Pemimpin Otentik Dibangun Melalui Pengalaman

Demam Pilkada yang memilih 171 kepala daerah Juni lalu masih belum reda. Tentu kita berharap bahwa yang kita pilih adalah pemimpin yang genuine, yang seperti iklan politiknya, yang konsisten antara apa yang dikatakan dengan yang dia kerjakan. Dengan kata lain, kita berharap agar yang kita pilih tersebut adalah betul-betul pemimpin yang otentik.

Berbeda dengan teori kepemimpinan lama, yang berorientasi pada “gaya” kepemimpinan, termasuk teori tentang “tokoh besar (the great man theory) dan kepemimpinan berbasis kompetensi (competency-based leadership), kepemimpinan otentik ini lebih banyak dijelaskan melalui proses (transformasi) dalam pembentukan atau pengembangannya.

Dalam monograf mengenai kepemimpinan otentik yang terbit tahun 2005, Alvolio, Gardner, dan Walumbwa (2005) bersepakat bahwa kepemimpinan otentik adalah pendekatan terhadap kepemimpinan yang menekankan pentingnya membangun legitimasi pemimpin melalui hubungan yang jujur dengan pengikut, yang menghargai masukan mereka, dan dibangun di atas landasan etika. Margarita Mayo, seorang profesor ahli kepemimpinan dalam bukunya, Yours Truly (2018), mengatakan bahwa pemimpin otentik adalah orang-orang positif dengan konsep diri yang jujur yang mempromosikan keterbukaan.

Continue reading

Disruptive Innovation, Pelajaran Apa yang Bisa Dipetik?

Dalam artikel di atas, Bower dan Christensen menyampaikan hasil riset yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar dan pemimpin pasar sulit mempertahankan posisinya ketika ada perubahan pada teknologi dan pasar.

Hasil riset tersebut terdengar aneh, karena perusahaan besar apalagi pemimpin pasar biasanya memiliki kemampuan luar biasa untuk melakukan investasi pada teknologi terkini. Masalahnya, investasi pada teknologi ini adalah untuk menghasilkan inovasi-inovasi yang diharapkan akan memuaskan pelanggan lama atau pasar mainstream dengan kebutuhan yang sudah dikenal oleh perusahaan. Inovasi yang hanya memuaskan pelanggan lain atau pasar yang baru bertumbuh tidak dilirik, bahkan kebanyakan “dibunuh.”
Continue reading

Modal Sosial, Modal Inovasi Perusahaan

Dalam perusahaan, modal sosial adalah modal yang luar biasa penting. Apalagi bila perusahaan membutuhkan modal khusus untuk menghasilkan nilai dalam bentuk inovasi. Bagaimana bisa begitu?

Modal sosial yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sumber daya khusus yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Sumber daya ini sering juga disebut sebagai relational resources, atau sumber daya yang terdapat dalam relasi antar manusia – antar individu dan/atau kelompok – yang bermanfaat bagi individu atau kelompok dalam organisasi untuk mengembangkan diri atau kelompoknya.

Di dalam perusahaan atau kelompok perusahaan, modal sosial menjadi sumber daya yang sangat berharga. Pertama, karena modal sosial yang besar dapat menjadi landasan kuat untuk bekerja dengan produktif. Misalnya perusahaan Jepang, mereka terkenal sebagai perusahaan dengan sumber daya manusia yang sangat produktif karena modal sosialnya besar.

Krisis ekonomi yang melanda Jepang tidak menggoyahkan disiplin kerja dan kebiasaan kerja keras di perusahaan-perusahaan di Jepang karena tingkat kepercayaan, norma timbal balik (saling menghormati; saling memberi semangat), dan jejaring sosial yang ada mampu meredam kegalauan para pekerja dan eksekutifnya.

Kedua, modal sosial merupakan sumber daya yang berharga karena hubungan antar manusia dalam satu perusahaan memiliki kekhasan dibandingkan perusahaan lain. Ini bukan soal perbedaan bidang bisnis atau jenis perusahaan; hotel versus pabrik atau multinasional versus BUMN. Seperti sebuah rumah dengan para penghuninya, setiap perusahaan juga memiliki kekhasan dalam pola hubungan anggotanya. Dengan demikian, sumber daya yang khas tersebut bisa merupakan sumber daya berharga untuk menciptakan keunikan yang menjual, atau inovasi.

Yang ketiga, modal sosial dalam perusahaan akan memfasilitasi kegiatan pertukaran dan kombinasi pengetahuan satu pihak dengan pihak lain. Dalam prinsip knowledge management, inovasi diperoleh melalui kombinasi antara pengetahuan lama yang sudah dimiliki dengan pengetahuan baru, atau kombinasi antara pengetahuan-pengetahuan baru. Dengan hubungan baik, saling percaya, saling menghormati, individu dan kelompok atau unit kerja dalam perusahaan bersedia saling bertukar pengetahuan, juga mengombinasikan pengetahuan-pengetahuan untuk menghasilkan inovasi. Misalkan dalam bentuk kemampuan baru, cara kerja baru, cara pandang baru, atau produk baru.

Lebih lanjut mengenai modal sosial, untuk mengelolanya harus dipahami bahwa modal sosial dalam perusahaan memiliki tiga dimensi. Dengan memahami ketiga dimensi tersebut, kita bisa lebih memahami bagaimana modal sosial bisa menjadi modal penting bagi inovasi di perusahaan. Ketiga dimensi tersebut adalah: struktural, relasional, dan kognitif.

Dimensi struktural dari modal sosial merupakan interaksi sosial yang terjadi antara anggota organisasi dengan mempertimbangkan posisi anggota atau aktor dalam jejaring sosial. Misalnya, seorang supervisor akan berbeda interaksi sosialnya dengan seorang manajer senior, berbeda pula dengan seorang operator forklift. Seorang yang bekerja di unit hubungan masyarakat akan berbeda interaksi sosialnya dengan orang lain yang bekerja di unit riset dan pengembangan.

Posisi relatif seseorang atau kelompok dibandingkan dengan orang atau kelompok lain bisa membuat aliran informasi dan pengetahuan berbeda dalam hal jumlah dan kualitas. Oleh sebab itu, interaksi sosial antar individu dan kelompok dalam perusahaan penting dilakukan agar orang atau kelompok dapat saling bertukar informasi dan pengetahuan yang relevan.

Dalam konteks perusahaan, unit-unit penjualan yang banyak berinteraksi dengan pelanggan akan banyak memperoleh aliran informasi. Bahkan bila unit penjualan terlibat dalam implementasi di perusahaan pelanggan, yang mengalir bukan sekedar informasi melainkan pengetahuan yang kemudian diteruskan ke unit-unit lain seperti unit desain atau produksi.

Di perusahaan multibisnis, pengetahuan-pengetahuan baru dapat mengalir melalui interaksi perusahaan-perusahaan anak dengan pasar atau pelanggan lokal yang kemudian dibagi ke unit-unit bisnis lain. Suatu keberhasilan yang dialami oleh satu unit bisnis, kemudian ditularkan sebagai best practices ke unit-unit bisnis lain untuk digunakan sebagai solusi atas permasalahan serupa tanpa harus mengalami kerugian.

Dimensi kedua modal sosial adalah relasional yang merujuk pada aset yang terdapat dalam hubungan antar manusia, yaitu kepercayaan (trust) dan kelayakan untuk dipercaya (trustworthiness). Fondasi bisnis adalah kepercayaan, apalagi untuk menghasilkan inovasi yang sering harus melewati tahap trial and error. Berapa lama waktu yang direlakan oleh perusahaan demi menghasilkan inovasi? Berapa besar investasi yang dikeluarkan untuk proyek inovasi yang belum tentu hasilnya?

Trust dan trustworthiness dalam dimensi relasional seperti juga dimensi struktural, sangat menentukan jumlah dan kualitas aliran informasi serta pengetahuan. Kesediaan orang untuk berbagi pengetahuan bergantung pada seberapa percaya yang bersangkutan pada pihak lain sebagai penerima pengetahuan.

Tidak berhenti sampai disitu, walau sudah menerima pengetahuan baru sekalipun, belum tentu pihak penerima bersedia bertukar pengetahuan atau menggunakan pengetahuan yang baru diakuisisinya itu. Pada situasi ini, sulit sekali dihasilkan aneka ragam inovasi karena masing-masing pihak berkutat dengan pengetahuan yang itu-itu saja atau tidak terjadi sinergi antar unit-unit bisnis karena keengganan berbagi.

Dimensi ketiga dari modal sosial adalah kognitif, yaitu ketentuan bersama atau cara pandang bersama yang menjadi dasar untuk memaknakan suatu situasi dan dasar berperilaku. Misalnya, karena sifat pekerjaannya kelompok di unit penjualan seringkali memiliki cara pandang yang berbeda mengenai insentif dibandingkan kelompok di unit produksi.

Cara berpakaian, pilihan kata, kesantunan, atau berperilaku bisa berbeda karena dimensi kognitif ini juga meliputi norma kelompok dan nilai-nilai yang dipandang sebagai suatu yang benar atau harus diikuti.

Salah satu dampak dari dimensi kognitif adalah visi atau sasaran bersama dalam perusahaan. Bila karyawan bekerja berdasarkan sasaran bersama, yaitu sasaran perusahaan, maka keberbedaan bisa tidak terlalu mengganggu. Pengetahuan saling dipertukarkan dan terjadi upaya-upaya untuk menggunakan atau mengombinasikan pengetahuan sehingga proses kerja menjadi lebih baik dan hasil kerja menjadi lebih efektif. Semua terjadi karena ada pemahaman bersama akan sasaran yang harus dicapai.

Di antara ketiga dimensi modal sosial juga saling berhubungan dan mempengaruhi. Sebagai contoh dimensi struktural dari modal sosial dapat mempengaruhi trust dan trustworthiness dalam dimensi relasional. Tentu orang akan lebih mudah percaya pada sosok yang berhadapan langsung dengan pelanggan, atau pihak yang kebetulan berada di pusat aliran informasi atau pengetahuan.

Dimensi relasional juga berhubungan erat dengan dimensi kognitif, karena nilai-nilai bersama, juga shared vision dari suatu kelompok akan menimbulkan perasaan saling percaya dan keinginan untuk saling membantu demi terwujudnya visi atau sasaran bersama tersebut. Sementara asosiasi antara dimensi struktural dan dimensi kognitif terjadi karena interaksi sosial memainkan peran penting dalam membentuk sasaran atau visi bersama di antara anggota organisasi.

Setelah memahami peran penting modal sosial dalam upaya perusahaan untuk menghasilkan inovasi, perlu juga disadari bahwa modal sosial yang besar dalam perusahaan tidak selalu positif.

Studi pada beberapa perusahaan di Indonesia menunjukkan adanya modal sosial yang besar namun tidak sejalan dengan sasaran stratejik perusahaan. “Permufakatan jahat” terjadi di antara karyawan, termasuk eksekutifnya yang berujung pada tindakan-tindakan merugikan bagi perusahaan. Oleh sebab itu, selain menyadari modal sosial sebagai modal penting dalam upaya menciptakan nilai dalam bentuk inovasi, pihak perusahaan juga perlu berupaya untuk mengelolanya melalui ketiga dimensi modal sosial yang diuraikan di atas.

Oleh: Ningky Sasanti MunirKoordinator Kelompok Keahlian Manajemen Strategi dan Entrepreneurship PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di SWA Online, 10 Maret 2017.

Sindroma Wajah Batu: Ketika Cinta Menghilang dari Pekerjaan

Saya baru kembali dari Mataram untuk menghadiri sebuah pertemuan. Di pesawat udara, pramugari melayani saya dan penumpang sederetan bangku saya tanpa senyum segaris pun. Ucapan terimakasih yang disampaikan oleh seorang ibu tidak dibalas, dan gula sachet diberikan pada tetangga saya dengan tangan kiri, tanpa melihat.

Segera si mbak pramugari menjadi obyek perhatian saya. Ternyata, bukan kepada kami saja pramugari ini menyimpan senyum dan kesopanannya, tetapi juga kepada seantero penumpang. Mungkin si mbak sedang tidak in the mood atau sedang sakit gigi. Ya Sudahlah.

Di hotel yang cukup mewah di kawasan Senggigi, kami para peserta simposium dibiarkan menunggu, sementara resepsionis mengobrol dengan temannya. Setelah mengobrol, dia mengangkat telepon yang berdering, sementara temannya ngeloyor pergi. Oke, kami kembali menunggu sambil mengobrol, berkenalan antar peserta simposium. Kemudian si resepsionis tadi meletakkan telepon dan pergi. Lho memangnya kami semua ini makhluk halus yang tidak terlihat olehnya? Seorang Bapak yang paling pendiam di antara kami, menggebrak meja, membentak-bentak dan ya ternyata hasilnya cukup efektif juga, karena kami segera dilayani.

Continue reading

Pentingnya Kisah Perusahaan

NKY xl-axisPada tahun 2014, XL resmi mengakuisisi Axis dan menyelesaikan proses integrasi atau merger kedua perusahaan dengan mulus. Selama hampir 18 bulan saya terlibat dalam tim yang mengabadikan suka duka akuisisi dan merger senilai 865 juta dolar Amerika itu ke dalam sebuah buku. Sebelumnya saya juga terlibat dalam penulisan buku mengenai transformasi perusahaan BUMN IPC (Indonesia Port Corporation) II atau PT Pelindo 2. Setelah buku-buku itu ditulis, dilakukan serangkaian bedah buku di dalam dan di luar perusahaan. Para tokoh dalam buku, turut menghidupkan diskusi yang selalu hangat.

Di kelas pelatihan sebagai bagian dari program pengembangan manajemen (MDP: Management Development Program) dan program magister manajemen, sesi bedah buku, analisis kasus bisnis, serta sesi berbagi pengalaman dari seorang eksekutif hampir selalu menarik. Rangkaian kejadian yang dituangkan secara sistematis dalam buku, kasus bisnis, maupun penjelasan langsung dari sang tokoh membuat orang lebih memahami latar belakang dan kiat sukses – atau penyebab gagal – suatu corporate action. Kisah-kisah itu bisa menginspirasi secara positif. Itu sebabnya kisah sangat penting bagi perusahaan.
Continue reading

Menjaga Kelangsungan Bisnis Keluarga

warung tinggi koffiePara penggemar kopi di Jakarta pasti tahu yang namanya warung kopi Koffie Warung Tinggi dan Bakoel Koffie. Konsumen bisa merasakan nikmatnya Koffie Peranakan ditemani Martabak Toblerone di Koffie Warung Tinggi yang berlokasi di mal megah Grand Indonesia, atau sedapnya Kopi Tubruk dan Singkong Meledug di Bakoel Koffie dekat kantor saya di Cikini.

Yang istimewa pada kedua warung kopi ini tidak hanya kopinya, tetapi juga pada akar sejarahnya yang sama-sama berasal dari sebuah warung kopi di jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, tahun 1870-an. Warung kopi yang didirikan oleh Liauw Tek Siong itu dikenal dengan nama toko penggorengan Kopi Tek Sun Ho. Setelah 145 tahun, generasi keempat dan kelima keluarga Liauw Tek Siong masih memiliki dan mengelola warung kopi.

Bandingkan dengan ikon modern warung kopi dunia, Starbucks misalnya, yang membuka warung pertamanya baru pada tahun 1971 di kota Seattle, Amerika Serikat. Jadi, Apa resep hidup panjang dari perusahaan-perusahaan keluarga?
Continue reading

Pembentukan dan Pengembangan Pengetahuan dalam Bisnis Keluarga

tumblr_static_family-business-paris-blog3Kebanyakan perusahaan raksasa di Indonesia awalnya, bahkan hingga kini adalah perusahaan keluarga, yaitu perusahaan yang didirikan, dimiliki, dan sebagian dikelola oleh pendiri dan keluarganya.

Dari sudut pandang manajemen pengetahuan, entitas bisnis adalah kumpulan dari pengetahuan. Studi mengenai perusahaan keluarga di Indonesia menunjukkan adanya kekhasan dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan dalam perusahaan keluarga dibandingkan perusahaan yang tidak dimiliki oleh keluarga.

Seperti yang sudah umum diketahui, ada dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan eksplisit dan pengetahuan terbatinkan (tacit knowledge). Pengetahuan eksplisit dalam bentuk dokumen, rumus, resep, video, buku, artikel, dan sejenisnya mudah disimpan, juga bisa mudah diajarkan atau diberikan ke pihak lain.
Continue reading