telah ditentukan sebelumnya. Sisanya sebanyak 29 persen masih berharap untuk dapat meraup keuntungan lebih melalui inovasi.

Sejak saat itu, riset-riset di bidang inovasi marak dilakukan tidak lagi sebatas membangun kerangka berpikir terkait bagaimana agar proses tersebut berlangsung secara produktif, namun juga dilakukan dengan menjajaki komponen-komponen lain yang mendukung keberhasilan inovasi. Dua komponen yang ditengarai memiliki kompetensi tersebut adalah big data – data mining dan artificial intelligence.
Continue reading

Masa Depan “Impact-Investing” di Indonesia

Satu tren baru yang kian digemari kalangan milenial adalah impact-investing. Ini merupakan strategi investasi baru di mana sang investor tidak semata-mata meletakkan orientasi keuntungan dari penanaman modalnya.

Namun sebaliknya, beberapa motif bernada idealis seperti komitmen untuk mengembangkan kewirausahaan, kesejahteraan stakeholder serta gerakan nasionalisme yang bertujuan mengenalkan produk-produk lokal ke ranah global merupakan faktor kuat dalam melakukan investasi.

Harvard Business Review, menulis spirit impact-investing diyakini mewarnai proses investasi di sektor nonprofit dalam tiga sampai lima tahun mendatang. Realitas ini sekaligus membuktikan bahwa kesadaran investor untuk melindungi kepentingan sosial sangatlah tinggi. Lalu bagaimana masa depan semangat ini di Indonesia?

Continue reading

Big Data Tingkatkan Akurasi Keputusan Bisnis

Seorang kolega pernah berujar, “Konsumen saat ini semakin sulit dimengerti. Produk-produk yang kita pikir akan menjadi primadona, kini malah tak mudah dipasarkan. Sebaliknya produk yang tak dinomorsatukan malah menjadi penguasa pasar”.

Pemahaman dan penalaman tersebut mungkin juga menjadi pikiran sebagian dari kita. Tak jarang perusahaan mengeluarkan investasi yang sangat besar untuk mendanai promosi produk primadonanya meski hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Bila situasi ini dibiarkan berlarut maka sudah tentu akan mengganggu stabilitas kas perusahaan.

Continue reading

Manajemen Pemulihan Pascabencana

Bumi pertiwi sedang berduka. Belum sepenuhnya pulih dari bencana alam di Lombok, gempa bumi yang disusul tsunami kembali terjadi. Kali ini melanda wilayah Palu dan Donggala. Beberapa pihak mempertanyakan sistem peringatan dini yang sejatinya dapat memberikan informasi sesaat sebelum bencana melanda.

Artikel kali ini tidak membahas itu, namun menyoroti pentingnya strategi pemulihan pascabencana, khususnya di bidang perlindungan hak waris atas setiap aset yang ditinggalkan para pemiliknya. Data resmi dari pihak pemerintah menyebutkan setidaknya terdapat ribuan jiwa melayang. Pada jumlah itu pulalah sangat dimungkinkan terdapat ahli waris yang selamat dari bencana. Namun, tak mudah bagi mereka untuk memberi bukti secara otentik karena hilangnya dokumen dalam bencana.
Continue reading

Pergeseran Paradigma Manajemen

Pada era 80-an konsep manajemen didominasi oleh bagaimana operasional perusahaan mampu mencapai target berupa profit. Beberapa dimensi seperti efisiensi, efektivitas dan produktivitas marak dikaji untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan karakteristik perusahaan.

Alhasil keberhasilan satu perusahaan akan dipakai sebagai benchmark pemain lainnya. Tak jarang bahkan kisah sukses ini dibukukan secara rinci sebagai bahan pembelajaran perusahaan lain (termasuk pesaingnya). Tanpa disadari, fenomena ini berhasil menciptakan sebuah zona nyaman di kalangan pemimpin pasar. Perusahaan-perusahaan pionir menikmati masa-masa kejayaan dengan melupakan bahwa itu semua ada umurnya.

Sejak awal 2000-an kelompok perusahaan yang diposisikan sebagai ‘follower’ terlihat mulai mendominasi persaingan. Belajar dari kelemahan-kelemahan kecil sang pemimpin, para follower ini mulai menghidupkan napas inovasi. Langkah penyempurnaan strategi sang pemimpin kini dipahami sebagai kunci sukses dalam menggeser posisi menjadi pemain utama.

Sejak itulah cara pandang manajemen berubah. Persaingan tidak lagi dilihat sebagai upaya menghilangkan pemain untuk menjadi yang terdepan melainkan sebagai proses pembelajaran menuju kesempurnaan.
Continue reading

Kala Rupiah Lesu

Melemahnya nilai tukar Rupiah masih terus terjadi. Rupiah kini diperdagangkan di level Rp. 14.600,- lebih. Riak turbulensi ekonomi mulai terasa. Salah satunya di industri pangan, sektor yang konon masih didominasi produk impor ini terpaksa menaikkan harga jual produk untuk dapat terus bertahan.

Namun taktik ini tak sepenuhnya jitu. Masyarakat yang tidak mengalami peningkatan pendapatan malah kehilangan daya belinya. Mereka pun berbondong-bondong pindah ke produk substitusi lebih murah, atau bahkan ada pula yang menunda konsumsi atas barang-barang tertentu. Bila situasi ini berlarut, apa saja yang perlu diperbuat agar aksi pelemahan Rupiah tidak terlalu membebani perekonomian keluarga?

Secara konseptual, pengelolaan keuangan keluarga terdiri dari tiga alokasi utama: untuk keperluan konsumsi, tabungan, dan investasi/asuransi. Dalam kondisi ekonomi yang stabil, ketiga alokasi tersebut boleh dikatakan wajar. Namun tidak demikian halnya ketika laju pertumbuhan ekonomi melambat.
Continue reading