Covid-19 Turut Ciptakan Krisis Ekonomi

Hal ini menunjukkan betapa kuatnya daya penyebaran virus ini, tidak hanya di sektor kesehatan dan kondisi sosial masyarakat, namun juga di sisi ekonomi. Kebijakan untuk melakukan social distancing maupun karantina wilayah atau yang dikenal dengan istilah lockdown secara langsung menimbulkan turbulensi ekonomi.

Patut dipahami bahwa kehadiran Covid-19 ini bersamaan dengan kondisi ekonomi global yang tengah melesu. Mengakhiri tahun 2019 lalu, ketegangan akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China belum usai. Demikian pula trend penurunan harga beberapa komoditas seperti minyak bumi. Bak pekerjaan rumah yang belum tuntas, maka corona berhasil menciptakan kepanikan pasar yang cukup berkepanjangan.
Continue reading

Mendampingi Optimisme Masyarakat

Sebagai seorang ilmuwan dan analis pasar, baru kali ini penulis melihat rontoknya bursa efek global dalam waktu yang sangat singkat. Saat pandemi ini tiba di Amerika Serikat tempo lalu, hanya dalam hitungan hari, indeks Nikkei turun sekitar 16 persen. Demikian pula beberapa indeks seperti Dow Jones, juga turun hingga 20 persen. Indeks bursa dalam negeri juga sempat bertengger di posisi 4.000-an setelah di awal Januari dibuka di level 6.000-an.

Aksi global perlemahan indeks bursa ini mencerminkan aksi jual yang masif dilakukan investor, dalam jumlah yang sangat besar. Apakah kepercayaan investor sudah hilang? Atau itu hanya sekadar kepanikan sesaat?

Kita berharap ini hanyalah kepanikan sesaat. Namun jika ditelusuri lebih lanjut ternyata kepanikan itu cukup beralasan. Harus diakui bahwa daya penyebaran virus Covid-19 sangat cepat. Ketika penanganannya kurang tepat maka mutasi virus dari satu orang ke orang lain terjadi begitu cepat. Alhasil, aktivitas bisnis dan ekonomi terpaksa dihentikan hingga pandemi berakhir.
Continue reading

Masa Depan Toko Luring

Melihat perkembangan bisnis daring (on-line) di beberapa negara saat ini, satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana masa depan dari bisnis properti dan toko luring (offline)? Penelitian yang dilakukan di Italia, Inggris, dan Polandia menunjukkan tren penurunan angka penjualan.

Hanya gerai fisik di bidang kuliner sajalah yang masih membukukan tren pertumbuhan positif. Uniknya, kejadian serupa juga dialami di Hongkong dan Taiwan. Pertumbuhan pasar daring secara perlahan mulai menggerus omzet penjualan toko luring.
Continue reading

Berefleksi pada Virus Korona

Sampai dengan tulisan ini diturunkan, virus korona telah memakan korban sebanyak lebih dari 106 jiwa dengan setidaknya terdapat 2.900 kasus di seluruh dunia. Meski angka penderita virus ini di Indonesia masih rendah, belajar dari bagaimana sejumlah negara menghadapi virus ini kiranya menjadi hal yang sangat penting.

Untuk tujuan menahan laju merebaknya virus ke seluruh dunia, pemerintah dari sejumlah negara memberikan larangan bagi warga negaranya dalam melakukan kunjungan ke wilayah-wilayah kritis.

Bagi Tiongkok, realitas merebaknya virus korona ini spontan menciptakan gangguan pada sisi ekonominya. Industri otomotif di beberapa daerah di sana, kini mulai terkena imbasnya. Perusahaan seakan tak mau ambil risiko atas keselamatan karyawannya. Beberapa pabrik otomotif, seperti Honda Motor, diberitakan telah mulai menarik sejumlah karyawannya untuk alasan keselamatan.
Continue reading

Apakah Industri Masih Butuh Fungsi Pendidikan Formal?

Beberapa tahun terakhir, dunia dikagetkan dengan keprihatinan sejumlah kalangan terhadap hubungan dunia industri dengan pendidikan. Realitas ini bermula dari kegusaran beberapa pakar pendidikan pasca Google dan salah satu konsultan bisnis bertaraf global mengunggah iklan lowongan pekerjaan yang secara eksplisit meniadakan fungsi sektor pendidikan formal sebagai salah satu syarat mutlak dalam membangun keahlian.

Di Indonesia, pandangan pro dan kontra dari sejumlah Guru Besar akan hal ini juga tak kalah maraknya. Kaum yang pesimis dengan kualitas pendidikan formal secara otomatis menyepakati poin-poin tersebut.

Sebaliknya, yang masih menyimpan optimisme malah memandang opini tersebut sebagai tantangan masa depan. Ilmuwan dalam kelompok ini melihat fenomena yang ada sebagai refleksi terbaik untuk segera berbenah menuju sebuah era baru.
Continue reading

Dukungan ArtificiaI Intelligence dalam Inovasi

Inovasi di era digital menjadi keharusan. Namun survei yang dilakukan oleh salah satu  konsultan besar dunia di awal tahun 2018 lalu mengungkapkan bahwa, 71 persen pimpinan puncak perusahaan memandang inovasi sebagai hal yang paling melelahkan.

Beberapa di antaranya bahkan secara eksplisit menyatakan tak jarang pengembalian investasi atau yang lazim dikenal dengan return on investment (ROI) belum mampu mencapai target yang telah ditentukan sebelumnya. Sisanya sebanyak 29 persen masih berharap untuk dapat meraup keuntungan lebih melalui inovasi.

Sejak saat itu, riset-riset di bidang inovasi marak dilakukan tidak lagi sebatas membangun kerangka berpikir terkait bagaimana agar proses tersebut berlangsung secara produktif, namun juga dilakukan dengan menjajaki komponen-komponen lain yang mendukung keberhasilan inovasi. Dua komponen yang ditengarai memiliki kompetensi tersebut adalah big data – data mining dan artificial intelligence.
Continue reading

Masa Depan “Impact-Investing” di Indonesia

Satu tren baru yang kian digemari kalangan milenial adalah impact-investing. Ini merupakan strategi investasi baru di mana sang investor tidak semata-mata meletakkan orientasi keuntungan dari penanaman modalnya.

Namun sebaliknya, beberapa motif bernada idealis seperti komitmen untuk mengembangkan kewirausahaan, kesejahteraan stakeholder serta gerakan nasionalisme yang bertujuan mengenalkan produk-produk lokal ke ranah global merupakan faktor kuat dalam melakukan investasi.

Harvard Business Review, menulis spirit impact-investing diyakini mewarnai proses investasi di sektor nonprofit dalam tiga sampai lima tahun mendatang. Realitas ini sekaligus membuktikan bahwa kesadaran investor untuk melindungi kepentingan sosial sangatlah tinggi. Lalu bagaimana masa depan semangat ini di Indonesia?

Continue reading

Big Data Tingkatkan Akurasi Keputusan Bisnis

Seorang kolega pernah berujar, “Konsumen saat ini semakin sulit dimengerti. Produk-produk yang kita pikir akan menjadi primadona, kini malah tak mudah dipasarkan. Sebaliknya produk yang tak dinomorsatukan malah menjadi penguasa pasar”.

Pemahaman dan penalaman tersebut mungkin juga menjadi pikiran sebagian dari kita. Tak jarang perusahaan mengeluarkan investasi yang sangat besar untuk mendanai promosi produk primadonanya meski hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Bila situasi ini dibiarkan berlarut maka sudah tentu akan mengganggu stabilitas kas perusahaan.

Continue reading

Manajemen Pemulihan Pascabencana

Bumi pertiwi sedang berduka. Belum sepenuhnya pulih dari bencana alam di Lombok, gempa bumi yang disusul tsunami kembali terjadi. Kali ini melanda wilayah Palu dan Donggala. Beberapa pihak mempertanyakan sistem peringatan dini yang sejatinya dapat memberikan informasi sesaat sebelum bencana melanda.

Artikel kali ini tidak membahas itu, namun menyoroti pentingnya strategi pemulihan pascabencana, khususnya di bidang perlindungan hak waris atas setiap aset yang ditinggalkan para pemiliknya. Data resmi dari pihak pemerintah menyebutkan setidaknya terdapat ribuan jiwa melayang. Pada jumlah itu pulalah sangat dimungkinkan terdapat ahli waris yang selamat dari bencana. Namun, tak mudah bagi mereka untuk memberi bukti secara otentik karena hilangnya dokumen dalam bencana.
Continue reading

Pergeseran Paradigma Manajemen

Pada era 80-an konsep manajemen didominasi oleh bagaimana operasional perusahaan mampu mencapai target berupa profit. Beberapa dimensi seperti efisiensi, efektivitas dan produktivitas marak dikaji untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan karakteristik perusahaan.

Alhasil keberhasilan satu perusahaan akan dipakai sebagai benchmark pemain lainnya. Tak jarang bahkan kisah sukses ini dibukukan secara rinci sebagai bahan pembelajaran perusahaan lain (termasuk pesaingnya). Tanpa disadari, fenomena ini berhasil menciptakan sebuah zona nyaman di kalangan pemimpin pasar. Perusahaan-perusahaan pionir menikmati masa-masa kejayaan dengan melupakan bahwa itu semua ada umurnya.

Sejak awal 2000-an kelompok perusahaan yang diposisikan sebagai ‘follower’ terlihat mulai mendominasi persaingan. Belajar dari kelemahan-kelemahan kecil sang pemimpin, para follower ini mulai menghidupkan napas inovasi. Langkah penyempurnaan strategi sang pemimpin kini dipahami sebagai kunci sukses dalam menggeser posisi menjadi pemain utama.

Sejak itulah cara pandang manajemen berubah. Persaingan tidak lagi dilihat sebagai upaya menghilangkan pemain untuk menjadi yang terdepan melainkan sebagai proses pembelajaran menuju kesempurnaan.
Continue reading